Trump Jadi Presiden AS Pertama Dalam Sejarah Dimakzulkan Dua Kali

Presiden Donald Trump dimakzulkan lagi. Pada Rabu (13/1) sore waktu setempat, anggota DPR Amerika Serikat meraup 217 suara dukungan untuk meneruskan petisi pemakzulan presiden untuk naik ke rapat Senat. Dengan demikian, Trump menjadi presiden pertama dalam sejarah Negeri Paman Sam yang selama menjabat sampai dua kali hendak digulingkan anggota parlemen.

Berbeda dari upaya pemakzulan yang berlangsung pada 2019, kali ini sebagian Partai Republik, seharusnya berperan sebagai partai pendukung Trump, banyak yang mendukung usulan Partai Demokrat. Dalam pemungutan suara di DPR, 10 anggota Partai Republik menyetujui agar pemakzulan maju ke tingkat Senat. Tahun lalu, cuma satu republikan yang mendukung Trump dilengserkan paksa atas dugaan kolusi dengan Rusia.

Kali ini, argumen pemakzulan yang dipakai adalah tindakan Trump memprovokasi massa pendukungnya untuk menyerang gedung parlemen Capitol Hill, saat anggot senat mengesahkan hasil pemilu yang memenangkan Joe Biden, lawan Trump dalam pemilu November tahun lalu.

Akibat insiden pada 6 Januari lalu, lima orang tewas termasuk polisi sementara puluhan lain ditangkap. Trump dianggap parlemen terlibat aktif dalam aksi pemberontakan, yang bertentangan dengan konstitusi AS. Sebelum massa menerobos gedung, Trump berpidato di hadapan mereka, dan meminta pendukung “berperang dengan gigih”, untuk memaksa parlemen tidak memenangkan Biden.

Trump, yang kini berusia 74 tahun, menghadapi serangan balik bertubi-tubi setelah sekian bulan menolak mengakui kalah pemilu. Akunnya disensor oleh Twitter, Facebook, Instagram, hingga YouTube. Insiden penyerbuan Capitol Hill juga membuat citranya hancur lebur di mata masyarakat dan bahkan di internal Partai Republik. Tekanan itu begitu besar, sampai Trump akhirnya mengakui kemenangan Biden, namun gelombang pemakzulan tidak berhenti juga.

Lynn Cheney, anggota Partai Republik dari Negara Bagian Wyoming turut mendukung pemakzulan. Dia menilai, kelakuan presiden pilihan partainya sudah tidak bisa dibela lagi. “Belum pernah terjadi dalam sejarah Amerika Serikat pengkhianatan amat serius pada konstitusi dan tugas kepresidenan, seperti dilakukan Trump,” ujarnya.

Bahkan Ketua Senat AS, Mitch McConnell, sosok penting di tubuh partai Republik, bersyukur partai lawan mereka mengajukan upaya pemakzulan. Menurut beberapa sumber, McConnell menyatakan jika mekanismenya seperti ini, lebih mudah bagi pimpinan Partai Republik menyingkirkan pengaruh Trump. Sosok Trump cukup banyak memiliki loyalis di Republik, termasuk enam senator yang sempat ngotot memperjuangkan pembatalan hasil pilpres yang memenangkan Biden.

Trump sebetulnya pekan depan sudah tidak akan menjabat presiden. Biden dijadwalkan dilantik pada 20 Januari 2020. Artinya pemakzulan ini akan berlangsung di era senat baru, dengan sasaran mantan presiden. Tapi tujuan dari pemakzulan di AS bukan sekadar melengserkan pemimpin. Lewat proses pemakzulan, jika disetujui suara mayoritas di senat, maka Trump tidak akan bisa memiliki hak berpolitik lagi. Ada rumor dia bakal menjajal maju jadi capres lagi untuk 2024.

Dalam sejarah Amerika, ada tiga presiden sebelum Trump yang mengalami upaya pemakzulan macam ini. Andrew Johnson dan Bill Clinton diserang pemakzulan sekali, tapi banyak pihak menganggap upaya parlemen kala itu bermuatan politis. Satu-satunya pemakzulan yang disetujui mayoritas anggota senat lintas partai adalah kepada Richard Nixon, yang terlibat skandal Watergate pada dekade 1970-an. Nixon memilih mundur duluan sebelum dilengserkan oleh senat Negeri Paman Sam.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News