Perjalanan Bleu Clair dari Jogja Menjangkau Panggung Festival EDM Terbesar Dunia

Kurniawan Wicaksono, Gerald Liu, dan Osvaldo Rio, tiga nama itu harus dituliskan dalam satu kalimat utuh untuk memulai cerita ini. 

Di Yogyakarta circa 2013, ketiganya berstatus mahasiswa tahun pertama. Kurniawan dan Gerald ada dalam satu kelas program studi Akuntansi, sementara Osvaldo mengambil jurusan Hukum. Kuliah sambil bermusik adalah mekanisme hidup yang jamak dianut banyak muda-mudi di kota ber-UMR memprihatinkan itu. Namun buat ketiganya, mekanisme ini terbalik; bermusik sembari kuliah jadi sebutan yang lebih tepat untuk menjelaskan keseharian mereka.

Mengajak beberapa anak muda Jogja lain yang juga hobi bikin musik, persekutuan kecil para penyuka electronic dance music (EDM) terbentuk. Komunitas para produser muda tersebut rutin nongkrong bareng dan saling memberi masukan atas demo lagu masing-masing. Perlahan mereka mulai merilis karya kolaborasi. Makin lama, diskusi makin dalam, tak sadar hingga ketiganya tenggelam. Dalam waktu berdekatan, Kurniawan, Gerald, dan Osvaldo memutuskan cabut dari kampus untuk fokus mengejar cita-cita bermusik. 

Kesuksesan memang subjektif, tapi keputusan ini jelas membawa mereka ke tempat yang sangat jauh. Osvaldo menjadi juara pertama ajang The Remix NET TV musim pertama, Gerald baru saja memborong tiga piala AMI Awards 2020 setelah lepas landas bersama grupnya Weird Genius. Sementara Kurniawan, well, tentang dia lah artikel ini saya buat. 

Oke, dari mana kita mulai?

Menggunakan nama panggung Bleu Clair, Kurniawan ada di peringkat 22 dari Top 101 Producers 2021 versi situs 1001 Tracklist (sebagai konteks, Tiësto ada di peringkat 10 dan Diplo ada di peringkat 15). Electric Daisy Carnival (EDC) 2021 di Las Vegas, pagelaran dance music terbesar sedunia, adalah panggung festival pertamanya. Martin Garrix mengajaknya berkolaborasi untuk merilis “Make You Mine” (2020).

Bleu Clair baru saja selesai menyambangi 12 titik di Amerika Serikat dalam debut tur Amerika Utara pertamanya. Reddit membuatkannya sesi populer Ask Me Anything (AMA), Spotify memintanya mengunggah playlist DJ Mix miliknya sendiri. Daftar ini bisa terus berlanjut, namun saya kira sudah cukup bikin kita paham tentang kapasitas pemuda 26 tahun ini.

Kami bertemu secara virtual. Kurniawan berbincang dari kamar kosnya di Kemang, Jakarta Selatan. Mimik mukanya datar, nada bicaranya tenang. Saat saya tanyai soal kesehariannya belakangan, ia menjawab sedang “80 persen menyiapkan pernikahan, 20 persen kerja dan lain-lain”. Ketegangan saya langsung hilang, ngobrol dengan orang yang memprioritaskan cinta dan mencintai pasti menyenangkan.

Dengan segudang pencapaian yang bisa dibilang —tolong maafkan saya karena menggunakan kalimat ini— mengharumkan nama bangsa, banyak pendengar Bleu Clair yang sebal mengapa Kurniawan tak banyak diliput media nasional. Ia sendiri mengaku tak ambil pusing. Manajemennya memang belum menginvestasikan waktu membuat press release untuk mengumumkan dirinya sudah main di sana-sini. Kalau memang sudah waktunya, ajakan wawancara ia yakini akan datang sendiri.

“Kayak gini ini, gue enggak minta VICE buat interview gue kan? Hahaha,” ujarnya. 

Alhamdulillah-nya banyak pendengar [musik gue] yang vokal banget di media sosial. [Mereka ngomong] ‘Bleu Clair nih udah manggung di US kenapa enggak ada media yang liput bla bla.’ Gue berterima kasih juga sih sama mereka [karena] nyebarin awareness tentang gue [di Indonesia].”

Kurniawan Wicaksono a.k.a Bleu Clair. Foto dari arsip Alex Estrada (@fknstrada​), diunggah seizin Bleu Clair.

