Situs Lelang Perempuan Muslim Amat Marak di India

Perasaan Nadia campur aduk saat melihat dirinya “dijual” dalam pelelangan palsu. Marah, kesal, takut, sedih. Tapi satu yang pasti, dia tidak terkejut sama sekali.

“Saya akan lebih kaget kalau tidak ada aplikasi atau pasar semacam itu,” ungkap Nadia, yang nama aslinya telah diubah untuk melindungi identitasnya. Profesi Nadia sebagai jurnalis Muslimah di negara bagian Kashmir telah menjadikannya target kebencian kelompok Hindu nasionalis.

“Jika kalian memahami interseksionalitas saya, kalian akan menyadari tingkat pelecehan yang saya hadapi dan mengapa saya sudah kebal terhadapnya,” lanjutnya. “Sudah sejak dulu kami menjadi korban fetish dan pelampiasan nafsu yang berasal dari kebencian.”

Memperlakukan perempuan Muslim sebagai objek seksual hanyalah satu dari berbagai bentuk intimidasi ekstremis Hindu terhadap 204 juta orang Islam, yang membentuk sekitar 15 persen dari total 1,4 miliar populasi India.

Foto-foto perempuan Muslim berpengaruh dipasang di situs lelang palsu macam “Bulli Bai”. Akun media sosial mereka juga ditautkan, memungkinkan siapa saja untuk menyerang mereka secara online. Ada sekitar 100 jurnalis, aktivis dan politikus perempuan yang dilelang di sana, termasuk aktris Bollywood, ibu yang anaknya hilang dan penerima Nobel asal Pakistan Malala Yousafzai.

Meskipun acara lelang itu hanya bohongan, tujuan utamanya ialah mempermalukan mereka-mereka yang berani bersuara dan menentang nasionalisme Hindu dan Islamofobia yang terus meningkat di bawah pemerintahan sayap kanan Narendra Modi.

Aplikasi open-source, Sulli Deals, mengadakan lelang palsu di Github tahun lalu. Sejumlah tokoh Muslimah terkemuka diiklankan sebagai “promo terbaik hari ini” di platform milik Microsoft.

Kedua istilah tersebut, “Bulli Bai” dan “Sulli”, memiliki konotasi yang merendahkan perempuan Muslim. Aplikasi-aplikasinya secara sistematis memfetishkan dan melecehkan mereka di negara yang semakin terpolarisasi.

Selama puluhan tahun, kekerasan terhadap perempuan Muslim Kashmir telah menjadi karakteristik konflik di Jammu dan Kashmir, satu-satunya negara bagian yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Namun, masalah ini telah merebak ke seluruh India.

“Saya dulu tidak menyadari kalau semua perempuan Muslim di India mengalami ini,” tutur Nadia. “Saya kira saya diperlakukan seperti ini karena terlahir sebagai orang Kashmir, tapi tampaknya perempuan Muslim secara umum kerap menjadi sasaran.”

Berdasarkan keterangan polisi, “Trads” bertanggung jawab atas kedua aplikasi. Kelompok sayap kanan itu terinspirasi oleh gerakan neo-Nazi yang menjamur di internet. Trads, singkatan dari tradisionalis, mempromosikan retorika genosida terhadap orang Islam, Dalit, Sikh dan kelompok minoritas lainnya di India.

Mereka kecewa dengan kelompok sayap kanan mainstream “Raitas” yang menurut mereka terlalu lunak terhadap Muslim dan minoritas lainnya. Sudut pandang Trads jauh lebih brutal daripada kelompok-kelompok di bawah naungan Modi. Contohnya bisa dilihat dalam video-video viral pemuka agama Hindu yang terkait dengan partai Modi menyerukan genosida massal terhadap pemeluk agama Islam. Ratusan aktivis Hindu, pendeta dan simpatisan bersumpah siap membunuh orang Islam demi mewujudkan negara Hindu.

Selain pelecehan online, perempuan Muslim di India juga rentan mengalami kekerasan fisik berlandaskan Islamofobia. Data terbaru menunjukkan lonjakan kejahatan Islamofobia. Pelacak independen terhadap kejahatan bermotif kebencian mencatat lebih dari 400 kasus yang menimpa warga Muslim di India selama empat tahun terakhir.

