Tak Hanya Menahan Ratusan Warga Palestina, Israel Turut Membom Gaza saat Ramadan

Sejak pertengahan April 2022, polisi dan tentara Israel menyerang komunitas warga Palestina yang bermukim dekat Masjid al Aqsa, Yerusalem, di tengah suasana bulan Ramadan. Video kekerasan aparat Zionis terhadap warga sipil Palestina marak beredar di media sosial, memicu kecaman umat muslim internasional. Situasi semakin memanas sejak 18 April 2022, terutama setelah kepolisian Israel menahan lebih dari 400 warga Palestina yang dituding berbuat onar, atau terlibat jaringan teroris Negara Islam Irak dan Syam (ISIS).

Konflik menjadi amat serius mulai akhir pekan lalu, ketika polisi Israel melakukan operasi besar-besaran di kawasan dekat Bait Allah (Temple Mount), yang bersebelahan dengan halaman Masjid Al Aqsa. Kawasan Bait Allah merupakan situs suci bagi umat Yahudi, Islam, dan Kristen. Ketegangan ini bertambah simbolis, mengingat umat Yahudi hendak merayakan passover, sementara warga muslim Palestina sedang menjalani ibadah puasa Ramadan.

Warga Palestina yang memprotes penangkapan semena-mena polisi Israel berusaha melawan balik dengan batu dan kembang api. Polisi antihuru-hara Israel sempat memasuki masjid, menangkap warga yang mereka anggap merusuh, membuat perlawanan semakin keras.

Mengingat tidak ada tanda-tanda kekerasan akan berakhir, pengamat politik Timur Tengah khawatir eskalasinya akan menyerupai serangan besar-besaran yang dihadapi Jalur Gaza pada Mei 2021. Beberapa anggota militan Hamas dilaporkan menembakkan roket ke wilayah Israel awal pekan ini, sebagai balasan serangan polisi ke masjid al-Aqsa.

Tahun lalu, dipicu kronologi konflik nyaris serupa di Yerusalem, aksi militan Gaza direspons dengan gempuran jet tempur Israel, meluluhlantakkan kota yang terkepung Zionis itu dan menewaskan ratusan penduduknya.

Warga Palestina berusaha melindungi masjid al-Aqsa dari serangan polisi Israel. Foto oleh AHMAD GHARABLI/AFP via Getty Images

Warga Yahudi di Yerusalem cenderung mendukung tindakan provokatif aparat Zionis, dengan dalih terjadi serangan teroris beruntung sejak akhir Maret 2022. Jaringan sel ISIS, yang digerakkan beberapa orang Palestina, menyerang kampung-kampung Yahudi Ortodoks, menewaskan 11 orang, dan melukai puluhan lainnya. Insiden itu merupakan serangan teroris terburuk pernah dialami Israel selama lima tahun terakhir.

Selain penangkapan ratusan warga sipil tanpa alasan memadai, organisasi Palang Merah Palestina melaporkan bahwa kekerasan yang dilakukan aparat Israel melukai 152 orang di Yerusalem, termasuk anak-anak. Dalam aksinya, polisi Israel rutin menembakkan gas air mata serta memukulkan pentungan kepada warga Palestina di sekitar kawasan Masjid al-Aqsa. Tak sedikit korban pemukulan polisi itu adalah warga lanjut usia, yang bahkan sebenarnya tidak berusaha melakukan perlawanan.

Setiap kali Masjid al-Aqsa diserang, otomatis pasukan Hamas akan menembakkan roket ke wilayah Israel. Menurut juru bicara militer Israel, sistem pertahanan anti roket mereka (diberi nama Iron Dome) berhasil mencegah serbuan rudal dari Jalur Gaza sepanjang 18-19 April.

Pada 19 April 2022, dini hari waktu setempat, tentara Israel balas menembakkan roket menyasar gudang senjata milik Partai Hamas, yang memerintah di Jalur Gaza. Kementerian Kesehatan Palestina mengklaim tidak ada korban jiwa dari serangan roket Israel tersebut.

Operasi aparat Israel di Yerusalem awalnya dipusatkan di kawasan Jenin, Yerusalem Timur. Di kawasan yang dihuni warga Palestina itu dituding menjadi sarang teroris yang tergabung dengan ISIS. Operasi kontraterorisme polisi Israel telah menewaskan 14 orang sejauh ini, termasuk penghancuran beberapa rumah milik warga yang dianggap membantu jaringan teroris.

Perdana Menteri Israel, Naftali Bennett, menyatakan tidak akan mengendurkan operasi antiteror di Yerusalem. “Kami tidak segan-segan melakukan segala cara untuk membalas hilangnya nyawa penduduk Israel di tangan teroris,” ujarnya dalam jumpa pers pekan lalu.

Di mata warga Yahudi, konflik tahun ini merupakan hasil provokasi lebih dulu warga muslim Palestina. Sebaliknya, bagi warga Palestina, mereka menilai tindakan aparat Zionis sudah berlebihan karena sengaja kembali memasuki kawasan masjid suci al-Aqsa, sebagaimana yang terjadi pada 2021.

Juru bicara Hamas mengaku siap bila wilayah mereka, yang terisolir dan terpisah dari kawasan Palestina lainnya, kembali digempur militer Israel. Menurut Hamas, “serangan terhadap umat muslim yang sedang beribadah di al-Aqsa sudah melanggar batas.”

Tak hanya netizen, kritik terhadap operasi kontraterorisme Israel yang bisa menyulut konflik lebih besar telah disampaikan petinggi kawasan, mulai dari Mesir, Turki, Yordania, hingga Qatar. PM Bennett berdalih aparatnya harus bersikap lebih keras membubarkan massa, mengingat ada beberapa sesi pengajian ramadan di al-Aqsa “diboncengi kampanye Hamas”, untuk memprovokasi warga untuk angkat senjata.