Jumlah Kasus Baru Harian COVID-19 di India Turun di Bawah 40.000

Jumlah kasus baru harian COVID di India turun di bawah 40 ribu hari Minggu (11/7). Kementerian Kesehatan India Senin melaporkan bahwa ada 37.154 kasus baru dalam periode 24 jam sebelumnya. Di Korea Selatan, negara itu melaporkan 1.100 kasus baru pada hari Minggu. Peningkatan kasus itu terjadi sementara Korea Selatan memberlakukan restriksi baru di Seoul dan daerah-daerah sekitarnya untuk menghentikan penyebaran infeksi. Sementara itu di Uganda, Chris Baryomunsi, seorang menteri pemerintah, mengatakan, negaranya memiliki uang untuk membeli vaksin tetapi mengalami kesulitan untuk membelinya dari negara-negara Barat. “Ini adalah tantangan ke akses dan kesetaraan,” kata Baryomunsi, yang juga seorang pakar epidemiologi, kepada surat kabar the Guardian. “Kami memiliki uang, tetapi kami tidak dapat memperoleh vaksin … kami harus bergantung pada dunia barat dan dunia barat berfokus pada populasinya. Kesannya adalah orang-orang di sana tidak peduli pada orang-orang Afrika.” Pekan lalu, Dirjen Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus berbicara di University of Nottingham mengenai kesenjangan kesehatan global yang terungkap oleh pandemi. “Pada level global, pandemi telah mengungkap tentang mendalamnya kesenjangan, kurangnya solidaritas dan berbagi: berbagi data penting, berbagi informasi epidemiologi, berbagi sumber daya, teknologi dan perangkat yang diperlukan setiap negara untuk membuat rakyatnya tetap aman.” Ia kemudian menambahkan, “Kita harus mengambil hikmah dari COVID-19. Karena ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Pandemi ini telah berkembang di tengah ketidaksetaraan dan kesenjangan di dalam masyarakat kita, dan mengeksploitasi kesenjangan di dalam sistem kesehatan kita. Ini memperburuk kesenjangan di antara dan di dalam negara-negara. Saat saya berbicara, negara-negara kaya memvaksinasi populasi mereka sementara sebagian besar dunia dibiarkan melihat dan menunggu. Dan kita melihat ketidaksetaraan, ketidakadilan. Lebih dari 70 persen vaksin telah diberikan hanya di 10 negara.” Sementara sebagian besar negara di dunia berjuang untuk memvaksinasi rakyat mereka, Pfizer, perusahaan yang membuat salah satu vaksin, menyatakan, ini waktunya untuk mempertimbangkan suntikan booster untuk melindungi diri dari varian virus corona yang lebih mudah menular. Tetapi Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) dan Badan Pengawasan Obat Federal (FDA) Jumat menyatakan mereka meyakini rakyat Amerika belum memerlukan suntikan lainnya. Pfizer menyatakan beberapa perwakilannya akan bertemu dengan para pejabat di FDA pada hari Senin (12/7). Perusahaan itu telah menyatakan bahwa suntikan booster akan diperlukan dalam 12 bulan mendatang. Dr. Anthony Fauci mengakui suntikan booster mungkin diperlukan. Tetapi hari Minggu ia mengatakan terlalu dini bagi pemerintah untuk merekomendasikan suntikan lainnya. Sekitar separuh populasi AS telah divaksinasi penuh. Johns Hopkins Coronavirus Resource Center melaporkan lebih dari 186 juta infeksi COVID global pada Senin pagi dan lebih dari 4 juta kematian global. AS mencatat jumlah kasus terbanyak dengan 33,9 juta, diikuti oleh India dengan 30,9 juta. Johns Hopkins melaporkan 3,4 miliar vaksin telah diberikan di berbagai penjuru dunia. [uh/ab]