Perjalanan Bitel,Sosok 'Gila' yang Gigih Menghijaukan Pesisir Aceh

Lelaki yang akrab disapa Bitel itu berjalan menyusuri tepian kuala tak lama setelah azan ashar berkumandang di Desa Sinabang, Kabupaten Simeulue, Provinsi Aceh. Tangannya menggenggam beberapa buah bakau (mangrove). Buah tersebut ia dapatkan dari lokasi pertemuan ujung sungai dan pangkal laut.

“Buahnya ini yang nanti dibawa ke rumah untuk dijadikan bibit,” kata Bitel, sambil memperlihatkan mangrove di tangannya. Sejurus kemudian, Bitel melintasi jejeran tanaman bakau yang tingginya bervariasi, di kuala yang jadi lokasinya beraktivitas sehari-hari.

Bitel bukanlah nama asli dari pria kelahiran Sinabang, Kabupaten Simeulue, pada 1 Januari 1967 tersebut. Panggilan itu muncul karena hobi dan kesukaannya menyanyikan lagu-lagu The Beatles semasa SMA. Nama asli ayah sepuluh anak ini adalah Suhermiadi. 

Bitel dikenal banyak orang memiliki dedikasi tinggi terhadap lingkungan di pesisir Simeulue. Kerja kerasnya menanam bakau telah mendapat pengakuan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang pada November 2021 lalu menganugrahkan Kalpataru kepada kelompok yang didirikan Bitel, yakni Komunitas Peduli Laut Simeulue (Kompilasi). Komunitas ini mendapat predikat sebagai Penyelamat Lingkungan.

Bitel konsisten menanam bakau di pesisir. Setiap harinya dua jam waktu dia sediakan melakukan penanaman mangrove, sejak 2017. Hasilnya lebih 20 hektare kawasan yang langsung berhadapan dengan laut tersebut berhasil kembali dihijaukan.

Selepas kerja keras itu, dia akan kembali ke rumahnya , di Desa Suka Karya, Kecamatan Simeulue Timur. Di rumah semi permanen tipe 36 dengan pagar kayu itulah, sang “penyelamat lingkungan” tinggal bersama sang istri Nurasyifah, dan 10 anak mereka.

Di depan rumahnya, dua tiang kayu dicat merah putih berdiri menyanggang papan selancar bekas. Bentuknya seperti gapura, dengan tulisan besar “#STOP BUANG SAMPAH PLASTIK KE LAUT DAN SUNGAI. LAUT MASA DEPAN ANAK CUCU BANGSA.”

“Selain saya, sekarang hanya delapan orang anak saya yang tinggal di rumah, dua lagi sedang kuliah di Bekasi dan Aceh,” kata Bitel. “Mereka baru saja selesai sidang tugas akhir di kampusnya,” imbuh pria berambut ikal tersebut.

Sepetak halaman di depan rumah bersahaja itu menyimpan ratusan batang bibit mangrove dari berbagai jenis, mulai dari Rhizophora Apiculata, Rhizophora Sonneratia Alba, Rhizophora Mucronata, dan Rhizophora Avicennia. Bitel memanfaatkannya sebagai tempat melakukan eksperimen pengembangan bibit tumbuhan yang biasa hidup di kawasan pesisir tersebut.

Cara pengembangan bibit mangrove yang dilakukan lelaki berdarah Batak ini terbilang unik, bahkan minim anggaran. Lazimnya bibit mangrove ditanam di kantong plastik, akan tetapi Bitel hanya memanfaatkan beberapa karang, cangkang, pelepah, botol kaca serta kemasan maupun wadah plastik bekas sebagai pot. Sementara untuk mencari bakal bibitnya, Bitel hanya bermodal tenaga, dengan memungut buah-buah yang hanyut ke pantai.

“Jadi sewaktu saya melakukan pembibitan itu awalnya menggunakan polybag, sementara plastik mudah didapat. Daripada membeli polybag dengan pertimbangan uang keluar, lebih bagus saya memanfaatkan kemasan plastik sekali pakai,” ujarnya.

Bitel memamerkan bibit bakau yang dia tanam di wadah tak lazim di halaman rumahnya.

Metode Bitel di luar kelaziman teori pengembangan bibit mangrove, yang mengasumsikan tanaman Rhizophora membutuhkan banyak tanah serta mustahil tumbuh di karang. Saat kami berbincang, Bitel tak ragu menghadirkan beberapa bibit mangrove hasil eksperimennya ke ruang tamu.

“Pokoknya jangan kurang air. Apapun tempatnya [menanam bibit bakau], air harus tersedia di situ. Sebab air adalah sumber kehidupan,” urai Bitel.

Rumah yang dihuni Bitel termasuk proyek dari Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) pasca-tsunami Aceh 2004 silam. Di ruang tamunya yang lengang, mata siapapun akan segera tertuju pada tiga piagam penghargaan terkait lingkungan yang dia terima. Hasil kerja keras yang amat dia banggakan.

