Militer Tiongkok Kepung Taiwan dan Sengaja Jatuhkan Bom Dekat Perbatasan

Nancy Pelosi menjadi pejabat tinggi Amerika Serikat pertama menginjakkan kaki ke Taiwan sejak 1997. Lawatan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (House of Representatives) Negeri Paman Sam itu mengundang amarah Tiongkok, yang menganggap AS secara tidak langsung seakan mengakui kedaulatan Taiwan.

Beijing menganggap lawatan Pelosi sebagai provokasi AS terhadap keutuhan wilayah Tiongkok. Hanya beberapa jam setelah politikus itu kembali ke Washington D.C, Tiongkok segera menggelar “latihan militer” selama tiga hari berturut-turut, yang dilakukan dengan cara mengepung Taiwan dari laut maupun udara. Dilaporkan militer Tiongkok menjatuhkan bom, dengan dalih bagian dari latihan militer, di perbatasan laut yang hanya berjarak 14 kilometer dari pulau milik Taiwan.

Sedikit catatan bagi pembaca yang belum paham, Beijing selalu menganggap Taiwan termasuk salah satu provinsi mereka. Sebaliknya, pemerintah Taiwan mengaku status mereka adalah negara berdaulat tapi tidak diakui mayoritas anggota PBB, termasuk oleh Indonesia. Tiongkok-Taiwan pecah secara politik sebelum Perang Dunia II, karena partai nasionalis Kuomintang kalah dalam perebutan kekuasaan dengan Partai Komunis China.

Berlangsungnya latihan militer untuk merespons manuver politik AS itu dilaporkan kantor berita resmi Tiongkok Xinhua. Ini kali pertama Tiongkok melakukan provokasi militer dengan jarak yang amat dekat dari wilayah Taiwan. Pemerintah Taiwan menyebut latihan militer yang secara praktis bentuk lain blokade negara mereka itu sebagai “pelanggaran hukum internasional.”

Peta latihan militer yang dilansir Xinhua menunjukkan enam lokasi "latihan militer" yang digelar Tiongkok dekat Taiwan.

Jika latihan militer Tiongkok tidak berkurang intensitasnya setelah tiga hari, pakar khawatir Taiwan akan merespons dengan keras. Bila konflik kedua negara benar-benar pecah, maka Amerika Serikat bakal terlibat. AS pernah mempunyai perjanjian dengan Taiwan untuk melindungi negara kepulauan itu dari invasi Tiongkok, namun sudah berakhir sejak 1979. Meski begitu, AS merupakan sekutu utama Taiwan, termasuk dengan memasok negara kecil tersebut dengan berbagai alutsista terbaru.

“Apa yang dilakukan Tiongkok ini merupakan unjuk kekuatan dengan niat mengancam Taiwan agar tidak macam-macam,” ujar James Lin, guru besar ilmu hubungan internasional dari the University of Washington, saat dihubungi VICE World News.

“Untuk pertama kalinya Tiongkok menggelar latihan militer dengan jarak amat dekat dari kawasan sipil Taiwan. Jelas sekali tujuan latihan kali ini adalah provokasi, karena risiko jatuhnya korban jiwa andai tembakan roket dan bom dalam sesi latihan tersebut meleset,” imbuhnya.

Amerika Serikat pun bisa dibilang melakukan provokasi tersendiri terhadap Tiongkok sebelum kedatangan Pelosi. Angkatan Laut AS mengirim kapal induk USS Ronald Reagan serta beberapa kapal perang jenis frigat ke wilayah laut Filipina. Merespons adanya kapal perang AS, Beijing dilaporkan mengirim dua kapal induk lain di pangkalan mereka di Laut Cina Selatan. Baik AS maupun Tiongkok mengklaim pamer persenjataan itu sekadar latihan rutin.

“Yang sekarang diamati berbagai pihak adalah apakah kapal perang USS Ronald Reagan masih akan tetap berada di wilayah Filipina hingga latihan militer Tiongkok berakhir,” ujar Wenchi Yu, pengajar di Harvard Kennedy School, saat dimintai komentar oleh VICE World News.

