Demonstrasi Menentang Kelompok Pemberontak M23 di Kongo Meletus, 1 Tewas

Satu orang dilaporkan tewas dan dua lainnya mengalami luka-luka dalam demonstrasi menentang kelompok pemberontak M23 yang berlangsung di bagian timur Republik Demokratik Kongo. Kelompok-kelompok masyarakat sipil menggelar rapat umum di Kota Rutshuru, di provinsi Kivu Utara, untuk memprotes anggapan tidak adanya tindakan apapun yang diambil tentara terhadap kelompok pemberontak M23. Kelompok tersebut telah merebut sebagian besar wilayah sejak musim panas lalu. Kelompok M23, yang sebagian besar merupakan warga etnis Tutsi di Kongo, menjadi terkenal pertama kali pada tahun 2012 ketika mereka berhasil merebut ibu kota Kivu Utara, Goma, sebelum akhirnya diusir. Kelompok M23 melanjutkan pertempuran pada akhir tahun 2021 setelah bertahun-tahun menahan diri. Sejak itu mereka telah merebut wilayah di Kivu Utara, termasuk kota strategis Bunagana di perbatasan Uganda. Kongo telah berulangkali menuduh negara tetangganya yang lebih kecil di Afrika Tengah, Rwanda, mendukung kelompok M23. Pemerintah Rwanda telah membantah tuduhan tersebut. Sejumlah demonstran berkumpul di luar kantor administrasi militer di Rutshuru pada Kamis (22/9), hari ke-100 pendudukan M23 di Bunagana. Juru bicara kelompok masyarakat sipil setempat, Justin Bin Serushago mengatakan petugas polisi menembaki para demonstran, menewaskan satu orang dan melukai dua lainnya. “Kami tidak akan bergerak hingga operasi militer terhadap M23 dilanjutkan,” ujarnya pada AFP. Seorang pejabat di rumah sakit umum Rutshuru yang minta agar namanya tidak disebutkan, membenarkan bahwa satu orang telah meninggal dunia setelah tertembak di bagian dada. Seorang perwira polisi senior di Rushuru mengatakan pada AFP, sejumlah warga sipil mengalami luka-luka dalam demonstrasi itu, tetapi ia tidak memberi rincian lebih lanjut. Situasi konflik antara tentara dan M23 relatif tenang dalam beberapa minggu terakhir ini, di mana tentara dan gerilyawan saling mengamati posisi satu sama lain tanpa adanya bentrokan. Demonstrasi di Rushuru terjadi setelah Presiden Kongo Felix Tshisekedi melangsungkan pertemuan dengan Presiden Rwanda Paul Kagame pada Rabu (21/9) di New York dalam sebuah pertemuan yang dimediasi oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron dalam upaya guna menenangkan ketegangan di kawasan itu. [em/rs]