Mengapa Bitel bisa begitu peduli pada bakau dan pesisir? Maka kita harus kembali ke masa lima tahun lalu.

Bitel sudah biasa hidup dekat laut. Sebelum jadi pegiat lingkungan, dia adalah anggota penyuluh perikanan di desanya. Pandangannya soal bakau mulai berubah ketika dia mengikuti kampanye “Hari Menghadap ke Laut”, yang kala itu dikumandangkan Susi Pudjiastuti yang kala itu masih menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan.

Agendanya sederhana, warga diajak untuk membersihkan sampah plastik dari lokasi pesisir dekat rumah mereka. Di hari itulah, Bitel baru menyadari betapa banyak tumpukan sampah di batang-batang bakau kawasan Simeulue. Dia menyadari tumpukan plastik itu bukanlah suatu kondisi yang wajar.

Kesadaran melakukan penghijauan di kawasan pesisir lantas tumbuh di hati Bitel. Dia tak ingin tindakan menjaga lingkungan hanya dengan membersihkan sampah semata. Timbul ide dalam benaknya melakukan penanaman mangrove lebih marak di wilayah pesisir.

Menurut Bitel, sampah plastik bisa dibersihkan dalam sehari, namun akan timbul lagi sisa-sisa pembuangan di kemudian hari. Sedangkan menanam satu batang mangrove bisa berpotensi menumbuhkan seribu tanaman yang sama di waktu mendatang.

“Terus [menanam bakau] menjadi kecintaan bagi saya melakukan penghijauan,” ucap Bitel.

Awalnya, Bitel hanya mampu menanam puluhan bibit mangrove. Kini, berkat sokongan komunitas, dia dapat menanam ratusan tanaman Rhizophora dalam dua jam. Kawasan yang tersentuh kerja keras komunitas Bitel mencakup pesisir Suka Karya, Lugu, Jembatan Biru, Sefoyan, Damai Makmur, Teluk Sinabang, Trohok, Pulau Nul Nul, Pulau Delapan, dan Pulau Ujung Siku.

“Semuanya masih dalam Kecamatan Simeulue Timur,” ujarnya.

Salah satu kuala di pesisir yang telah ditanami bakau oleh Bitel.

Sayangnya, keputusan Bitel mendedikasikan waktu dua jam tiap hari menanam bakau bukannya bebas masalah. Dia sempat diejek tetangga, bahkan keluarganya sendiri.

“Pertama kali tanam bakau saya dianggap kurang kerjaan. Orang gila, cari perhatian,” ujar Bitel sambil tertawa. “Bahkan anak saya pernah membuat gerakan cemeeh (mengejek-dalam Bahasa Aceh-red),” imbuhnya seraya memperagayakan gerakan cemooh. Lebih buruk dari cercaan, mangrove yang baru ia tanam pernah dicabut dan diobrak-abrik orang tidak dikenal. Kemungkinan, karena lokasi air dangkal untuk penanamannya sudah dipatok jadi lokasi rumah baru atau tempat penambatan kapal oleh warga sekitar.



Meski begitu, niat dan semangat pria bernama asli Suhermiadi itu menghijaukan kawasan pesisir di kampung halamannya tak surut. Dia melanjutkan pekerjaannya tanpa imbalan tersebut. Tanaman yang dirusak dia ganti lagi tanpa mencari siapa pelakunya, sembari melakukan perluasan wilayah penanaman.

Nurasyifah pun mengaku sempat mengungkapkan kekhawatiran pada sang suami. Pencabutan bibit bakau dan cercaan orang cukup mempengaruhi psikologisnya. Belum lagi, di lokasi awal eksperimen penanaman bakau, yakni di belakang Pasar Inpres Sinabang, kerja keras Bitel seakan sia-sia. Daerah itu telah berubah menjadi rumah-rumah warga, kandang ayam, hingga tempat bangkai perahu. Tak ada lagi bakau yang banyak ditanam setengah dekade lalu.

“Saya bilang sama bapak, apa tidak marah masyarakat [semua pesisir ditanami bakau]? Dibilang, ‘enggak, ini kan untuk melindungi lingkungan kita,” ujar perempuan akrab disapa Elok itu. “Saya pikir kita bakal capek, kita tidak digaji. Tetapi dibilang ‘ya tidak apa-apa, inikan dari hati kita’.”

Melihat kegigihan Bitel melakukan kerja swadaya itu, Nurasyifah tersentuh dan akhirnya ikut membantu sang suami menghijaukan kawasan pesisir di kampung halaman mereka. Malah, anak-anak yang awalnya melarang sang ayah sibuk menanam bakau setelah bekerja, kini ikut membantu, termasuk sanak saudara mereka. Bitel mengaku, agar lebih massif menciptakan gerakan menanam mangrove, dirinya akhirnya coba mendirikan komunitas. Kompilasi, yang dibentuk sejak 2020, kini eksis dengan 20 anggota.

Nurasyifah dan Bitel memamerkan berbagai piagam atas kerja keras menanam bakau di Kabupaten Simeulue.

