Tiongkok dan AS Bersaing Dulu-Duluan Bangun Pembangkit Nuklir di Luar Angkasa

Tiongkok mengumumkan rencana eksplorasi luar angkasa untuk dekade mendatang. Salah satunya mencakup ide membangun pembangkit listrik bertenaga nuklir di pangkalan Bulan. Gagasan itu menunjukkan niat Tiongkok untuk bersaing langsung dengan Amerika Serikat dalam misi luar angkasa.

“Kami mengembangkan teknologi dan sistem baru berbasis energi nuklir, agar pangkalan Tiongkok di Bulan dapat beroperasi secara berkelanjutan,” ujar Wu Weiren, Kepala Badan Eksplorasi Bulan Tiongkok, saat diwawancarai stasiun TV pemerintah, CCTV, pada 20 November 2022.

Pembangunan stasiun Tiongkok di Bulan itu diharap mulai terjadi 2028, sebagian teknologinya dipasok oleh Rusia. Tiongkok menargetkan Kutub Selatan Bulan sebagai lokasi paling ideal untuk stasiun tersebut, mengingat di sana rutin mendapat sinar matahari serta banyak lembah berukuran besar yang permukannya landai.

Amerika Serikat, lewat Badan Antariksanya (NASA), juga menargetkan kutub selatan bulan. Negeri Paman Sam sebelumnya mengumumkan misi pengiriman wahana antariksa Artemis 3 ke Bulan, pada akhir 2025. Rencananya, wahana tersebut akan dikirim ke bulan menggunakan roket SpaceX. Meski begitu, AS belum mengumumkan ide membangun PLTN.

Tiongkok sendiri, menurut Wu, menargetkan sanggup mengirim astronot untuk eksplorasi bulan 10 tahun lagi. Di pangkalan bulan itu, Tiongkok akan mendirikan area pendaratan, pondokan, orbiter, serta rover yang bisa mengangkut manusia. Stasiun ini diharap dapat menjadi basis misi-misi luar angkasa berikutnya, termasuk kemungkinan pengiriman wahana ke Mars.

Tiongkok kini sedang mengembangkan Chang’e 7 dan 8, dua robot penjelajah antariksa yang diharap bisa diluncurkan pada akhir 2026. Dua robot itu yang nantinya akan menjelajahi permukaan Bulan untuk mencari lokasi paling tepat sebagai pangkalan misi Tiongkok.

Akadami Sains Tiongkok, dalam jumpa pers tahun lalu, menyatakan misi luar angkasa mau tidak mau harus memanfaatkan energi nuklir. Energi dari BBM dan panel surya tidak lagi memadai untuk mendukung eksplorasi antariksa. Meski demikian skala pembangkit nuklirnya tidak besar seperti di Bumi. South China Morning Post melaporkan, pembangkit yang sedang dikembangkan Tiongkok ditarget bisa menghasilkan listrik setara satu megawatt, yang mana itu saja bisa mencukupi kebutuhan listrik lebih dari 1.000 rumah tangga.

Pengumuman soal pangkalan Bulan ini otomatis membuat Tiongkok kini bersaing langsung dengan Amerika Serikat. Tiongkok nampak ingin lebih dulu membangun pangkalan. Jika mengacu pada bocoran dokumen NASA, Amerika Serikat baru akan membangun pangkalan di Bulan pada 2034. Sama seperti Tiongkok, AS juga menargetkan sanggup membangun pembangkit nuklir untuk mendukung operasional misi di Bulan.

Follow Rachel Cheung di Twitter dan Instagram.