Suka Duka Menjadi Idol Berkulit Hitam Pertama di Korea Selatan

Alex Reid sudah punya semua yang dibutuhkan untuk menjadi idola K-Pop. Bukan cuma dikaruniai suara emas, perempuan itu juga jago menari. Dia bahkan telah berpengalaman menulis dan menyusun lagu—suatu bakat istimewa di industri musik Korea Selatan. Hanya satu yang tidak ia miliki: darah keturunan Korea, atau setidaknya Asia. Reid musisi kulit Hitam asal Amerika Serikat.

Sekitar tujuh tahun lalu, perempuan itu ditawari ikut audisi idola K-Pop saat ia menjalani program latihan menulis lagu di Los Angeles. “Saya sok cool waktu itu,” ungkap Reid, mengenang momen yang mengubah hidupnya secara drastis. Dia mencoba peruntungan lewat panggilan video, dan ternyata lolos untuk rekaman bersama label KorSel. Ia pun dipersiapkan menjadi bintang K-Pop dalam waktu singkat.

Dua minggu kemudian, Reid mencetak sejarah sebagai idola ras kulit Hitam pertama di Negeri Ginseng. Dia bergabung dengan girlband RaNia yang akan comeback setelah pertama kali debut 4 November 2015.

Anggota girlband RaNia berfoto bersama di balik panggung. Foto dari arsip pribadi Alex Reid.

Berbeda dari mayoritas idola yang butuh training intens bertahun-tahun, Reid langsung debut begitu menginjakkan kaki di Seoul. Kemudahan ini sebagian besar berkat karier musiknya yang cemerlang di negara asal.

Dia sudah teken kontrak dengan label AS Def Jam, menulis lagu untuk Sony, dan berkolaborasi bareng penyanyi papan atas seperti Jamie Foxx dan Chris Brown. Biarpun ia merasa beruntung tidak perlu susah payah latihan, Reid yakin kesuksesannya sebagai musisi K-Pop akan lebih terjamin andai saja ia mendapat pelatihan yang sama seperti teman-temannya.

“Akibatnya saya tidak fasih bahasa Korea, tidak memahami seperti apa temperamen idola, serta melewati detail-detail kecil lainnya yang saya butuhkan untuk menjadi seorang anggota grup,” tutur sang penyanyi. “Suasananya pun canggung ketika saya gabung. Saya dianggap beruntung karena tidak perlu berlatih keras.”

Sebagai orang kulit Hitam di tengah masyarakat yang belum terbuka dengan budaya lain, Reid sontak paling menonjol daripada anggota grup lainnya. Tak jarang ia menjadi pusat perhatian, dan statusnya sebagai orang non-Asia dipromosikan untuk menggaet penggemar.

“Suasananya pun canggung ketika saya gabung. Saya dianggap beruntung karena tidak perlu berlatih keras.”

“Saya sama sekali tidak siap menghadapi ini. Di setiap konferensi pers yang kami hadiri, fokusnya selalu pada perbedaan yang saya miliki,” kenangnya. Meskipun demikian, penggemar RaiNa menyambut kedatangannya dengan hangat. Penonton berteriak heboh ketika tiba gilirannya bernyanyi, dan menunggu sampai konser selesai untuk menyapa sang idola.

Koleksi surat yang diterima Alex Reid dari para penggemar. Foto dari arsip pribadi Alex Reid

Akan tetapi, terlihat begitu kentara betapa berbedanya staf manajemen memperlakukan Reid selama menjadi anggota RaNia. Sementara teman-temannya tampil dengan warna dan gaya senada, cuma dia seorang yang mengenakan pakaian lain. Dandanan Reid juga keputihan, membuatnya terlihat seperti orang lain. 

“Penting sekali bagi saya untuk menjadi diri sendiri, sehingga saya memilih berdandan sendiri,” ujarnya, lalu menekankan bahwa dia tidak pernah dituntut memutihkan kulit.

“CEO ingin saya tampil apa adanya. Dia selalu mendukung saya,” Reid menegaskan.

Selain itu, Reid khawatir rambutnya rusak karena penata rambut belum terbiasa menangani rambut keriting, jadi dia juga menatanya sendiri. Reid sering merasa seperti anak tiri di grupnya, tapi ia memahami kenapa hal ini bisa terjadi. Kurangnya waktu perkenalan mengakibatkan manajemen tidak punya persiapan sama sekali untuk memenuhi kebutuhannya. 

Menjelang comeback “Start a Fire”, Reid mencatok rambut dengan harapan meringankan pekerjaan anggota kru. Ia juga berharap keputusannya mampu membungkam anti-fan.

“Badan dan warna kulit saya sering dihujat [anti-fan], jadi saya kira mereka akan berhenti kalau saya tampil serasi,” dia mengungkapkan. Tebakannya ternyata salah besar.

Alex Reid tampak lebih langsing dengan rambut lurus. Foto dari arsip pribadi Alex Reid.

“Ada saja yang mereka komentari: Dih sok-sokan jadi orang Asia. Ngebet banget punya kulit putih,” tuturnya, menirukan sindiran hater. “Mereka malah tambah berani.”

Grup Reid ganti nama menjadi BP RaNia setelah ditinggalkan semua anggota aslinya pada 2016. Dia mulai berani membuka suara ketika diberi tanggung jawab sebagai ketua. Setiap ada perlakuan kurang baik yang Reid maupun rekan-rekannya hadapi, dia akan mengajak ngobrol tim manajemennya. Namun, keterbatasan bahasa kerap memperkeruh suasana.

“Bukannya manut seperti kebanyakan idola, saya malah membuka suara.”

