Warga Korsel di Luar Negeri yang Diadopsi Semasa Anak-Anak Tuntut Investigasi

Hampir 400 orang keturunan Korea Selatan yang diadopsi semasa anak-anak telah meminta Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Korea Selatan untuk menyelidiki adopsi mereka melalui pendaftaran yang tenggatnya hari Jumat (9/12). Sementara itu Seoul menghadapi tekanan yang kian besar untuk menangani kehebohan ekspor anak yang digerakkan oleh diktator yang memerintah Korea Selatan hingga tahun 1980-an. Lebih dari 60 orang yang diadopsi, yang berasal dari AS, Eropa dan Australia, mendaftarkan tuntutan itu kepada Komisi pada hari Jumat. Mereka mengklaim bahwa adopsi mereka didasarkan pada dokumen palsu yang menghapus status atau identitas mereka semasa anak-anak sementara banyak lembaga adopsi berlomba mengirim ribuan anak-anak keluar negara itu setiap tahun. Komisi Kebenaran, Kamis (8/12) mengatakan memutuskan untuk menyelidiki 34 kasus dari 51 orang pertama yang mendaftarkan tuntutan mereka pada bulan Agustus, yang kemungkinan dapat berkembang menjadi penyelidikan paling luas di Korea Selatan mengenai adopsi di luar negeri. Para pejabat komisi mengatakan investigasi itu hampir pasti akan meluas karena mereka percaya bahwa buktinya jelas, adopsi itu difasilitasi melalui dokumen palsu yang menghilangkan status atau identitas anak-anak itu. Ke-34 orang yang diadopsi, yang kasusnya diterima komisi itu, ditempatkan melalui lembaga Holt Children’s Services dan Korea Social Service. Investigasi komisi itu juga pada akhirnya akan mencakup lembaga Eastern Social Welfare Society dan Korea Welfare Services jika komisi menerima kasus-kasus yang diajukan pada hari Jumat oleh mereka yang diadopsi di AS, Australia dan Swedia. Jasmine Healey, yang mewakili sekelompok orang yang dikirim ke AS dan Australia melalui Eastern, mengatakan dalam konferensi pers di Seoul, sudah biasa bagi anak adopsi dari Eastern untuk akhirnya mengetahui bahwa mereka dibuat menjadi “anak yatim di atas kertas” oleh lembaga itu untuk memfasilitasi adopsi mereka di luar negeri. “Kami menganggap sebagai manusia kami berhak untuk mengetahui asal usul dan latar belakang kami,” kata Healey. Ada juga kasus-kasus di mana Eastern diduga memperdaya keluarga kandung anak yang diadopsi, yang tidak pernah memberi persetujuan pengadopsian itu, atau anak adopsi dibesarkan dengan identitas anak lainnya, yang membuat beberapa orang dipersatukan kembali bukan dengan keluarga mereka. [uh/lt]