Dalam jumpa pers 3 Agustus 2022, Gedung Putih tidak merespons pertanyaan wartawan mengenai berapa lama kapal induk tersebut akan terus berada di wilayah laut yang relatif dekat dengan Taiwan. Menteri Pertahanan Taiwan sendiri, saat dikonfirmasi terpisah, mengatakan negara mereka akan merespons provokasi Tiongkok dengan berhati-hati dan menghindari opsi konfrontasi terbuka.

Di tengah panasnya situasi global ketika Rusia dan Ukraina masih berkonflik, banyak pihak khawatir situasi di Taiwan bisa memperburuk keadaan. Presiden Tiongkok Xi Jinping tahun lalu sempat menyinggung bahwa negaranya tidak segan mengerahkan militer bila terpaksa harus merebut kembali wilayah Taiwan.

Posisi AS kini terhitung ambigu. Sejak memilih mengakui kedaulatan Tiongkok, Negeri Paman Sam secara terang-terangan menggunakan Taiwan sebagai pion untuk membuat gentar Tiongkok di kawasan pasifik. Namun, di sisi lain, bila Taiwan memerdekakan diri dan mengalami serangan dari daratan, belum tentu AS akan langsung terlibat konflik.

"Sudah saaatnya Amerika Serikat menentukan sikap, apakah akan tegas membela Taiwan ketika terjadi konflik, atau sekalian menghormati kedaulatan Tiongkok,” ujar Roger Lee Huang, pengajar hubungan internasional di Macquarie University, saat dihubungi VICE World News.

Pelosi, politikus perempuan dari Partai Demokrat yang berusia 82 tahun, sejak pekan lalu sudah memberi sinyal bakal melawat ke Taiwan dalam seri kunjungan ke negara-negara di Asia. Tiongkok saat mendengar rencana tersebut, segera muntab dan mengeluarkan ancaman pada AS. Kunjungan kenegaraan macam ini, menurut Tiongkok, menyamakan Taiwan seakan negara yang merdeka.

Pelosi sendiri yang mendarat di Ibu Kota Taipei pada 2 Agustus 2022, mengklaim kehadiran dirinya di Taiwan sekadar bentuk dukungan terhadap negara kepulauan itu karena sering mengalami intimidasi dari Beijing.

"Solidaritas Amerika dengan Taiwan jauh lebih penting pada hari-hari ini dibanding sebelumnya. Solidaritas ini bermakna tidak hanya bagi 23 juta orang di Taiwan, tetapi juga bagi jutaan orang lainnya yang tertindas dan terancam oleh RRT [Tiongkok]," kata Pelosi saat berpidato di parlemen Taiwan. Pelosi sudah bertolak kembali ke AS pada 3 Agustus malam waktu setempat.

Menurut Lin, kunjungan Pelosi disambut positif warga Taiwan. Manuver politik Pelosi bahkan mendapat pujian dari Partai Republik, musuh politiknya namun terhitung jauh lebih membenci Tiongkok.

“Hal yang paling krusial dari lawatan Pelosi adalah realitas bahwa kepala negara atau pejabat tinggi dari negara lain bisa mengikuti jejaknya. Bahwa mengunjungi Taiwan itu normal-normal saja, meski Tiongkok bakal marah. Secara simbolis, maknanya sangat dalam meski Taiwan belum tentu jadi lebih aman dari risiko invasi,” ujar Lin.

Selain pengepungan memakai kedok latihan militer, Beijing sekaligus mengumumkan rencana penjatuhan sanksi ekonomi pada Taiwan. Pada 2 Agustus lalu, politbiro Partai Komunis China mengumumkan penghentian ekspor pasir, ikan, dan buah ke Taiwan. Tiga komoditas itu relatif dibutuhkan perekonomian Taiwan, namun belum terlihat seperti apa dampaknya secara riil bila ekspor disetop.

Follow Alan Wong di Twitter.