Lelaki kelahiran Denpasar tersebut mengaku kekagumannya kepada Skrillex, DJ dan produser musik asal Amerika Serikat, jadi pelecut awalnya bermusik. Mendengar EP My Name is Skrillex (2010) semasa kelas 2 SMA sukses menggugah rasa penasarannya mengulik kompleksitas suara yang terdengar. Tak lama, Kurniawan langsung mendaftarkan diri ke UI, alias universitas internet.

“Nih orang cara bikin lagunya gimana, bikin gue penasaran sampai cari di internet, liat di Reddit tentang gimana bikin dubstep. Liat tutorial di YouTube dan forum-forum online. Download Fruity Loops Studio (nama digital audio workstation, sebutan untuk software yang digunakan buat memproduksi lagu), ya udah nyoba-nyoba [bikin musik] di situ. Tapi, ya baru nemu komunitasnya yang sama-sama suka bikin lagu tuh di Jogja [bareng Gerald dan Osvaldo],” kenangnya.

Ada banyak musisi yang mengkompromikan waktunya di awal karier dengan mengambil pekerjaan lain, setidaknya untuk mengamankan penghasilan sampai saatnya bisa fokus bermusik. Keputusan drop out Kurniawan jelas mengandung risiko besar, sekaligus menandakan ia punya privilese besar pula. 

“Mungkin orang banyak yang bisa [kerja lain sambil bermusik], gue pribadi butuh 100 persen fokus di satu aja. Pertimbangannya [enggak lanjut kuliah] lumayan lama. Cuma, semakin gue coba kuliah, gue semakin ngerasa enggak cocok. Yaudah, I took a big leap untuk terjun jadi musisi [penuh waktu]. Lumayan banyak cekcok juga sama orang tua [awalnya]. You know, Asian parents being Asian parents,” kenangnya.

Satu hal yang terlihat dari manuvernya sejak awal karier, ia selalu merilis karyanya di bawah label-label independen. “Desir” (2014), single pertamanya sebagai Bleu Clair, dirilis bersama Depictive Records asal Jakarta. “Bullet Holes” (2015) dan “Handle This” (2015) di bawah The EDM Network asal London. “Rock This Place” (2016), “The Tastemaker” (2016), dan “Prodigy” (2016) di bawah Artist Intelligence Agency asal London. Sementara, “Clairvoyance” (2016) dirilisnya bersama Fated Records asal Amsterdam.

Kurniawan menekankan pentingnya peran label independen dalam perkembangan awal kariernya. Merilis di bawah label dianggapnya cukup membantu memperluas jangkauan pendengar di segmen tertentu. Beberapa rilisan Bleu Clair belakangan, termasuk EP Prelude (2021), dirilisnya bersama Insomniac Records, salah satu label terbesar di dunia EDM. Proses sampai bisa dilirik label besar ini ditempuhnya secara bertahap.

“Biasanya artis tuh bikin lagu dan dirilis di label-label independen dulu. Habis itu, kalau misalkan lagunya bagus dan unik, biasanya ada manajemen artis akan ngerekrut si artis buat kerja sama bareng. Habis itu, baru deh si artis ini dapat link ke label-label gede. Ya kayak simbiosis mutualisme aja. Manajemen dapet artis baru yang talented, artisnya dapat manajemen yang kompeten buat menghubungkan si artis baru dengan label-label [besar] ini,” ucap Kurniawan.

Di awal karirnya, Kurniawan menghubungi sendiri beberapa label musik independen yang ingin diajaknya bekerja sama dalam merilis karya. Ia biasanya nekat mengontak label tersebut langsung via email atau mencari akun Facebook dari A&R (artist and repertoire, staf label yang bertugas sebagai penghubung musisi dengan label) tertentu untuk di-chat via Facebook Messenger, mencoba menjajaki peluang kolaborasi. Namun, sebelum secara percaya diri menghubungi sana-sini, ia menekankan pentingnya membuat karya yang kuat dulu.

“Sebelum lo bisa pede, karya lo harus pantas dulu. Mungkin, sebelum lo asal submit  dan nge-chat orang [label], mending lo tanya feedback dulu dari temen-temen, atau dari siapa gitu,” sarannya.

