Korea Utara Mengaku 'Alami Keajaiban' Karena Cepat TerBebas Covid-19

Korea Utara, salah satu negara yang paling terlambat melaporkan penularan Covid-19 di wilayahnya ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mengklaim kini sudah terbebas dari pandemi. Total angka kematian penduduk akibat Covid, menurut Pyongyang, sejauh ini “hanya” 74 orang.

Tentu saja, semua klaim itu tak bisa diverifikasi oleh WHO. Ketika seluruh dunia pusing dengan Covid sejak triwulan kedua 2020, Korut kala itu mengaku tak mencatatkan ada penularan. Kini, ketika negara tertutup tersebut mengaku sudah lepas dari pandemi, sumbernya lagi-lagi klaim sepihak pemerintahan Kim Jong-un.

Sang diktator menggelar jumpa pers pada 10 Agustus 2022, mengumumkan bahwa “yang terjadi di negara kita merupakan keajaiban yang tak pernah dialami negara lain.” Dengan alasan tak ada lagi kasus penularan baru Covid-19, Kim Jong-un memerintahkan seluruh jajarannya mencabut segala pembatasan untuk mencegah penularan virus, contohnya social distancing, pemakaian masker, dan larangan keluar rumah setelah malam.

“Keberhasilan kita mengatasi kasus Covid-19 adalah kemenangan rakyat Korea Utara dan bukti kebesaran bangsa kita,” ujar Kim seperti dikutip KCNA, kantor berita resmi milik pemerintah.

Bahkan ketika resmi mengakui ada warga yang tertular Covid-19 di wilayahnya, pejabat Korut enggan menyebut mereka “pasien Covid”. Pemerintah setempat selalu melabelinya sekadar “pasien demam”. Korut tidak memiliki program vaksinasi nasional, serta sempat menolak bantuan vaksin dari Tiongkok maupun Rusia. Korut menurut pengamat kesehatan juga tidak mempunyai fasilitas lab yang memadai untuk memeriksa sampel pasien Covid.

Puncak dari klaim bombastis itu adalah angka kematian selama nyaris setahun terakhir hanya 74 orang, dengan total 4,7 juta warga yang terjangkit Covid-19. Angka itu membuat Korut hanya mengalami rerata kematian 0,002 persen dari total populasi. Rata-rata angka kematian penduduk di tiap negara akibat Covid adalah 3,4 persen.

Menariknya, Kim Jong-un kemungkinan besar sempat tertular Covid-19. Hal ini diakui sendiri oleh Kim Yo-jong, adik kandungnya, sekaligus pemimpin tertinggi kedua di pemerintahan Korut. “Beliau sempat jatuh sakit dan menderita panas tinggi. Tapi beliau tidak ingin terlalu lama beristirahat karena memikirkan rakyat dalam peperangan menghadapi pandemi,” ujar Yo-jong dalam jumpa pers terpisah.

Kim Yo-jong menganggap warga Korut mengalami Covid karena disebarkan dari balon-balon yang dikirim aktivis pro-demokrasi Korea Selatan. Dia mengancam akan melakukan balasan sengit ke Korsel bila tak kunjung menertibkan warganya yang kerap mengirim balon. Isi balon itu biasanya pamflet ajakan agar orang Korut menyeberang ke Korsel, serta flashdisk berisi musik serta film Korsel yang menggambarkan dunia luar.

WHO sendiri khawatir pandemi akan mengguncang Korut. Negara dengan total penduduk 26 juta orang itu mengalami bencana kelaparan berbarengan dengan munculnya Covid. Sementara fasilitas kesehatan yang cukup baik hanya tersedia di Ibu Kota Pyongyang.