Pelonggaran Kebijakan COVID Bawa Perubahan Besar di China

Dalam langkah yang mengejutkan banyak orang, China mengumumkan pelonggaran besar-besaran berbagai restriksi nol-COVID-nya yang kaku, tanpa secara resmi meninggalkan kebijakan tersebut. Tidak jelas apa yang tepatnya mendorong langkah itu, meskipun ini diambil menyusul aksi penentangan terbesar dalam 30 tahun lebih terhadap Partai Komunis yang berkuasa oleh warga yang muak dengan tes terus menerus, karantina, pembatasan perjalanan, lockdown dan penutupan bisnis. Perubahan paling signifikan adalah mengizinkan orang-orang yang dites positif COVID-19 namun tidak menunjukkan gejala atau memiliki gejala ringan untuk memulihkan diri di rumah, membatasi lockdown ke lantai-lantai tertentu di apartemen atau bangunan lainnya dan bukan memberlakukannya secara luas, mengurangi ketentuan tes virus pada orang-orang yang bepergian di dalam negeri dan memasuki fasilitas-fasilitas umum. Kota-kota besar seperti Beijing dan Shanghai telah mengumumkan bahwa warga tidak akan perlu menunjukkan sertifikat tes negatif dan kode kesehatan untuk datang ke sana. Setelah tiba, mereka tidak perlu lagi menjalani inspeksi saat pendaratan. Stasiun Kereta Api Selatan Beijing mengalami peningkatan penumpang pada hari Kamis (8/12). “Kami telah merugi banyak dalam tiga tahun terakhir, karena tidak ada pelanggan. Saya sudah lama ingin terlepas dari ini, kata seorang pemilik restoran di Beijing bernama keluarga Hu. “Ini tren yang tidak terelakkan,” kata Xin Guijun, warga Beijing yang berusia 70 tahun. “Kita harus terbebas dari ini cepat atau lambat, dan kita tidak bisa selalu terpaku pada peraturan-peraturan sebelum ini.” Xin menunjukkan bahwa mulai sekarang warga harus mengandalkan diri sendiri untuk berlindung dari virus. Langkah-langkah baru itu kemungkinan besar perlu beberapa waktu untuk dapat diterapkan dan meninggalkan ruang gerak yang cukup untuk mempertahankan beberapa restriksi. Yang Guang Wei, pensiunan berusia 64 tahun, prihatin karena kebijakan dari tingkat tertinggi di pemerintahan dapat dengan mudah diabaikan atau diselewengkan oleh otoritas di tingkat lebih rendah. Kebijakan nol-COVID telah disebut-sebut sebagai keberhasilan Presiden Xi Jinping, dan Partai Komunis enggan menarik atau mengakui kesalahan, sehingga sebagian orang mengemukakan pernyataan bahwa China secara bertahap akan menerapkan pendekatan “nol-COVID yang sekadar nama.” Ini akan memberi China kewenangan untuk memberlakukan kembali kontrol yang dianggap perlu serta menghukum para penentang dan kritikus dari kalangan masyarakat umum, cendekiawan, komunitas bisnis dan bahkan atlet. [uh/lt]