Menemukan Identitas Sendiri

Sanjungan terbesar yang bisa didapat seorang musisi atau produser musik, setidaknya menurut saya, adalah saat banyak yang mengakui bahwa ada identitas unik dalam karya yang dihasilkannya. Meski mengaku hanya “mengalir saja” saat membuat lagu, Bleu Clair termasuk dalam kategori “musisi berkarakter” ini. Contoh gampangnya, lihat saja di YouTube, sudah banyak konten kreator membuat video tutorial berjudul bikin musik ala Bleu Clair.

“Pernah gue pengen banget [bikin karya] mirip sama seorang artis A. Begitu gue berhasil mirip, udah sebagus si artis A ini nih, waktu gue submit ke label, label malah kayak, ‘Yah, lo mah nyontek si artis A ini doang. Kalau mau rilis lagu kayak gini, ya kami hire dia aja,’ gitu. [Gue tersadar] kalau lo misalkan nyontek orang, sebagus apa pun contekan lo, lo palingan cuma jadi second grade-nya yang lo contek.”

Bleu Clair saat manggung di festival EDC Las Vegas. Foto dari arsip Alex Estrada (@fknstrada​), diunggah seizin Bleu Clair.

Perjalanan Bleu Clair menemukan suara uniknya sendiri bukan tanpa halangan. Pada 2016, setelah tersingkir awal pada ajang The Remix NET TV musim kedua, ia mendapati diri berada di persimpangan jalan. Mencoba masuk ke pasar Indonesia, ia disarankan mengubah musiknya menjadi lebih pop. “Denger masukan dari kanan-kiri, kalau mau sukses jadi musisi Indonesia, lo harus buat sesuatu yang nge-pop, sesuatu yang orang bisa relate, sesuatu yang radio-friendly. Karena gue [waktu itu] masih muda banget dan hilang arah banget, ya gue basically sell-out aja.”

Masa-masa itu diingatnya dengan tidak bersahabat. Kurniawan mengaku jadi musisi yang terlalu peduli dengan angka, seperti jumlah putaran lagunya di radio dan jumlah views di YouTube. Merasa lelah, ia memutuskan untuk menjadi diri sendiri: membuat lagu yang ia sukai, mencari label yang mau menerima musiknya, dan berhadap ada pendengar yang bisa mengapresiasi identitasnya tersebut, tanpa peduli lagi mereka berasal dari Indonesia atau bukan.

Konsistensi mencipta lagu-menghubungi label-merilis karya secara terus-menerus membuat seorang manajer musik asal Slovenia menawari Bleu Clair bergabung di bawah naungan manajemennya. Momen itu terjadi pada Agustus 2019. Kini, dibekingi tim kompeten, Bleu Clair lepas melanglang buana. 

Menjadi diri sendiri nyatanya tak hanya membuat Kurniawan menemukan pendengar, tapi juga menjadi magnet atas nama-nama besar untuk tertarik bekerja sama. Salah satunya: Martin Garrix.

Suatu hari pada 2020, sang manajer mengirimkan beberapa lagu Bleu Clair ke label milik Martin, STMPD Rcrds. Beberapa hari kemudian, Kurniawan kaget karena tiba-tiba Instagram-nya di-follow Martin. “Dia DM gue kayak, ‘Bro, lagu lo yang ini gue suka banget, would you be down to be working together with me?’ terus gue kayak, ‘Hah beneran nih Martin Garrix nge-DM gue?” kenangnya.

Obrolan ini berujung pada dirilisnya “Make You Mine” (2020). Martin menggunakan nama panggung lain, YTRAM, pada kolaborasi tersebut. Sampai saya menulis ini, lagu sudah didengarkan hampir empat juta kali di Spotify.

Debut tur Amerika Utara akhir tahun lalu diisi Kurniawan dengan berbagai cerita meriah: nekat nunjukin KTP Indonesia ke satpam bandara setelah lupa bawa paspor (tentu saja ditolak dan berujung ketinggalan pesawat menuju panggung di Kansas City), bengong empat detik setelah kaget papasan sama Lil Nas X di green room EDC, sampai kegiatan berjejaringnya dengan DJ-DJ lain yang ternyata juga diisi sama julid gogon alias gosip-gosip underground

Tahun ini, ia mengaku akan bolak-balik AS-Indonesia tiga kali. Ambisi terdekatnya: manggung di berbagai festival internasional lain, konsisten rilis karya, dan punya studio sendiri. Saya mengamini ambisi tersebut, sembari berharap setinggi apa pun pencapaian Kurniawan nanti, ia tetap memprioritaskan cinta dan mencintai.