Penelitian: Gen Z Lebih Siap Menerima Takdir Kematian Daripada Generasi Boomer

Kematian merupakan topik yang sebisa mungkin kita hindari. Kita sadar semua makhluk hidup akan mati suatu saat nanti, hanya saja kita belum siap menghadapinya. Tapi sejak pandemi, membicarakan kematian bagaikan bergosip — mengalir begitu saja seperti obrolan sehari-hari.

Sentimen ini didukung oleh penelitian terbaru yang mengungkapkan Covid-19 telah mengubah pandangan sepertiga orang Inggris tentang kematian. Hasil survei yang dilakukan platform warisan online Aura menunjukkan, Gen Z mendorong perubahan ini. 

Dari 2.000 peserta yang mengikuti survei, responden Gen Z empat kali lebih mungkin merencanakan kematian dan membuat bucket list (ha-hal yang ingin dilakukan sebelum meninggal) daripada generasi tua. Kemungkinan mereka membicarakan kematian dengan teman tiga kali lebih tinggi, dan empat kali lebih tinggi kepada keluarga.

Penelitian lebih lanjut membeberkan kaum milenial menjadi kelompok yang paling takut mati sejak awal pandemi. Generasi ini juga lebih cenderung merencanakan keuangan, dan secara signifikan lebih mungkin untuk membicarakan kematian dengan anaknya daripada orang tua.

“Ayahku mudah tertular penyakit, tapi masih kumpul bareng temannya di luar. Ayah bertingkah seperti tidak terjadi apa-apa,” keluh peserta berusia 21. “Saya akhirnya mengajak keluarga ngobrolin kematian dan pandemi. Tidak mudah dibicarakan, tapi kami merasa lebih baik setelahnya — saya jadi lebih menghargai kematian.”

Pendiri Aura Paul Jameson (ayahku yang menderita penyakit saraf motorik) melihat sisi positif pandemi pada kesediaan orang mendiskusikan kematian. “Kematian tidak dapat dihindari, tapi jarang ada yang membicarakannya. Tidak baik memendam perasaan yang mengganjal, dan COVID mulai mengubah sikap ini,” ujarnya.

Cariad Lloyd, penyiar The Griefcast yang membicarakan kematian dan perasaan duka dengan pelawak, sepakat pandemi telah membuka percakapan seputar kematian. “Kalian tidak bisa menghindarinya ketika angka kematian terus bertambah,” Lloyd menerangkan. “Kalau dulu kalian lebih sering senang-senang, kalian sekarang memiliki banyak waktu untuk merenungkannya dan mempertimbangkan kelemahan diri.”

Media sosial juga menjadi alasan Gen Z lebih terbuka dengan topik ini. Hasil survei menemukan dibandingkan dengan Boomer, mereka empat kali lebih mungkin mengunjungi kafe bertema kematian atau mengikuti komunitas online yang membahas kematian.

“Saya lihat di Facebook, ada teman yang mengunjungi kafe kematian,” tutur responden yang berusia 22. “Saya terdorong untuk pergi karena selalu merasa takut setiap memikirkan [kematian]. Saya berusaha sekeras mungkin untuk menghindari [topik] ini. Di sana, saya baru tahu kalau kecemasan ini berasal dari thanatophobia (ketakutan berlebih akan kematian). Saya mendapat pencerahan setelah membicarakannya secara terbuka.”

Louise Winter, penulis buku We All Know How This Ends yang akan terbit, berpendapat anak muda bisa mengurangi rasa takut mati dengan mengekspresikan pikiran dan perasaan mereka.

“Topiknya tidak hanya untuk orang tua saja. Sangat hebat jika anak muda juga merangkulnya,” katanya. “Mereka tidak diam saja — semakin banyak yang melihat kematian dari lensa kesehatan mental. Anak muda membicarakan kematian di Instagram dengan cara menarik melalui seni.”

Sebagaimana dijelaskan dalam studi, anak muda juga memiliki keinginan yang lebih besar untuk menyelesaikan masalah di tengah pandemi. Kemungkinan Gen Z untuk menebus dosa dan minta maaf kepada teman empat kali lebih tinggi. Meski Cariad mengapresiasi anak muda yang tidak takut membicarakan kematian, dia tak sepenuhnya menyukai ini.

“Memang akan lebih mudah membicarakan kematian ketika kalian tidak menghadapinya langsung,” tandasnya. “Kalau saya perhatikan, anak muda sangat hobi ngomong, padahal mereka sering kali tidak merasakannya langsung. Saat kalian mendorong Boomer untuk memikirkan kematian, kemungkinan besar kematian itu akan segera terjadi.”

Walaupun sikap anak muda mulai berubah, masih banyak yang harus belajar menerima kenyataan bahwa kematian adalah hal mutlak. 36 persen orang Inggris lebih takut mati setelah pandemi, sedangkan 78 persennya lagi tidak siap menyaksikan orang tercinta meninggal dunia.

Kalau begitu, akan sebesar apa kesiapan kita menerima kematian setelah pandemi berakhir? Bagaimana kita bisa memastikan pandangan dan sikap kita terus bergerak maju? Mark Lemon, penulis buku anak dan public speaker di Inggris, menjelaskan pemerintah memiliki peranan penting dalam mengedukasi anak muda tentang perasaan duka.

“Hal ini akan mengganggu kesehatan mental selama pandemi,” terangnya. “Pemerintah perlu mengulurkan tangan dan mendukung segala kebutuhan anak-anak. Anak-anak harus bisa mengekspresikan emosinya.”