Makin Banyak Film Masa Kini Menampilkan Cerita Orang Tajir Merana dan Menderita

Siapa sih yang tidak penasaran dengan kehidupan orang kaya? Akui saja, banyak di antara kita suka membayangkan gimana rasanya terlahir sebagai pewaris harta yang tidak habis tujuh turunan. Menjamurnya tabloid gosip dan acara infotainment yang mengikuti keseharian crazy rich apalagi kalau bukan untuk memenuhi hasrat kepo khalayak luas.

Tapi pada saat yang sama, kita juga jijik dengan sikap mereka yang congkak (The White Lotus), sehingga tidak ada setitik pun rasa kasihan untuk mereka. Kita justru senang menyaksikan kalangan berduit kehilangan segala-galanya akibat ketamakan mereka sendiri, kayak waktu Marie Antoinette yang boros dihukum penggal pada 1793. Kebencian ini sudah lama terpendam di lubuk hati manusia, tapi Hollywood baru menyentilnya belakangan ini.

Beberapa tahun terakhir, semakin banyak tontonan yang memperlihatkan orang takabur kena hukum karma. Nasib mereka jungkir balik dalam waktu singkat, dari film thriller satire The Menu hingga komedi gelap Triangle of Sadness. Yang awalnya orang kaya merasa di atas angin dan bisa bertindak sesuka hati, mendadak mereka harus menyaksikan kenikmatannya dicabut satu per satu. Kita sudah bosan nonton Si Kaya hidup foya-foya. Kita mau mereka kena batunya.

Contohnya seperti dalam Triangle of Sadness, film garapan Ruben Östland yang menang penghargaan Palme d’Or. Film itu mengisahkan perjalanan wisata konglomerat dan influencer norak yang berakhir brutal. Selama di kapal pesiar, mereka menyantap hidangan mewah yang kebanyakan masih mentah. Penumpang yang masih muda menikmati liburan dengan berjemur sambil foto-foto demi eksis di Instagram, sedangkan para old money bikin awak kapal pusing dengan semua permintaan mereka yang tidak masuk akal. Mereka tiba-tiba merasa mual dan memuntahkan isi perut. Muntahannya berceceran di mana-mana, dari karpet hingga pakaian mereka yang bermerek.

Östland tidak tanggung-tanggung membuat mereka semakin menderita. Berbeda dari Parasite-nya Bong Joon-Ho yang “cuma” merampas harta keluarga elit, Triangle of Sadness memaksa mereka kelaparan dan mempertaruhkan nyawa kalau tidak mau berakhir mengambang di laut seperti mayat teman-teman seperjalanan. Setiap adegannya sangat edan, bikin kita ingin menutup mata. Tapi anehnya? Muncul perasaan puas ketika mereka tumbang satu per satu.

Selanjutnya ada Knives Out yang harta kekayaan keluarga tajir diwariskan sepenuhnya kepada asisten rumah tangga mereka, atau Glass Onion yang mengobrak-abrik pulau milik seorang miliarder. Film bertema kuliner, The Menu, jauh lebih sadis, menjadikan pengunjung restoran bintang lima sebagai menu hidangan mereka sendiri.

Tren eat the rich di dunia perfilman mungkin menandakan kita telah memasuki era baru, yang mana kita tak lagi mengagung-agungkan gaya hidup hedon mereka.

Kita sudah tidak bisa membiarkan mereka seenaknya menghamburkan uang, sedangkan mayoritas orang susah payah bertahan hidup di tengah resesi ekonomi. Bukankah bagus kalau mereka mengalami hal serupa? Biar mereka sadar kenapa ibu-ibu sering mengeluh harga cabai naik terus.

Yah, memang itu belum bisa terwujud di dunia nyata. Tapi setidaknya, kita bisa menyaksikan dari layar kaca, mereka menghadapi hukuman yang setimpal dengan dosa-dosa mereka di dunia. Meski terkadang kelewat sadis, tontonan semacam ini mengekspresikan kemarahan kita terhadap masyarakat kelas atas yang tidak paham arti hidup susah yang sesungguhnya, tapi sok-sokan merasa mereka yang paling tahu soal penderitaan.

Follow penulis opini ini di akun @gracedoddx