Analis: Korut Coba Semua Cara Luncurkan Misil, Termasuk dari KA

Korea Utara menyatakan misil balistik yang diluncurkannya pada Rabu (15/9) ditembakkan dari sebuah kereta api. Ini pertama kalinya negara bersenjata nuklir itu melakukan pengujian sistem peluncuran berbasis kereta api.  Peluncuran pada hari Rabu itu merupakan yang kedua kalinya dalam waktu kurang dari sepekan, sementara Korea Utara meningkatkan tekanan pada AS terkait pembicaraan nuklir yang macet. Foto-foto yang diposting di media pemerintah, Kamis (16/9), memperlihatkan sebuah misil berwarna hijau gelap muncul dari sebuah gerbong kereta yang diparkir di dekat sebuah terowongan di kawasan pegunungan, yang dipenuhi gumpalan asap oranye dan api dari peluncuran misil. Uji coba itu, yang melibatkan Resimen Misil Mobil Kereta Korea Utara, merupakan bagian dari upaya lebih luas untuk memungkinkan negara itu melancarkan “pukulan intensif terhadap kekuatan yang mengancam di banyak tempat pada waktu yang bersamaan,” kata kantor berita KCNA. Peluncuran berbasis kereta itu memberi Korea Utara opsi lain untuk melakukan peluncuran dan melindungi arsenal misilnya yang berkembang dengan cepat. Korea Utara telah berupaya keras untuk mengembangkan lebih banyak cara untuk meluncurkan misil, baik dari laut, jalan, atau sekarang, dari kereta api. Para analis mengatakan strategi semacam itu dimaksudkan untuk mempersulit AS dan badan-badan intelijen lainnya untuk memantau, memprediksi, dan mendeteksi peluncuran oleh Korea Utara. “Mereka mencoba semua yang dapat mereka pikirkan,” kata Joshua Pollack, peneliti di James Martin Center for Nonproliferation Studies kepada VOA. “Ini satu lagi masalah bagi musuh,” lanjutnya. Korea Utara telah lama menguji coba misil-misil dengan menggunakan berbagai jenis kendaraan peluncur yang mudah dipindah-pindahkan, yang memberi lebih banyak unsur kejutan dibandingkan dengan melakukan penembakan dari fasilitas peluncur resminya. Korea Utara juga telah mengungkapkan serangkaian misil balistik yang diluncurkan dari kapal selam. Meskipun sekarang ini tidak memiliki kapal selam berkemampuan mengerahkan misil semacam itu, Pyongyang pada tahun 2019 memberi gambaran pertama mengenai apa yang tampaknya sebuah kapal semacam itu yang sedang dibangun. Dengan sistem peluncuran terbarunya yang berbasis kereta api, Korea Utara tampaknya mengupayakan cara yang relatif murah dan dapat diandalkan untuk dengan cepat mengangkut sejumlah kecil misil dalam cara-cara yang sulit dideteksi, kata Adam Mount, peneliti senior di Federation of American Scientists. “Rusia melakukannya, AS mempertimbangkannya. Ini sangat masuk akal bagi Korea Utara,” cuit Mount di Twitter. Ada kelemahan dari strategi semacam itu. Sistem kereta api Korea Utara relatif kecil, tua dan dalam kondisi buruk. “Dalam krisis, intelijen AS akan mampu memantau jaringan rel kereta api dengan cermat untuk menentukan statusnya, memetakan pergerakan kereta, dan berupaya membedakan antara kereta umpan dan kereta yang bersenjata nuklir,” kata Mount. Ada keterbatasan serupa dengan sistem peluncur lainnya. Banyak peluncur mobil Korea Utara yang berukuran besar, memiliki hingga 22 ban. Ini membuatnya sulit untuk bermanuver, terutama di jalan-jalan Korea Utara, yang kebanyakan dalam kondisi buruk. Meskipun misil balistik yang diluncurkan dari kapal selam akan memberi Korea Utara kemampuan baru yang sukar diprediksi, sebagian analis menyatakan ancaman ini dilebih-lebihkan. Ini antara lain karena Korea Utara tampaknya belum selesai membangun, apalagi mengerahkan, satu pun kapal selam yang mampu menembakkan misil. Kapal yang sedang dibangun, kata sebagian analis, tampaknya ketinggalan zaman. Meskipun setiap sistem peluncur memiliki kelemahan masing-masing, para analis menyatakan pendekatan Korea Utara kelihatan lebih berbahaya jika dipertimbangkan secara keseluruhan. Dengan menganekaragamkan sistem peluncurnya, Korea Utara “menambah tuntutan bagi sensor AS yang jumlahnya terbatas,” kata Mount. [uh/ab]