Terjadi Lagi, Laki-Laki Pasang Baliho Foto Dirinya Demi Mencari Jodoh

Di usia yang hampir 30 tahun, Muhammad Malik sadar sudah saatnya dia berkeluarga. Seorang teman lalu mengusulkan cara unik yang bisa membantunya cepat dapat jodoh. “Otaknya benar-benar cemerlang,” ujar lelaki yang berprofesi sebagai entrepreneur di London. “Saya mengatakan, tidak sempat berpacaran dan pandemi membuatnya semakin mustahil. […] Gimana caranya menampilkan diriku ke dunia?”

Dari situlah muncul baliho raksasa yang menyatakan Malik butuh diselamatkan dari perjodohan. Menurut keterangan di situs webnya, dia mendambakan “perempuan salihah berusia 20-an.” Dia juga berharap calon istri “siap menghadapi keluarga Punjabi yang berisik” dan tidak masalah dengan status Malik sebagai anak tunggal yang berbakti kepada kedua orang tua. “Hubungan takkan berhasil jika tidak siap menerima ini,” imbuhnya.

Perjodohan masih menjadi norma di masyarakat Asia Selatan, khususnya di tempat kelahiran Malik di sekitar anak benua India. Dari kerabat hingga “rishta aunties” (mak comblang), mereka akan turun tangan mencarikan pasangan hidup untuk anggota keluarga yang masih melajang. Tak sedikit pula yang meminta bantuan biro jodoh profesional, seperti digambarkan dalam serial Netflix yang masuk nominasi Emmy Awards.

Tapi sejujurnya, tidak ada perjodohan yang menanti Malik. Dia menggunakan kata-kata bombastis itu agar lebih menarik perhatian. “Perjodohan ada bagusnya karena memanfaatkan pengalaman keluarga untuk menemukan tambatan hati,” tuturnya. “Keluargaku kecil — hanya ada saya dan orang tua. Kami tidak punya kenalan atau komunitas yang bisa dimanfaatkan. Juga tak ada bibi-bibi desi yang bisa membantu saya mencari jodoh.”

Ibu Malik awalnya ragu mengiklankan putra satu-satunya seperti ini. “Ayah ibu agak malu, tapi akhirnya mereka melihat manfaatnya.”

Dalam hitungan hari, kotak masuk Malik dibanjiri ribuan pesan dari berbagai belahan dunia. Perempuan Pakistan hingga Tanzania bersedia dipersunting olehnya. Pesan paling mengesankan datang dari perempuan yang mengatakan akan memberi limpanya. “Saya menduga dia pakai Google Translate dan itu istilah kasih sayang dalam bahasanya. Tapi tetap saja saya terkejut membacanya.”

Muhammad Malik

Selain tawaran pernikahan, papan reklame itu juga menghubungkan Malik dengan kawan-kawan lama. Guru sekolah yang sudah lama tidak ada kabar bahkan menyapanya lagi. “Semuanya penasaran kenapa saya tiba-tiba begini,” kata Malik sambil tertawa.

Beberapa pesan yang diterima Malik menambahkan kedalaman dan keseriusan pada ide gokil ini. “Banyak perempuan bercerita mereka menjadi korban KDRT dan mengingatkanku agar bersungguh-sungguh saat menikah nanti. Saya sedih membacanya karena ini kehidupan nyata mereka. Seorang perempuan menceritakan tentang suaminya yang kasar dan meninggalkannya, membuat dirinya putus asa.”

Malik sengaja tidak mendaftarkan diri di situs-situs perjodohan yang dipenuhi “kotak preferensi”. Menurutnya, pilihan ras sampai kasta dan kelas sangat problematis. “Saya tidak mau masuk ke ekosistem yang penuh kebencian dan diskriminasi,” tandasnya.

Malik tak perlu lagi mengkhawatirkan pesta pernikahannya. Berbagai wedding organizer hingga butik pengantin telah menawarkan diri untuk mendanai hari besarnya. Tentu saja dia tidak menolak sama sekali. “Yang pasti sherwani (jubah panjang laki-laki) buat saya sudah aman.”

Follow Arman Khan di Instagram.