“Saya rasa kesalahpahaman ini sering terjadi karena adanya perbedaan budaya, dan juga karena saya blak-blakan mengutarakan pikiran,” katanya. Reid pernah dicap sok diva gara-gara minta disiapkan makanan untuk semua anggota grup. Padahal, kondisinya saat itu mereka sudah 10 jam bekerja tanpa istirahat. “Menyindir perempuan diva sangat manipulatif, apalagi dia cuma meminta hal-hal biasa dan ingin kebutuhan dasarnya terpenuhi.”

Reid sadar dia seharusnya tutup mulut kalau mau dipertahankan, tapi dia sudah capek mengikuti alur. “Bukannya manut seperti kebanyakan idola, saya malah membuka suara,” lanjutnya.

Rintangan datang silih berganti hingga akhirnya sulit bagi semua pihak untuk memperbaiki hubungan. Reid tetap tersisihkan, baik dalam hal koreografi maupun pakaian. “Lama-lama rasanya seperti disengaja,” tandasnya. Karena itulah ia memutuskan hengkang dari BP RaNia pada Agustus 2017.

Selfie bareng teman satu grup. Foto dari arsip pribadi Alex Reid

Walaupun begitu, Reid menyebut perlakuan yang diterimanya selama menjadi idola berkulit Hitam di Korea tidak separah rasisme yang terjadi di kampung halaman. Dia tetap bersyukur telah diberi kesempatan untuk merasakan hidup sebagai penyanyi K-Pop. Momen ini takkan terlupakan seumur hidupnya.

“Bagian terbaiknya adalah kamu bisa menjalani hidup semaksimal mungkin, dan mendedikasikan semua yang kamu miliki demi hasil terbaik,” ujarnya. “Jarang-jarang kamu bisa mendapatkan ini saat berkarier.”

Dia menekankan semua orang bisa menjadi idola, tak peduli ras dan warna kulit mereka. Jangan sampai kamu berkecil hati menghadapi perbedaan. Selama kamu memiliki keteguhan hati dan pendirian yang kuat, selalu ada jalan untuk sukses.

Ditambah lagi, industri K-Pop kini mulai diramaikan dengan wajah-wajah baru dari latar belakang yang lebih beragam, seperti Lisa BLACKPINK dan Minnie (G)I-DLE yang keturunan Thailand, atau Hanni NewJeans yang berdarah campuran Vietnam-Australia. Tak hanya itu saja, agen pencari bakat Korea WAKEONE mengadakan audisi yang terbuka untuk siapa saja selama festival Hallyu KCON 2022 berlangsung di Los Angeles pada Agustus lalu.

Keragaman budaya nampak jelas di eks-grup Reid, yang sekarang berubah nama jadi BLACKSWAN. Tak ada satu pun anggotanya asli orang Korea, dan beberapa dari mereka tidak punya darah Asia sama sekali.

Foto oleh Jason Sanders dari arsip pribadi Alex Reid

Reid optimis terhadap masa depan permusikan Korea, dan yakin pencinta musik di Korsel pada dasarnya antusias melihat bakat-bakat yang lebih beragam. Namun, dia menyadari sistem kapitalisme akan menjadikan keragaman sebagai komoditas. “Perubahan demografi penggemar K-Pop berkaitan dengan adanya pasar untuk grup K-Pop yang lebih beragam. Ada potensi menguntungkan karena semua orang senang melihat diri mereka terwakili. Ini cara cepat menggaet penggemar,” terangnya.

Dia juga paham, butuh waktu yang panjang untuk menyingkirkan label “otherness” dalam masyarakat Korea yang homogen. “Keragaman bukan pemandangan sehari-hari di Korea. Mereka belum terbiasa [melihat orang yang berbeda dari mereka],” imbuhnya. “Saya tidak memandangnya negatif. Kita tidak akan tahu apa yang tidak kita ketahui.”

Hanya saja Reid berharap industri K-Pop lebih menghargai budaya kulit Hitam, yang selama ini menginspirasi konsep musik dan visual K-Pop. “Ketika karyamu terinspirasi oleh budaya kulit Hitam (atau budaya lain), kamu wajib mengakuinya dan memahami budaya tersebut dengan tepat, karena kamu mencari keuntungan pribadi dari situ,” dia menjelaskan. Reid lebih lanjut menyampaikan pentingnya mempekerjakan “liaison” yang bertugas sebagai perantara, dan dapat memastikan tidak terjadi apropriasi budaya saat idola berkarya.

“Keragaman bukan pemandangan sehari-hari di Korea. Mereka belum terbiasa [melihat orang yang berbeda dari mereka].”

Sebelum menutup obrolan kami, Reid memberi saran untuk para pembaca sekalian yang tertarik menjadi idola. “Pasti akan ada tekanan, dan sering kali kamu merasa harus menjadi orang lain supaya lebih diterima. Tapi kenyataannya tidak begitu. Kamu bisa mewujudkan impian dengan menjadi diri sendiri.”

Dia menambahkan, kesehatan dan kebahagiaan diri sendiri amatlah penting, jadi kamu tidak boleh lupa merawat diri. “Mudah sekali bagimu untuk diam saja dan membiarkan [perlakuan kurang baik] demi mewujudkan cita-cita. Namun, itu takkan ada artinya jika kamu tidak bahagia,” tuturnya. “Kamu berhak mengejar impian lain setelah mewujudkan salah satunya. Itulah yang saya lakukan sekarang.”

Reid sudah pulang ke Los Angeles. Saat ini, dia sibuk mempersiapkan lagu baru, yang rencananya akan dirilis enam bulan lagi. Dia juga menulis dua buku yang menawarkan kisah hidup idola di balik layar.

Follow Michele Ross di Instagram.