Kembali Berkuasanya Dinasti Marcos di Filipina Bukti Bahaya Disinformasi Sejarah

Berbagai hasil hitung cepat serta data KPU atas pemilihan presiden Filipina mengindikasikan kemenangan sosok anak bekas diktator, yang berhasil mengalahkan calon lain yang tidak punya sejarah problematis. Ferdinand Romualdez Marcos Jr, akrab disapa Bongbong, diproyeksikan meraup lebih dari 31 juta suara pada pemilu yang berlangsung 9 Mei lalu, jauh meninggalkan rival terberatnya, yakni wakil presiden Leni Robredo. Merujuk data KPU yang telah mencapai 97 persen surat suara masuk, Leni hanya mendapatkan 14,7 juta suara.

Bongbong, melalui keterangan tertulis yang dibacakan stafnya pada 11 Mei 2022, mengumumkan keyakinan bahwa dia dan pasangan wapresnya, Sara Duterte, secara meyakinkan menang pemilu. Politikus 64 tahun itu menyadari sosok mendiang ayahnya akan disorot negatif oleh rakyat maupun negara lain.

Ferdinand Marcos yang digulingkan rakyat pada 1986 karena kasus megakorupsi, menangkapi oposisi, serta memerintahkan pembunuhan tanpa peradilan pada ribuan warga sipil. Namun Bongbong menuntut publik tidak semata-mata mengasosiasikan pemerintahannya selama enam tahun ke depan dengan rezim diktatorial mendiang ayahnya.

“Kepada dunia maupun mereka yang tidak memilih Bongbong, beliau meminta agar kinerjanya sebagai pejabat dinilai bukan dari garis keturunan tapi dari tindakannya kelak setelah menjabat,” ujar Victor Rodriguez, juru bicara Bongbong.

Kemenangan ini membuat lanskap politik Filipina akan dikuasai dua klan yang berpengaruh. Selain Dinasti Marcos, yang sampai sekarang masih berkasus dengan kejaksaan karena dugaan korupsi, klan Duterte turut diuntungkan. Sara Duterte, anak dari Presiden Rodrigo Duterte yang segera lengser, turut memenangkan pemilu. Berbeda dari Indonesia atau Amerika Serikat, pemilu posisi wapres di Filipina berlangsung terpisah.

Presiden Duterte sendiri punya masalah berat, karena hendak diinvestigasi oleh Mahkamah Pidana Internasional atas dugaan pelanggaran HAM berat setelah memerintahkan pembantaian pecandu narkoba selama kurun 2015-2016. Hadirnya Sara di pemerintahan bakal mengamankan Duterte dari ancaman hukum apapun.

Ini contoh kampanye pro-Marcos yang banyak beredar di medsos Filipina, mengesankan rezim korup ayah Bongbong itu berjasa besar.

Keberhasilan Bongbong dan Sara menang mutlak dalam pemilu 2022 membuat jutaan pemilih muda yang punya pendidikan tinggi serta tinggal di perkotaan terpukul, terutama pendukung Leni Robredo. Sebagai wapres, Leni selama ini kerap mengkritik Duterte atas isu pelanggaran HAM serta kelambanan merespons pandemi Covid-19. Leni sekaligus satu-satunya sosok perempuan dalam pilpres tahun ini.

Bongbong di mata pendukung Leni adalah politikus yang inkompeten karena tidak pernah berani menghadiri debat capres terbuka di televisi, serta tidak menawarkan program kerja nyata, kecuali “kembali menyatukan seluruh Bangsa Filipina.”

Menurut pengamat politik di Filipina, kemenangan Bongbong terutama dibantu oleh kampanye online yang massif, terutama melalui platform Facebook. Tema utama kampanye itu adalah disinformasi sejarah, mengesankan bahwa era Ferdinand Marcos selama berkuasa pada kurun 1965-1986 sebetulnya masa keemasan Filipina. Kampanye online itu sekaligus mengklaim Marcos memenjarakan ribuan warga sipil maupun aktivis politik demi menciptakan ketertiban sosial semata.

Kampanye pendukung Dinasti Marcos mirip dengan upaya mencuci citra buruk rezim Orde Baru di Indonesia, yang pernah digalang Partai Golkar maupun anggota keluarga Cendana melalui slogan “Piyek Kabare, Isih Penak Jamanku To?”. Kampanye pro-Orde Baru itu mengesankan 32 tahun pemerintahan Suharto, meskipun diwarnai pelanggaran HAM berat, termasuk pada jutaan umat muslim, tetap lebih baik dibanding masa sesudah reformasi. Alasannya? Harga barang konon cenderung murah dan stabilitas politik terjamin selama Suharto berkuasa (data statistik resmi menunjukkan argumen pendukung Orde Baru itu hanyalah omong kosong).

Pemilih terdidik di Filipina yang diwawancarai VICE World News, mengaku terkejut karena banyak warga di negara mayoritas Katolik itu ternyata melupakan fakta kelam rezim Marcos hanya dalam kurun 36 tahun.

“Pada malam setelah pemilihan, ketika hasil hitung cepat mulai muncul mengabarkan kemenangan mutlak Bongbong, saya melihat banyak anak muda lainnya menangis di jalanan sambil melihat ponsel mereka,” ujar Andi Garfin, pemilih di Ibu Kota Manila yang baru berusia 18 tahun, saat dihubungi VICE. “Saya berusaha berhenti memikirkan hasil pilpres. Semua ini terasa tidak nyata.”

