Tiongkok Hancurkan 15 Apartemen Pakai Bom Karena Pengembangnya Kehabisan Duit

Pemandangan menarik muncul di Kota Kunming, Tiongkok, pada 27 Agustus 2021. Komplek apartemen yang terdiri dari 15 gedung hancur dalam hitungan 45 detik saja akibat ledakan bom. Pelakunya pemerintah setempat. Alasannya? Proyek tersebut sudah mangkrak selama tujuh tahun dan lebih baik dihancurkan untuk pembangunan bangunan yang lebih mendatangkan profit.

Dalam video yang beredar di medsos, bom yang dipasang teknisi berhasil menghancurkan 14 bangunan apartemen. Satu apartemen tetap berdiri, namun tiga hari kemudian ikut dihancurkan dengan cara manual pakai eskavator.

Apartemen mangkrak adalah masalah yang menghantui berbagai kota besar di Tiongkok. Satu dekade lalu, Tiongkok menikmati pertumbuhan ekonomi amat tinggi, sehingga muncul jutaan warga kelas menengah yang punya duit lebih untuk investasi. Para pengembang lantas mencoba peruntungan secara agresif membangun komplek apartemen dengan tujuan menggoreng harganya. Banyak pemda juga tergiur menyewakan lahan berkat iming-iming pengembang, bahwa proyek-proyek tersebut dapat menggenjot APBD.

Pertaruhan itu gagal total karena pertumbuhan ekonomi melambat, dan tren harga properti stagnan. Puluhan pengembang pailit, tidak punya duit bahkan sekadar untuk melanjutkan pembangunan proyek mereka. Apartemen yang sudah selesai berdiri pun akhirnya sepi, karena mayoritas pembeli tidak tertarik tinggal di sana mengingat sejak awal niat mereka adalah investasi. Proyek perumahan yang gagal itu tersebar di banyak provinsi, seringkali bersanding dengan mal dan fasilitas publik terintegrasi, belakangan dijuluki sebagai “Kota Hantu”.

Dengan latar situasi itulah, solusi ekstrem penghancuran apartemen terjadi. Komplek yang rekamannya viral setelah dibom ini bernama Sunshine City II, dibangun pada 2011. Pengembangnya gagal menjual lebih dari 70 persen apartemen lewat format pre-order, dan mereka kehabisan duit untuk melanjutkan pembangunan. Sejak 2013, proyek ini mangkrak begitu saja.

Pada November 2020, perusahaan lain mengambil alih proyek tersebut, namun dari kajian insinyur mereka kualitas bangunan yang mangkrak itu berbahaya untuk diteruskan. Konsep apartemen bertingkat itupun dianggap tidak menguntungkan. Maka, solusi penghancuran lebih ekonomis bagi perusahaan, dan opsi itu disetujui pemda.

Sebanyak 5.300 warga yang tinggal di sekitar komplek apartemen itu dievakuasi sebelum peledakan, merujuk laporan Kunming Daily. Masing-masing keluarga mendapat ganti rugi atas “gangguan lingkungan” setara Rp327 ribu.

Warga lantas berkerumun menonton peledakan bangunan mangkrak itu bagaikan hiburan tersendiri. “Saya seumur hidup belum pernah melihat bangunan sengaja diledakkan, ini menarik,” kata salah satu warga yang diwawancarai Chuncheng Evening News.

Kunming, Ibu Kota Provinsi Yunnan, punya problem yang cukup besar seputar proyek pembangunan perumahan mangkrak. Menurut data pemda, ada 93 proyek serupa di wilayah mereka. Sebagian aset masih bisa diselamatkan dengan cara dijual ke perusahaan lain. Tapi beberapa lainnya akan terpaksa menyusul nasib Sunshine City untuk dihancurkan dengan berbagai cara.

Yan Yang, Guru Besar Ilmu Tata Kota the Chinese University of Hong Kong, yang rutin meneliti pasar properti, menyatakan penghancuran macam ini merupakan solusi terbaik mengatasi masalah kebijakan di masa lalu. Pemerintah Tiongkok dulu mengizinkan banyak perusahaan properti berdiri tanpa modal memadai. Alhasil, mayoritas pengembang mengandalkan penjualan sebelum pembangunan dimulai untuk mendapat cash keras sebagai modal pembangunan apartemen.

“Ketika permintaan properti menurun, banyak sekali pengembang yang kabur begitu saja dari tanggung jawab meneruskan proyek apartemen mereka. Pemda sebagai penyedia lahan dan konsumen yang tentu saja menanggung kerugian terbesar,” kata Yang.

Menurut Yang, pemerintah Tiongkok kini sudah belajar dari kesalahan di masa lalu. Pengembang properti diwajibkan memiliki kapital tertentu sebelum memulai proyek, serta tidak boleh mengandalkan pinjaman bank terlalu besar.

Follow Viola Zhou di Twitter.