“Menjadi korban serangan kebencian merupakan ketakutan terbesar saya, dan kejahatan terhadap perempuan tidak hanya berakhir pada pembunuhan. Bisa juga pelecehan, penganiayaan [dan] pemerkosaan,” Nadia berujar. “Saya tak hanya mengkhawatirkan keselamatan pribadi, tapi juga anggota keluarga yang berada di lubang yang sama. Tak ada yang bisa saya lakukan untuk diri sendiri atau keluarga jika sampai terjadi apa-apa.”

Para perempuan yang masuk situs lelang memahami perasaan Nadia.

“Saya takut mengalami pelecehan fisik jika bepergian ke India,” kata jurnalis Quratulain Rehbar, yang pertama kali melaporkan tentang Sulli Deals kepada VICE World News. Dia juga menghadapi victim blaming di internet. “Orang menghakimi saya. Mereka penasaran kenapa nama dan foto saya dilelang. Mereka tidak menyadari apa yang sebenarnya terjadi, dan itu membuat saya sangat tidak nyaman.”

Aplikasi Bulli Bai juga menargetkan jurnalis Muslim Rana Ayyub yang aktif menentang pemerintahan nasionalis Hindu Modi. Jurnalis perempuan terkemuka seperti Ayyub telah menjadi sasaran pelecehan online yang intens di Tek Fog, aplikasi rahasia yang dimanfaatkan Partai Bharatiya Janata (BJP) untuk menyebarkan propaganda sayap kanan. Ayyub menerima sekitar 22.505 twit penuh kebencian sepanjang Januari-Mei 2021, jumlah tertinggi yang pernah diterima jurnalis perempuan di negara tersebut.

Pihak berwajib telah berupaya melacak keberadaan para pencipta aplikasi. Sejak ditemukan pada 1 Januari, Bulli Bai telah memicu kemarahan besar di India. Pekan lalu, empat orang mahasiswa termasuk Niraj Bishnoi dibekuk polisi atas dugaan menciptakan aplikasi. Pada 9 Januari, polisi menangkap web developer Aumkareshwar Thakur di kota Indore, negara bagian Madhya Pradesh. Lelaki 25 tahun itu diyakini mengembangkan aplikasi Sulli Deals.

Komisaris polisi Mumbai Hemant Nagrale membicarakan penangkapan terduga pencipta situs lelang perempuan Muslim pada 5 Januari. Foto: AP Photo/Rajanish Kakade

Menurut polisi, Bishnoi memberi petunjuk tentang Thakur saat diinterogasi. Thakur menghapus jejak digitalnya setelah Sulli Deals menghadapi backlash.

“Thakur menggunakan nama @gangescion saat bergabung ke grup Twitter TradMahaSabha pada Januari 2020. Isi obrolan mereka seputar menjelek-jelekkan perempuan Muslim,” wakil komisaris polisi Delhi KPS Malholtra memberi tahu awak media.

Penyelidikan kantor berita Article 14 tahun lalu mengekspos sejumlah akun media sosial yang dikelola kelompok Hindu nasionalis. Akun-akun tersebut mengunggah meme dan narasi pornografi tentang perempuan Muslim, yang mendorong terjadinya kekerasan seksual.

Polisi membeberkan Thakur memiliki tujuh akun Twitter selama dua tahun terakhir, dan mengikuti beberapa grup Trad di Twitter dan Telegram. Anggota lain dari grup utama yang diselidiki telah menghapus akun mereka. Polisi masih menyelidiki gawai Thakur untuk memulihkan semua kode dan gambar terkait aplikasi tersebut.

Terlepas dari serangkaian penangkapan baru-baru ini, Nadia pesimis mendapatkan keadilan. “Saya tidak berharap banyak pada otoritas yang bertanggung jawab atau berkuasa. Sudah lebih dari dua dekade kami hidup seperti ini, tapi tak ada satu pun yang membantu kami.”

Follow Rimal Farrukh dan Sahar Habib Ghazi di Twitter.