Taliban Bikin Aturan Baru, Presenter TV Perempuan Wajib Tutup Wajah Saat Siaran

Presenter perempuan Afghanistan mulai tampil pakai masker medis di televisi setelah diperintahkan Taliban mengenakan jilbab dan penutup wajah selama membawakan acara. Ini langkah terbaru kelompok Islamis menegakkan aturan syariat versinya yang kaku dan membatasi di dalam negeri.

Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid mengumumkan peraturannya melalui konferensi pers di Kabul pada Kamis, 19 Mei 2022. “Selama setahun terakhir, orang-orang pakai masker karena corona,” tuturnya. “[Peraturan] ini tidak merugikan siapa-siapa, jadi kenapa harus dipermasalahkan kalau tujuannya untuk mematuhi perintah agama?”

“Semua orang wajib mematuhi perintah ini tanpa terkecuali. Saya mengajak para perempuan di Afghanistan menaati perintah agama. Ini semua demi kebaikan mereka masing-masing dan juga keluarganya,” Zabihullah melanjutkan.

Saluran berita terkemuka TOLOnews mengonfirmasi, kru perempuan wajib menutup wajah mereka dengan cadar atau masker sejak Kamis lalu.

Taliban telah berulang kali menargetkan jurnalis sejak melengserkan pemerintahan Afghanistan pada September lalu. Akibatnya, lebih dari 170 kantor berita berhenti beroperasi sejauh ini.

Nasib perempuan juga semakin memprihatinkan selama setahun terakhir. Taliban bersikeras pemerintahannya saat ini lebih menghargai hak-hak perempuan, dan akan mengizinkan mereka bersekolah sesuai syariat yang berlaku. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Anak perempuan pada usia sekolah menengah tidak diizinkan kembali ke sekolah. Perguruan tinggi pun memisahkan kelas sesuai jenis kelamin.

Tak hanya itu saja, mahasiswi baru diperbolehkan belajar di kampus jika mereka menaati peraturan warna jilbab. Dalam peristiwa terbaru pada Rabu (18/5), sejumlah mahasiswi Universitas Kabul ditertibkan oleh pasukan bersenjata karena mengenakan jilbab warna-warni.

Kepada VICE World News, seorang mahasiswi mengatakan melalui telepon, Taliban mengharuskan mereka pakai jilbab hitam. “Taliban tidak bisa didebat. Kami para pelajar hanya bisa mengikuti peraturan mereka kalau masih ingin masuk kuliah,” terangnya.

“Padahal kami sudah mengenakan abaya hitam, serta menutup kepala dan wajah dengan benar, jadi seharusnya jilbab warna-warni tidak menjadi masalah. Tapi yah, namanya juga Taliban.”

Pasukan Taliban juga mulai mengkritik perempuan di pos-pos pemeriksaan sepanjang Kabul. Menurut seorang warga, perempuan disindir “kurang Islami” lantaran jilbabnya tidak sesuai syariat.

Ekonomi Afghanistan diterjang krisis sejak Taliban menguasai Kabul, lantaran dunia internasional enggan mengakui kebangkitan kelompok tersebut.