Taliban Umumkan Rencana Bikin Pabrik Pengolahan Ganja Didukung Investor Asing

Pada 24 November 2021, akun twitter Kementerian Dalam Negeri Afghanistan mengumumkan komitmen investasi sebesar US$450 juta, untuk mendanai pendirian pabrik pengolahan ganja di negara mereka. Tenggat realisasi investasi itu hanya disebut “dalam waktu dekat”.

Detail soal lokasinya juga belum dijabarkan dalam pengumuman itu. Namun pemerintah Afghanistan, dalam hal ini rezim Taliban, berjanji adanya pembukaan pabrik pengolahan ganja ini akan menciptakan lapangan kerja bagi ratusan penduduk.

Rencana investasi menandai Taliban tak lagi malu-malu terlibat dalam bisnis produk olahan psikotropika, yang selama ini jadi rahasia umum di Afghanistan. Pabrik tersebut selain memproduksi olahan mariyuana medis, juga akan membuat berbagai produk turunan lain dari ganja yang memiliki nilai ekonomi.

Menurut Kemendagri Afghanistan investor asing yang masuk ke bisnis olahan ganja tersebut adalah Cpharm – namanya menyerupai perusahaan asal Australia. Taliban pun mengklaim Cpharm memiliki “reputasi panjang di bidang produksi farmasi dan penyediaan berbagai alat untuk industri kesehatan.”

Media-media internasional dalam waktu singkat memberitakan bahwa investor Australia mengucurkan dana pendirian pabrik olahan ganja medis di Afghanistan. Masalahnya cuma satu: petinggi Cpharm di Australia justru heran kenapa nama mereka disangkutpautkan dengan proyek tersebut. Mereka malah baru tahu ada recanan pendirian pabrik macam itu dari artikel.

“Cpharm Australia tidak berbisnis obat-obatan, apalagi menggelar dialog investasi dengan Taliban untuk mengolah mariyuana,” kata Tony Gabites, selaku chief financial officer Cpharm saat dikontak VICE World News. “Kantor kami dikontak beberapa orang sejak artikel soal Taliban muncul di media.”

Cpharm, menurut Gabites, memang bergerak di bidang industri kesehatan, tapi lebih ke penyedia jasa layanan medis. Berdiri sejak 2002, bisnis mereka justru bukan di bidang farmasi. “Jujur saya frustrasi, karena kabar kalau kami berinvestasi di Afghanistan ini sudah menyebar ke mana-mana,” tandasnya.

Alhasil, belum jelas Cpharm mana yang sebetulnya sedang dirujuk oleh akun twitter Kementerian Dalam Negeri Afghanistan. Jubir Taliban yang dihubungi VICE World News belum merespons hingga artikel ini tayang. Tentu secara logis, perusahaan farmasi tersebut bukan dari Australia, namun namanya serupa.

Gabites makin emosi, saat membaca beberapa media mengklaim mereka sudah berusaha meminta komentar Cpharm mengenai rencana investasi di Afghanistan. “Sebal sih, ada media yang beritanya mengklaim Cpharm menolak berkomentar, padahal tidak ada yang menghubungi kami sama sekali untuk konfirmasi.”

Follow Gavin Butler di Twitter.