Kristelle Morales, mahasiswa teknik di Manila yang tidak mendukung Marcos Jr, turut mengungkapkan keheranannya atas sikap mayoritas pemilih yang seakan lupa pada kengerian serta perilaku korupsi besar-besaran rezim Marcos di masa lalu.

“Saya masih tidak habis pikir, kenapa sosok yang bahkan tidak berani menghadiri debat bisa menang pemilu,” ujar Morales saat diwawancarai VICE World News. Bongbong hanya melayani beberapa wawancara dengan stasiun TV yang mendukungnya selama masa kampanye.

Menurut Morales, alasan utama Bongbong bisa menang adalah kampanye di Facebook, yang mengesankan bahwa rezim ayahnya dulu perlu dibangkitkan lagi. “Pendukung [Bongbong] sering menyebarkan berita palsu dan hoax di medsos. Bongbong juga pernah mengaku bahwa niatnya maju menjadi capres terutama untuk membersihkan nama keluarganya,” imbuh Morales. “Artinya, dia tidak berniat menjadi presiden untuk melayani rakyat Filipina, tapi demi mengamankan kepentingan keluarganya sendiri.”

Pilpres Filipina 2022 diikuti oleh 67,5 juta orang yang memiliki hak suara. Separuh dari jumlah total pemilih berasal dari di rentang usia 18-41 tahun, kebanyakan tidak terlalu ingat atau bahkan tidak mengalami kepemimpinan brutal Ferdinand Marcos selama 21 tahun berkuasa. Banyak pemilih dari rentang usia tersebut dinilai termakan kampanye pembersihan citra Dinasti Marcos, karena tidak mendapat pelajaran sejarah komprehensif. Di medsos Filipina saat ini, muncul seruan agar fakta sejarah kebrutalan Dinasti Marcos tetap dipertahankan dalam kurikulum, dan jangan sampai dihapus meski Bongbong berkuasa.

Rezim Marcos selama berkuasa, disebut jaksa penyidik melakukan korupsi bernilai miliaran dollar, yang sebagian uangnya dilarikan ke rekening bank pribadi di Swiss. Imelda Marcos, ibu Bongbong, ketika melarikan diri dari Manila karena unjuk rasa nasional 1986, diketahui memiliki koleksi ribuan sepatu desainer ternama. Selain itu, lebih dari 3.000 orang tewas tanpa peradilan selama kepemimpinan Marcos. Sang diktator itu meninggal pada 1989 dalam pengasingan di Hawaii, tanpa sempat diadili atas kasus korupsinya.

“Bongbong bukan politikus yang cakap berbicara, dan dia jelas tidak karismatik. Gaya kepemimpinannya selama terjun ke politik juga tidak punya rekam jejak jelas,” ujar Jayeel Cornelio, sosiolog Ateneo de Manila University saat dihubungi VICE World News. 

“Maka dari itu, alasan mayoritas pemilih bisa menganggap dia setara dengan mendiang ayahnya sudah pasti akibat kampanye online yang memuji-muji ‘prestasi’ Dinasti Marcos di masa lalu. Hal itu menunjukkan sistem pendidikan Filipina gagal mengingat publik bahwa pernah ada rezim otoriter di masa lalu yang seharusnya dihindari.”

Maria Ela Atienza, doktor ilmu politik dari the University of the Philippines, mengingatkan risiko lain setelah Bongbong berkuasa. Ada banyak kasus korupsi, pelanggaran HAM, serta penyalahgunaan kekuasaan dari era Marcos yang terancam mandeg ketika Marcos Jr jadi presiden.

“Faktanya, keluarga Marcos masih menghadapi berbagai kasus hukum di pengadilan. Sebagian besar uang yang dikorupsi Marcos, lalu dinikmati oleh Imelda dan Bongbong, belum dikembalikan kepada rakyat Filipina. Padahal uang itu hasil utang internasional, yang bunganya masih dibayar rakyat Filipina lewat pajak mereka sampai sekarang,” kata Atienza saat dihubungi terpisah oleh VICE World News.

Pemilih muda anti-Marcos yang sedang bersedih atas hasil pilpres 2022 akhirnya membuat jaringa pendukung untuk saling menguatkan. Beberapa yang punya latar pendidikan psikologi menyediakan layanan konseling gratis, terutama untuk pendukung Leni Robredo yang depresi melihat Bongbong berkuasa.

Atienza sendiri mengaku banyak mahasiswanya sangat kecewa melihat hasil pemilu kali ini, karena sosok anak dinasti korup kembali berkuasa. Ada yang merasa hilang harapan pada sesama rakyat Filipina karena mudah dimanipulasi. Namun dia yakin kemenangan Bongbong bakal menyadarkan kelompok terdidik di Filipina untuk melakukan manuver politik lebih serius di akar rumput, bersolidaritas pada kaum ekonomi lemah yang jadi korban manipulasi pro-Marcos, serta aktif melawan balik disinformasi di medsos yang mengaburkan sejarah.

“Saya bilang kepada murid-murid saya di kampus, harapan tidak sepenuhnya hilang. Jangan patah semangat. Ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari kekalahan kelompok liberal pada pilpres [Filipina] 2022. Tetap ada kemenangan yang berhasil mereka peroleh, meski bentuknya tidak sesuai harapan awal.”

Follow JC Gotinga di Twitter.