Perempuan Meksiko Terobsesi Tren Buchona, Punya Badan Seksi Ala Istri Kartel Narkoba

Paulina Ramírez García sudah punya bayangan seperti apa penampilan barunya nanti ketika mendatangi sebuah klinik sedot lemak di kotanya. Dia berencana mengecilkan perut, lalu menyuntikkan lemak ke bokong untuk mendapatkan badan langsing dan montok ala “buchona”.

Di Meksiko, istilah “buchona” biasanya digunakan sebagai julukan untuk kekasih atau istri gembong narkoba. Kecantikan mereka bak model papan atas, dengan lekukan tubuh yang sempurna. Perempuan mana pun pasti iri melihat perut mereka yang rata, pinggang kecil dan dada besar.

“Banyak perempuan di Sinaloa berangan-angan menikahi gembong narkoba karena mereka mendambakan gaya hidup yang mewah,” terang Isaac Tomas Guevara Martinez, psikolog sosial yang mempelajari masalah kekerasan di negara bagian Sinaloa. Emma Coronel, istri gembong narkoba Joaquín “El Chapo” Guzmán, adalah panutan mereka.

Namun, Paulina tidak menyadari tempat pilihannya bukan klinik resmi. Dokter yang menangani juga bukan ahli bedah plastik, melainkan dokter umum biasa. Harapannya, dengan membayar $2.000 (Rp31 juta), ia akan mendapatkan tubuh ideal, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Perempuan 26 tahun itu berakhir di rumah sakit akibat komplikasi. Berdasarkan keterangan pihak berwenang dan keluarga Paulina, Dr. Amayrani Adilene Rodríguez Pérez melubangi organ internalnya, termasuk paru-paru dan usus, sebanyak enam kali. Tindakan ini menyebabkan syok septik.

Selama tiga minggu dirawat di rumah sakit, Paulina membutuhkan bantuan intubasi. Foto yang diterima VICE World News memperlihatkan kulit di bagian perutnya telah membusuk. Dia meninggal dunia pada 9 Maret, 22 hari setelah sedot lemak.

Klinik kecantikan ilegal yang didatangi Paulina Ramírez García. Foto: Deborah Bonello

Keluarga Paulina mengatakan, Rodríguez Pérez tidak mau bertanggung jawab dan tak pernah kelihatan batang hidungnya. Kuasa hukum sang dokter bahkan sulit dihubungi. Dia ditangkap atas tuduhan pembunuhan tingkat pertama, tapi kemudian dibebaskan dengan jaminan. Dakwaannya bahkan telah diturunkan menjadi pembunuhan tidak berencana. Saat ini, Rodríguez Pérez masih menunggu jadwal sidang pada November mendatang.

Gaya buchona menjadi semacam tren kecantikan di Instagram dan TikTok. Perempuan memamerkan tubuh indah mereka, sambil sesekali menceritakan persiapan mereka sebelum dan sesudah operasi. Paman Paulina, José Angel Angulo, mengungkapkan, keponakannya terobsesi memiliki badan seperti yang sering ia lihat di media sosial. “Dulu anak perempuan ingin merayakan pesta ulang tahun ala quinceañera (putri raja), tapi sekarang mereka lebih suka sedot lemak,” tukasnya.

Randy Ross, pejabat kesehatan masyarakat setempat, mengutarakan selama dua tahun terakhir, semakin banyak bermunculan klinik bedah plastik yang tidak punya izin usaha di Sinaloa. Menyusul kematian Paulina, pemerintah menutup 24 klinik yang tidak memenuhi syarat pada awal September. Akan tetapi, sulit menentukan berapa banyak klinik ilegal yang beroperasi di negara bagian tersebut, mengingat praktiknya sangat tertutup. Sementara itu, untuk tempat yang telah terdaftar, totalnya saat ini ada 233 klinik.

Saat VICE World News mengunjungi klinik Rodríguez Pérez di pinggiran kota Culiacán, yang kami lihat hanyalah bangunan putih polos dengan jendela dan pintu kaca. Tak ada yang mencolok darinya. Juga tak ada plang nama klinik.

“Klinik semacam ini sulit ditemukan karena sekilas terlihat seperti rumah biasa. Orang biasanya baru tahu ada klinik itu setelah ada yang melapor,” Ross menjelaskan.

