Aplikasi Beasiswa Menonjol di Tengah Peluang yang Sempit

Setiap tahun, puluhan ribu pelajar Indonesia berharap bisa memenangkan beasiswa agar bisa kuliah di dalam ataupun luar negeri secara gratis. Karena persaingan yang sangat ketat, pelamar harus bisa membuat aplikasi yang menonjol. Banyak faktor yang menentukan kesuksesan sebuah aplikasi, termasuk pelamar yang berkarakter dan peran seorang mentor. Nadia Atmaji sedang menjalani salah satu mimpinya: kuliah S-2 di Inggris dengan beasiswa penuh. Tapi sebelum sampai ke titik ini, ia pernah gagal meraih beasiswa. Bukan hanya sekali dua kali, tapi enam kali. "Yang aku jadikan pembelajaran bahwa kegagalan itu mendewasakan dan membuatku mencari tahu apa yang mau aku cari dari beasiswa ini, constant questioning, dan jadi lebih dekat dengan diri sendiri karena jadi refleksi diri dari kegagalan itu," ujarnya kepada VOA. Selanjutnya, ia jadi lebih teliti menyusun dokumen aplikasi, lebih baik dalam menulis esai, dan yang tak kalah penting, mendapat bantuan dari seorang mentor. "Penting ketemu mentor supaya ada target." Upaya ketujuhnya membuahkan hasil. Pada 2021, ia menerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dari Kementerian Keuangan untuk kuliah di University College London (UCL) jurusan Media Digital. Setiap tahun diperkirakan ada puluhan ribu pelajar Indonesia melamar beasiswa dari berbagai institusi, termasuk LPDP, Fulbright, dan Chevening. Namun beasiswa yang tersedia jumlahnya sangat terbatas. Sebagai contoh, setiap tahunnya Chevening Indonesia menerima 5.000-6.000 pelamar, tapi yang lolos hanya 50an -- sekitar 1%. Meski kompetitif, bukan berarti tak ada peluang. Di sinilah pentingnya peran seorang mentor yang berpengalaman. Ia bisa membantu pelamar melalui tahapan proses, mengecek esai dan memberi masukan, hingga latihan wawancara. Santika Salim adalah advisor di EducationUSA @America di bawah Kedutaan AS di Jakarta.   Selama tiga tahun belakangan, dia telah membimbing ratusan pelajar dari seluruh Indonesia untuk menyiapkan aplikasi beasiswa dan studi ke AS, secara cuma-cuma. "Aku selalu kasih pointer ke advisees aku itu, kalau kita mau lebih bersaing dalam aplikasi kita ke LPDP, ke Fulbright, kita harus punya kespesifikan kenapa perlu beasiswa ini, apakah untuk master atau PhD," jelas perempuan lulusan universitas AS ini. Selain itu, ia menambahkan bahwa pelamar "juga harus bisa menulis dalam bahasa Inggris, dan berikutnya jelas menyampaikan pengalaman, karakter, tujuan dan kontribusinya." Setiap pemberi beasiswa menetapkan persyaratan dan tahapan yang berbeda-beda. Tapi, ada satu benang merah yang sama-sama dicari, yaitu pelamar yang berkarakter. Seperti dijelaskan Raras Tulandaru dari Kedutaan Inggris di Jakarta, yang ikut menangani beasiswa Chevening. "Ibaratnya kami tidak begitu memedulikan posisi dalam karir atau pekerjaan, kita melihatnya karakter kalian ketika menjalankan tanggung jawab sebagai pemimpin atau sosok yang berpengaruh terhadap lingkungan," kata perempuan yang pernah menerima beasiswa Chevening ini. Faktor lain yang tak kalah pentingnya adalah kontribusi pelamar setelah lulus. Nadia, yang kini sedang menyusun tesis, mengatakan sepulangnya dari Inggris, ia ingin membantu memajukan dunia media digital di Indonesia. [vm/ab]