Taliban Pastikan Keberlangsungan Tim Kriket Perempuan Afghanistan

Seorang pejabat tinggi Taliban memastikan bahwa para pemain kriket perempuan di negara itu akan tetap bisa bermain olahraga tersebut. Kepastian itu disampaikan ketika negara di Asia Selatan itu menghadapi risiko isolasi internasional pasca kembali berkuasanya Taliban sejak 15 Agustus lalu, yang menimbulkan kekhawatiran bahwa perempuan dilarang ikut serta dalam tim olahraga. “Gadis-gadis kami akan terus bermain kriket secara normal, dan kami akan menyediakan kebutuhan dasar dan semua fasilitas yang mereka butuhkan,” ujar Mirwais Ashraf, penjabat kepala Dewan Kriket Afghanistan (ACB), sebagaimana dikutip dalam sebuah pertemuan internal. Berdasarkan pernyataan tertulis ACB yang dikeluarkan pada Selasa (23/11), Ashraf menggarisbawahi pengembangan tim kriket perempuan merupakan persyaratan utama untuk tetap menjadi anggota Dewan Kriket Internasional (ICC), dan mereka berkomitmen mencapai hal itu. Pekan lalu ICC mengumumkan sedang mempersiapkan kelompok kerja untuk mengkaji masa depan program kriket di Afghanistan di bawah kepemimpinan Taliban. “Dewan ICC berkomitmen untuk terus mendukung kriket Afghanistan untuk mengembangkan tim kriket laki-laki dan perempuan,” ujar Ketua ICC Greg Barclay dalam sebuah pernyataan ketika mengumumkan pembentukan kelompok kerja. Ia menambahkan bahwa “kami yakin salah satu cara paling efektif untuk mewujudkan hal ini adalah dengan mendukung anggota kami dalam upayanya  mencapai target ini melalui hubungan dengan pemerintahan baru Taliban.”​ Tim Kriket Laki-Laki Afghanistan Tuai Pujian Kebangkitan tim kriket laki-laki Afghanistan dalam waktu singkat, meskipun bertahun-tahun negara itu dilanda perang dan dililit kemiskinan parah, telah memenangkan pujian internasional. “Kita harus melindungi status itu dan terus mencoba melakukan perubahan di ACB, sambil terus memantau dengan cermat situasi yang ada dan mengambil keputusan yang sesuai,” ujar Barclay. Skeptimisme Dunia Taliban telah berupaya meyakinkan dunia internasional bahwa mereka tidak akan menerapkan kembali aturan Islam yang keras, yang sempat diberlakukan pemerintahan Taliban sebelumnya pada periode pemerintahan 1996-2001. Ketika itu perempuan dilarang meninggalkan rumah kecuali ditemani kerabat dekat laki-laki mereka, dan sebagian besar perempuan tidak bersekolah. Pemerintah Taliban saat ini telah mengijinkan anak laki-laki untuk kembali ke sekolah sejak September lalu, tetapi memerintahkan anak perempuan untuk tetap tinggal di rumah hingga ada pengaturan lebih lanjut untuk kembali ke kelas “dalam lingkungan yang aman.” Keputusan itu langsung memicu kecaman dari dunia internasional. Taliban kemudian mengijinkan anak perempuan di beberapa provinsi kembali bersekolah dan jumlahnya mulai meningkat. Para pengecam tetap skeptis soal apakah kelompok garis keras itu akan tetap memenuhi komitmennya untuk melindungi hak asasi manusia, terutama perempuan dan anak perempuan. Awal pekan ini Taliban memerintahkan saluran televisi negara itu untuk menghentikan siaran program hiburan, drama dan film yang menampilkan artis perempuan. Keputusan itu mengatakan presenter atau penyiar perempuan harus mengenakan jilbab sesuai dengan interpretasi Taliban tentang hukum Islam atau syariah Islam. [em/lt]