Bagi Elok, meski sang suami tidak mendapatkan bantuan dana dari negara atau lembaga manapun dari upaya penghijauan tersebut, namun ada kebahagiaan tersendiri dari hatinya ketika melihat mangrove tumbuh besar.

“Senang lah hati kita menengok sudah ada hasilnya. Walau secara materi kita tidak dapat apa-apa,” ucapnya.

Awan kelabu menyelimuti sebagian langit Simeulue, termasuk Sinabang. Namun tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Kondisi ini diakui Bitel sangat bersahabat untuk penanaman mangrove. Sebab, cahaya matahari tidak akan menyengat kulit dan bibit yang baru ditanam.

Sepeda motor bebek yang usianya hampir dua dekade melaju dari rumah Bitel membelah jalanan. Hari itu, Bitel hendak menuju kuala di Dusun Damai Makmur dan Dusun Suka Makmur.

Bitel tidak sendiri. Dia ditemani Raka dan Cikal, dua bocah laki-laki yang merupakan keponakan serta cucu dari peranakan saudaranya. Mereka di waktu senggang kerap membantunya mengutip buah dan menanam mangrove.

“Mereka senang kalau diajak kemari. Biasanya malah lebih ramai lagi anak-anak yang ikut,” ujar Bitel yang memperhatikan Raka dan Cikal begitu lihai berjalan di luluk sambil mengutip buah mangrove dari tempat istirahat di ujung kuala.

Kalau ada hal pahit dari segala kerja keras ini, perkaranya bukanlah soal duit, hinaan orang, atau perusakan bibit bakau. Bitel mengaku paling sebal ketika upaya penghijauan swadaya itu diklaim salah satu instansi pemerintah di kabupaten sebagai kelompok binaan mereka. Padahal, Bitel mengaku tidak pernah mendapatkan bantuan apapun dari instansi tersebut selama kegiatan ini berjalan.

Hal lain yang mengganjal baginya adalah rumitnya aur birokrasi untuk membantunya mengangkut sampah yang dia bersihkan dari pesisir. Ketika mengajukan permohonan ke instansi yang mengelola sampah di Simeulue, ada sekian dokumen yang harus dia urus dan hal itu membuatnya pusing.

“Lalu saya bilang, kalau lah rumit begini main surat-surat dan saya tidak paham mengenai surat itu. Kalau bisa kerja sama ya kerja sama, kalau tidak ya sudah,” ucapnya.

Dia akhirnya memutuskan menggantung sampah-sampah tersebut di kayu yang memagari kuala, sebagai bentuk protes terhadap rumitnya kebijakan pemerintah.

Kayu berhias sampah memagari kuala sebagai protes Bitel terhadap pemerintah setempat.

Tapi, berbagai onak duri dalam perjalanannya menghijaukan pesisir itu kini dia anggap angin lalu. Bagi Bitel, dengan atau tanpa penghargaan serta bantuan, menanam mangrove sudah serupa hobi yang bermanfaat. Menurutnya, hutan bakau yang rimbun sudah pasti menjadi penyangga kehidupan bagi semua mahkluk. Di rerimbunan bakau, akan muncul rumah bagi kepiting, ikan bertelur, burung bersangkar, dan tentunya juga sebagai benteng alam di wilayah pesisir agar tidak terjadi abrasi.

Lelaki yang hanya tamatan SMA ini memiliki keinginan besar dari usaha dilakukannya, yakni membuat ekowisata mangrove di kemudian hari. Dia pun telah mempelajari bagaimana cara mengelola areal penanaman mangrove yang nantinya bisa dijadikan obyek wisata dan berdampak terhadap ekonomi masyarakat.

“Oleh karena itu, mulai dari sekarang itu sudah saya bikin pola acuan tanam yang bisa kemudian hari jadi bagus dan bisa menjadi objek masyarakat,” ucap Bitel.

Awan kelabu di langit, mulai ditembusi rona jingga, tanda kegiatan sampingan menanam bakau harus diakhiri. Sebelum kembali ke rumahnya, Bitel menyempatkan diri menanam sebatang bibit bakau yang baru diambil dari tempat penyimpanan tak jauh dari kuala.

Dia mengaku bakal tetap melakukan penanaman bakau, meski telah diganjar Kalpataru. Sebab, ada kebahagiaan tersendiri bagi Bitel ketika menanam dan melihat mangrove tumbuh. Baginya, menyelamatkan mangrove sama halnya menyelamatkan anak dan cucunya kelak.

“Apa yang saya kerjakan itu tidak sia-sia walaupun money-nya tidak ada, tetapi melihat hijaunya saja sudah bahagia. Sudah bahagia saya melihat,” ucapnya. “[Saya akan terus menanam bakau] sampai tubuh saya tidak sanggup lagi. Sampai tubuh saya tidak sanggup lagi,” ucapnya dengan senyum tersungging.


Muhammad Saifullah adalah jurnalis lepas yang tinggal di Banda Aceh.