PM Inggris: Virus Corona Varian Baru Bisa Jadi 'Gangguan Serius'

Perdana Menteri Boris Johnson, Jumat (14/5) menyatakan Inggris akan melanjutkan rencana untuk melonggarkan lockdown hari Senin mendatang meski ada kekhawatiran atas meningkatnya kasus virus corona yang disebabkan oleh varian baru yang pertama kali diidentifikasi di India. Berbicara dalam sebuah briefing di Downing Street, Johnson mengungkapkan "tidak ada bukti" kasus baru yang berpotensi menekan sistem layanan kesehatan Inggris dan pemerintah akan melanjutkan langkah ketiga dari pelonggaran lockdown tersebut. Namun, Perdana Menteri Inggris itu memperingatkan varian baru tersebut dapat menimbulkan "gangguan serius" dalam sejumlah rencana untuk mencabut aturan pembatasan lebih lanjut pada 21 Juni 2021. "Persaingan antara program vaksinasi dan virus itu sendiri mungkin akan semakin ketat," kata Johnson mengacu pada lonjakan infeksi yang disebabkan varian baru. Boris Johnson mendesak masyarakat untuk terus mendapatkan vaksinasi sekaligus menyatakan Inggris akan mempercepat pemberian dosis kedua vaksin kepada kelompok usia di atas 50 tahun dan mereka yang secara klinis rentan. Mulai hari Senin (17/4), sebagian besar restoran, bar, dan museum akan dibuka kembali, dan masyarakat dapat bersosialisasi di dalam ruangan. Ini adalah langkah terbesar untuk membuka kembali negara itu menyusul penurunan tajam infeksi baru dan jumlah kematian. Hampir 38 juta warga, sekitar 68% dari penduduk dewasa di Inggris, telah mendapatkan dosis vaksin pertama mereka. Hampir 19 juta orang sudah memperoleh kedua dosis vaksin tersebut. Para ahli menyatakan National Health Service dapat menarget masyarakat dan dengan mudah mengidentifikasi mereka yang paling berisiko karena hampir semua warga terdaftar di dokter umum setempat. Angka kematian harian akibat COVID di Inggris mengalami penurunan menjadi kurang dari 10 orang dalam beberapa hari terakhir. [mg/pp]