Mahkamah Agung AS Pertimbangkan Pulihkan Hukuman Mati Pembom Maraton Boston

Mahkamah Agung AS, Rabu (13/10), mendengar argumen dalam upaya pemerintah federal untuk memulihkan hukuman mati pembom Boston Marathon, Dzhokhar Tsarnaev, atas perannya dalam serangan tahun 2013 yang menewaskan tiga orang dan melukai lebih dari 260 lainnya.  Meskipun Presiden Joe Biden menyatakan ingin menghapus hukuman mati di tingkat federal, pemerintahannya memilih untuk melakukan banding yang awalnya diajukan oleh Departemen Kehakiman di bawah pendahulunya Donald Trump. Banding ini diajukan terkait putusan pengadilan  lebih rendah yang membatalkan hukuman mati Tsarnaev.  Tidak ada narapidana federal yang dieksekusi selama 17 tahun sebelum Trump melakukan 13 eksekusi dalam enam bulan terakhir masa jabatannya.  Salah satu isu yang dihadapi sembilan hakim agung adalah apakah perhatian media global pada  pengeboman itu mungkin telah mempengaruhi juri - sebuah pertanyaan yang oleh pengadilan lebih rendah yang dipimpin Hakim Distrik AS George O'Toole didapati tidak cukup dibahas selama proses pemilihan juri.  Hakim Sonia Sotomayor mempertanyakan mengapa juri tidak ditanyai lebih rinci mengenai paparan mereka terhadap liputan media tentang kasus tersebut.  "Ada publisitas pada hari  itu," kata Sotomayor. "Ada publisitas pada hari-hari setelahnya. Ada publisitas tentang apa yang disarankan oleh politisi besar dan lainnya tentang hukuman itu."  Wakil Jaksa Agung Eric Feigin berargumen bahwa pengadilan banding seharusnya membiarkan hukuman mati tetap berlaku, dengan mengatakan seorang hakim pengadilan "mengangkat juri yang tidak memihak yang mendengar banyak bukti tentang tindakan dan motivasi (Tsarnaev) sendiri."  Feigin mengatakan juri "memberikan penilaian baik terhadap teroris yang tanpa ragu mencederai dan melukai orang tak bersalah, termasuk seorang anak laki-laki berusia delapan tahun, untuk melancarkan jihad."  Para hakim agung juga sedang mempertimbangkan apakah O'Toole secara tidak benar tidak menyertakan bukti yang berkaitan dengan  tiga pembunuhan pada tahun 2011  terkait dengan kakak laki-laki Tsarnaev. Pengacara dari Tsarnaev yang sekarang berusia 28 dan 19 tahun ketika  serangan itu, berpendapat  ia memainkan peran sekunder dalam pengeboman saudaranya Tamerlan, yang mereka gambarkan sebagai "tokoh otoriter" dengan "keyakinan ekstremis Islam yang kejam. "  Para korban pengeboman terpecah atas apakah Tsarnaev harus dieksekusi. [my/jm]