Penelitian: Umat Manusia Baru Bisa Memakai Energi Bumi Secara Efektif pada 2371

Umat manusia telah menggunakan energi yang sangat besar selama ribuan tahun, dimulai dari api unggun, domestikasi hewan hingga akhirnya berkembang ke sumber daya yang jauh lebih modern, seperti bahan bakar fosil, tenaga nuklir, dan energi terbarukan — angin, air dan surya.

Meskipun demikian, perjalanan kita masih sangat panjang untuk menjadi peradaban yang mampu menghasilkan jumlah energi setara SDA yang berasal dari Matahari. Jika sampai ini bisa terjadi, maka kita akan mencapai peradaban Tipe I Kardashev, skala yang mengukur kemajuan suatu peradaban berdasarkan konsumsi energinya.

Digagas oleh astronom Rusia Nikolai Kardashev, skala ini terbagi dalam tiga kategori. Peradaban Tipe I mampu memanen dan menggunakan energi yang disediakan oleh planet tempat tinggalnya. Tipe II mampu menyerap seluruh energi dari bintang terdekat. Sementara itu, Tipe III mampu menguasai semua energi dari galaksi.

Penelitian yang diketuai Jonathan Jiang, ilmuwan Laboratorium Propulsi Jet NASA, kini menyajikan perkiraan kapan peradaban manusia akan mencapai Tipe I. Dengan mempertimbangkan penggunaan dan pasokan energi dari tiga sumber daya utama—bahan bakar fosil, tenaga nuklir dan SDA terbarukan—serta memikirkan potensi kepunahan makhluk Bumi akibat konsumsi tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa kita akan menyandang status sebagai peradaban Tipe I sekitar 349 tahun lagi. Hasil perhitungan ini diuraikan dalam studi yang terbit di server pracetak arXiv.

Jiang dan rekan-rekan juga menggunakan “rumus K” yang diciptakan oleh astronom AS Carl Sagan, yang melihat skala Kardashev sebagai gradien, bukan tiga tipe.

“Dalam rumus aslinya, peradaban Tipe I Kardashev didasarkan pada konsumsi keseluruhan energi suatu peradaban,” terang Jiang dalam email. “Itu seharusnya juga mencakup kendali suatu peradaban atas planet tempat tinggal mereka.”

Tim peneliti Jiang lalu terpikir menggunakan Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim dan Badan Energi Internasional untuk mempertimbangkan batasan lingkungan saat sedang menganalisis konsumsi dan pasokan tiga sumber energi terpenting yakni bahan bakar fosil, tenaga nuklir dan energi terbarukan berdasarkan rumus K Carl Sagan.

Butuh ribuan tahun bagi manusia untuk mencapai peradaban Tipe II maupun Tipe III, dengan asumsi kita mampu menghasilkan energi yang begitu besar. Meski progres kita saat ini untuk menuju Tipe I sudah 73 persen, kemajuan itu memiliki konsekuensi yang sangat besar bagi lingkungan. Bahan bakar fosil menjadi penggerak utama dunia, tapi sumber daya ini mempercepat perubahan iklim dan menimbulkan fenomena alam mematikan, seperti bencana alam dan polusi — semua ini mengancam kita masuk ke Great Filter yang salah.

Fuyang Feng, ahli astronomi Beijing Normal University yang ikut menulis studi ini, memperingatkan, jangan harap manusia bisa mencapai peradaban Tipe I dan menghindari Big Filter apabila kita tak mampu menyeimbangkan penggunaan sumber energi utama. 

Untuk alasan inilah, studi terbaru mengasumsikan konsumsi bahan bakar fosil harus dihentikan total dalam tiga dekade ke depan jika manusia tidak mau punah. Di luar cakrawala itu, produksi sumber daya alternatif—seperti tenaga nuklir, surya, air dan angin—harus ditingkatkan dengan sangat cepat untuk memenuhi kebutuhan global. Meskipun demikian, penelitian ini juga memisahkan tenaga nuklir sebagai bentuk energi lain yang membahayakan manusia jika produk buangannya tidak ditangani dengan tepat.

“Meningkatnya pengembangan energi nuklir dinilai sangat mengkhawatirkan karena sumber daya yang begitu kuat dapat membahayakan seluruh kehidupan di Bumi, sementara kita berusaha menghindari Great Filter,” tulis para peneliti. “Jadi, seiring dengan peningkatan laju pertumbuhan pembangkit tenaga nuklir yang signifikan, kita harus mengadopsi teknologi yang diimprovisasi agar bisa menangani pembuangan limbah radioaktif secara lebih aman, seraya beralih ke sumber daya yang lebih bersih.”

Jiang dkk. mengutip penelitian serupa yang memperkirakan kemungkinan manusia mencapai peradaban Tipe I pada 2347. Namun, studi terbaru sedikit lebih konservatif dalam memperkirakan tingkat pertumbuhan teknologi bersih, karena peneliti mempertimbangkan peran perubahan kebijakan yang melibatkan penggunaan energi dan faktor kompleks lainnya, sehingga perkiraannya mundur jadi 2371.

Dengan menggabungkan semua faktor di atas, studi mengajukan jika manusia mampu beralih ke energi terbarukan dalam beberapa dekade mendatang, maka kita bisa menyandang status sebagai peradaban Tipe I di abad ke-24. Para peneliti menyadari betapa sulitnya membuat prediksi di tengah ketidakpastian, tapi mereka melihat ini sebagai sarana mempertimbangkan tanggung jawab manusia dalam melindungi planet dan seisinya.