Menurut ahli bedah berlisensi Dr. Rafaela Martinez Terrazas, kasus Paulina hanya “puncak gunung es”. Dia mengaku sering menangani pasien komplikasi yang disebabkan oleh prosedur kecantikan gadungan. Tapi sayangnya, pemerintah tidak memiliki data tentang kematian yang terkait dengannya. “Tak ada yang tahu berapa banyak perempuan meninggal karena ini,” ujarnya.

Tren buchona yang menjamur di berbagai kalangan masyarakat mempromosikan standar kecantikan yang tidak realistis. Satu-satunya cara mengubah penampilan bak boneka Barbie yaitu dengan operasi plastik. Walau kebanyakan perempuan rela mengambil langkah ekstrem demi tampil cantik, memiliki badan seksi ala gadis impian bos kartel juga menjadi simbol mereka punya duit. Padahal, kondisi di balik layar tak selalu begitu.

Program cicilan “cundina” menjadi andalan para perempuan yang juga ingin terlihat cantik, tapi penghasilan pas-pasan. Setelah bergabung dengan kelompok yang telah ditentukan, mereka akan membayar dua minggu sekali sampai uangnya cukup untuk menjalani operasi plastik. Ada juga klinik yang menawarkan prosedur kecantikan dengan harga terjangkau. Peminat program-program ini cukup besar di Sinaloa—terutama di kalangan anak muda—terlepas dari fakta klinik yang menyediakannya tidak terdaftar dalam database pemerintah.

Pajangan foto Paulina Ramírez García di rumahnya. Foto: Deborah Bonello

“Sedot lemak berisiko tinggi, sehingga harus ditangani oleh dokter profesional dan kamu wajib konsultasi sebelum melakukannya. Operasi kecantikan telah menjadi hal yang wajar di sini, sehingga hal-hal tersebut sering terlupakan,” tutur Angulo.

Kendra, 29 tahun, pertama kali mencoba sedot lemak sekitar tiga tahun lalu. Dia juga memancungkan hidung dan suntik botox di bibir. Sama seperti Paulina, klinik pilihannya tidak terdaftar. Tapi untung baginya, dia tidak mengalami masalah apa pun pascaoperasi.

“Kendra” pernah operasi plastik di klinik tak terdaftar. Foto: Deborah Bonello

“Saat muda dulu, saya sama sekali tidak tertarik punya pinggang kecil dan bokong besar,” ungkapnya. “Tapi begitu saya beranjak dewasa, saya sering menyaksikan teman-teman pergi ke dokter bedah. Para perempuan yang punya pinggang ramping dan payudara besar terlihat sangat cantik. Saya akhirnya membatin, ‘Aku juga mau punya payudara dan bokong besar.’ Itu impianku.”

Telenovela yang menceritakan kehidupan glamor gembong narkoba semakin memompa ambisi Kendra berpenampilan seperti buchona. Dia bukan satu-satunya perempuan yang mendambakan hal itu.

VICE World News menemukan fakta bahwa Paulina bukan korban pertama Rodríguez Pérez. Ada dua perempuan lain yang menderita komplikasi setelah menjalani sedot lemak dengannya. Namun, belum diketahui ganjaran apa yang akan diterima oleh dokter bedah abal-abal itu.

Jaksa Agung Negara Bagian Sinaloa Sara Bruna Quiñónez Estrada geram saat mendengar kabar hakim telah menurunkan dakwaan Rodríguez Pérez, karena menurutnya, ia pantas dipidana sesuai tuduhan pembunuhan tingkat pertama.

“Pertama, dokter itu tidak punya sertifikat, dan bukan dokter spesialis bedah. Itu artinya dia tidak mematuhi undang-undang kesehatan saat mengoperasikan kliniknya. Tempat praktiknya juga tidak menerapkan prosedur keamanan yang diperlukan,” tegasnya.

(Kiri ke kanan) Fabiola Ramírez Garcia, Dolores Garcia dan Arely Ramírez Garcia memegang foto Paulina di rumah mereka di Eldorado, Sinaloa. Foto: Deborah Bonello

Tapi apa mau dikata. Rodríguez Pérez bisa bersantai di rumah, sedangkan keluarga Paulina bersusah payah memperjuangkan keadilan. Dari rumah kecilnya di kota Eldorado, Dolores Garcia hanya bisa meratapi kepergian cucunya. Sang nenek marah besar mengetahui dokter gadungan dibebaskan dari penjara.

“Dia tidak pantas disebut ahli bedah plastik — dia penipu!” semburnya. “Dia harus dipenjara supaya tidak ada lagi perempuan yang menjadi korban.”

America Armenta berkontribusi dalam laporan ini.