Sekarang Edit Foto Selfie Sudah Bisa Pakai Teknologi Kecerdasan Buatan

Belakangan ini, penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) sebagai alat menciptakan karya seni ramai diperbincangkan dunia internasional. Ada kekhawatiran kehadirannya akan menggantikan posisi seniman, serta menghilangkan esensi suatu karya seni karena “AI art” dapat dihasilkan secara instan menggunakan deskripsi teks singkat.

Meski banyak ditentang, teknologi berbasis machine learning semakin ke sini semakin canggih dan terus merambah bidang baru. Sekarang kita bisa memodifikasi selfie sedemikian rupa cukup dengan memasukkan beberapa kata. Dalam sekejap kita bisa mengganti jenis kelamin, berlibur di luar negeri hingga menjadi tokoh film.

Alat pembuat selfie instan ini pertama kali diviralkan oleh Fabian Stelzer. Dia mengutak-atik foto pribadinya pada situs yang menjalankan model Stable Diffusion, sistem machine learning ciptaan Stability.AI yang dapat menciptakan gambar dari deskripsi teks, lalu membagikan hasilnya dalam sebuah utas Twitter. Beberapa contoh selfie Stelzer memperlihatkan dirinya menjadi objek lukisan dan tokoh film, pergi nonton Woodstock, dan berubah menjadi perempuan.

Stable Diffusion dilatih menggunakan miliaran foto yang telah dianotasi dan diberi label berdasarkan isi dalam gambar. Seiring waktu, alatnya dilatih agar dapat mengasosiasikan kata dan istilah tertentu dengan jenis gambar, estetika dan tempat tertentu. Sudah banyak alat berbasis AI mirip Stable Diffusion yang tersedia di internet, salah satunya situs drawanyone yang mengklaim dapat menggambar manusia dalam sejam hanya bermodalkan lima foto sumber.

“Saya terkejut melihat hasilnya sangat akurat, padahal saya melatihnya dengan beberapa foto referensi saja,” kata Stelzer saat dihubungi Motherboard. “Hasil selfie-nya agak mirip satu sama lain, jadi saya bakal melatih foto baru dengan pose dan ekspresi yang lebih beragam.”

Stelzer sendiri juga telah meluncurkan proyek SALT, yang mampu menghasilkan film multiplot sepenuhnya dengan bantuan AI. Gambarnya diciptakan menggunakan alat seperti Stable Diffusion, Midjourney dan DALL-E 2, sedangkan suara untuk filmnya dihasilkan oleh alat-alat macam Synthesia dan Murf. Skrip film kemudian diciptakan pakai alat penghasil teks GPT-3. Sementara itu, kelanjutan alur cerita film ditentukan oleh hasil pemungutan suara para penonton.

“Saya rasa pendekatan komunitas open source yang dilakukan Stability.AI akan jauh lebih aman daripada pendekatan korporat tertutup yang memiliki aktor jahat. Dengan pendekatan komunitas yang lebih kecil, kita bisa mengoperasikan sistemnya secara kompeten,” simpulnya.