Terlalu Cepat Rayakan Kemenangan, Pesepeda Belanda Gagal Raih Medali Emas Olimpiade

Pernahkah kamu merasa sangat yakin sesuatu akan menjadi milikmu, hanya untuk menerima kenyataan bahwa itu telah direbut orang lain? Kira-kira itulah yang dirasakan Annemiek van Vleuten akhir pekan lalu.

Atlet balap sepeda dari Belanda itu mengangkat kedua tangan sambil tersenyum sumringah ketika mencapai garis akhir pada sesi pertandingan Minggu (25/7). Dia sudah yakin banget mendapat medali emas di Olimpiade Tokyo 2020. Namun, perempuan 38 tahun itu tidak menyadari pesepeda lain telah mendahuluinya. Lebih mengejutkannya lagi, dia dikalahkan seorang pesepeda amatir dari Austria. Anna Kiesenhofer mencapai garis akhir semenit lebih cepat, dan sontak menyabet medali emas.

Hasil pertandingan ini sangat mengejutkan. Pasalnya, tim pembalap sepeda Belanda selalu mendominasi berbagai kompetisi di seluruh dunia. Mereka bahkan membawa pulang medali emas pada Olimpiade Rio 2016.

Menurut van Vleuten, kekeliruan disebabkan oleh tidak adanya komunikasi selama pertandingan. Atlet balap sepeda yang mengikuti Olimpiade dilarang menggunakan alat komunikasi seperti radio, tak seperti balapan UCI World Tour yang mewajibkannya.

Atlet Belanda mengatakan tim dari negara lain pun sama terkejutnya. “Dalam balapan penting, atlet tidak diperkenankan untuk berkomunikasi, padahal kami biasanya melakukan itu. Balapan memang menjadi lebih menantang [tanpa komunikasi], tapi juga membingungkan,” tuturnya dalam konferensi pers, dikutip situs berita olahraga Cycling News.

Namun, kita tidak boleh meremehkan pencapaian Kiesenhofer karena kekeliruan tersebut. Tim balap sepeda Austria terakhir memenangkan medali emas pada 1896, dan perempuan 30 tahun itu berhasil mencetak sejarah. Dia menyelesaikan 40 kilometer terakhir dari jalur 137 kilometer sendirian, dan menang lebih dari satu menit. Sebagai perbandingan, perbedaan waktu yang diselesaikan peraih medali perak dan perunggu terpaut 14 detik saja.

Kiesenhofer menganggap dirinya pesepeda amatir. Dia tidak memiliki kontrak profesional, dan mulai terjun ke dunia balap sepeda pada 2017 — tiga tahun setelah beralih ke olahraga sepeda dari lari maraton. Sebelum mengayuh pedal, dia sempat mengalami cedera yang menghambatnya berlari duathlon dan triathlon.

Pencapaiannya di dunia akademis juga menakjubkan. Kiesenhofer berprofesi sebagai dosen yang memegang gelar Master jurusan matematika dari Universitas Cambridge dan gelar PhD jurusan matematika terapan dari Universitas Politeknik Catalonia di Barcelonia.

CNN melansir, van Vleuten kecewa karena gagal menyabet medali emas, tapi setidaknya dia masih mendapat medali. Dia melewatkan kesempatan berpartisipasi di Olimpiade Rio 2016 karena mengalami kecelakaan mengerikan yang membuatnya patah tulang dan gegar otak.

Follow Hanako Montgomery di Twitter dan Instagram.