Kasus Keluarga Kalideres Makin Misterius, Rambut Korban Masih Disisir Meski Meninggal

Sudah 12 hari berlalu sejak satu keluarga di Perumahan Citra Garden Satu Extension Kalideres, Jakarta Barat, ditemukan meninggal. Seiring penyelidikan dari kepolisian berlangsung, makin banyak fakta dan petunjuk yang terungkap. Namun masih banyak misteri yang menyelimuti. Tambahan fakta ini justru membuat alur cerita dan penyebab utama kematian semakin rumit.

Satu keluarga yang meninggal ini terdiri dari empat orang. Ada sepasang suami-istri bernama Rudyanto Gunawan (71) dan Reni Margaretha Gunawan (68). Adapula anak mereka Dian Febbyana (40) dan ipar Budiyanto (69).

Fakta terbaru, Dian masih rutin memberi minum susu pada ibunya. Padahal menurut saksi yang kala itu berkunjung ke rumah korban, Reni sudah meninggal. Tidak hanya memberikan susu, Dian juga rutin menyisir rambut Reni. Untuk bisa lebih runut mengikuti kisah ini, mari kita mulai dari awal mula penemuan korban.

Penemuan korban pertama kali pada 10 November 2022 oleh Ketua Rukun Tetangga (RT) setempat yang mencium adanya bau busuk. Setelah menghubungi polisi, rumah korban yang kala itu dikunci dibongkar paksa. Polisi menemukan para korban di ruangan yang berbeda. Namun kondisinya sama, meninggal dengan tubuh ‘mengering’.

Dalam penyelidikan awal, tidak ditemukan adanya makanan di lambung. Hal ini menjadi indikasi awal apabila korban meninggal karena kelaparan dan dehidrasi. Namun hal ini menjadi pertanyaan besar, kenapa mereka tidak makan dan minum dalam waktu lama? Apabila lantaran kondisi ekonomi yang mengakibatkan korban tidak bisa membeli makanan, hal ini diragukan oleh masyarakat. Korban tinggal di kawasan perumahan menengah ke atas. Mereka juga punya mobil.

Asumsi yang bergulir liar selanjutnya yaitu perampokan. Hal ini diasumsikan saat melihat mobil dan beberapa barang eletronik lenyap dari rumah. Meski kemudian dugaan ini kembali terpatahkan. Mobil dan beberapa barang elektronik di rumah korban ternyata sudah dijual sebelumnya oleh pemilik. Mobil keluarga ini ditemukan di sebuah show room.

Sepertinya masyarakat semakin penasaran dengan penyebab utama meninggalnya satu keluarga di Kalideres ini. Sampai muncul berbagai teori, termasuk kemungkinan para korban menganut aliran tertentu, yang membuat mereka meninggal dalam sebuah ritual.

Teori ini nampaknya masih belum bisa dibuktikan. Sedikit atau justru tidak adanya saksi yang berkomunikasi secara intens menjadi kendalanya. Bahkan beberapa tetangga mengira pemilik rumah sudah pindah berbulan-bulan, saking jaranya melihat keluarga ini keluar rumah.

Memang beberapa bulan sebelum korban ditemukan, sekitar September 2022, Ketua RT setempat, Asiung, melihat apabila ada beberapa orang yang memotret rumah tersebut. Kata para pemotret, rumah itu akan dijual. Beberapa hari setelahnya, lampu rumah sering mati.

Ketua RT mengira rumah tersebut sudah terjual. Namun balasan pesan singkat dari Dian, “Belum, om,” membuat dugaan itu terbukti salah. Pesan tanggal 5 September 2022 ini menjadi komunikasi terakhir Asiung dengan Dian.

Salah satu saksi yang justru memberikan banyak informasi yaitu mediator dan dua petugas koperasi simpan pinjam. Mereka sempat bertemu dengan Dian dan Budiyanto pada 13 Mei 2022.

Kala itu, mediator hendak menjadi perantara penggadaian rumah antara keluarga korban dan pihak koperasi. Setelah rumah yang ditaksir bernilai Rp1,2 miliar ini dianggap layak untuk digadaikan, mediator dan petugas koperasi ingin bertemu dengan pemilik rumah. Terutama mereka ingin bertemu dengan Reni yang namanya tertera di sertifikat rumah.

Di sinilah keanehan mulai terasa. Semenjak memasuki rumah korban, saksi mulai mencium aroma tidak sedap. Budiyanto mengatakan apabila itu aroma selokan yang belum dibersihkan.

Awalnya, mereka hanya melihat Dian dan Budiyanto. Setelah percakapan beberapa saat, petugas koperasi ingin bertemu dengan Reni, pemilik sertifikat rumah. Dian mengantarkan petugas itu ke kamar Reni. Bau busuk yang sedari tadi sudah tercium, aromanya semakin kuat di dalam kamar.

“Di mana ibunya,” kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Hengki Haryadi, menirukan keterangan saksi petugas koperasi, dikutip dari Kompas.

“Ini lagi tidur, tapi jangan dinyalakan lampu karena ibu saya sensitif terhadap cahaya," kata Dian, menurut keterangan saksi.

Saksi mencoba membangunkan Reni, namun tidak ada respons. Justru dia semakin curiga merasakan tekstur tubuh Reni yang lembut. Tanpa sepengetahuan Dian, saksi menyalakan senter di ponsel untuk melihat Reni lebih jelas.

"Allahuakbar, ini sudah mayat," kata Hengki menirukan saksi.

Mendengar tuduhan apabila Reni sudah menjadi mayat, Dian menyanggahnya. Dian mengatakan apabila ibunya masih hidup. Dia masih rutin meminumkan susu dan menyisir rambut ibunya. Namun setiap kali menyisir, rambut Reni rontok.

Melihat hal ini, petugas koperasi mengajak kedua rekannya untuk pergi. Budiyanto mengejar petugas yang sudah keluar. Dia meminta agar mereka tidak memberi tahu siapapun kondisi yang ada di dalam rumah. Polisi menyesalkan kenapa petugas koperasi memenuhi permintaan untuk tutup mulut tersebut.

Penyelidikan masih terus berlangsung. Salah satu yang sedang menjadi bahan penyelidikan berupa penemuan dua ponsel milik korban. Diduga dua ponsel ini dipakai oleh empat orang. Hal ini terlihat dari setiap ponsel memiliki aplikasi Peduli Lindungi yang tertera dua nama pengguna.

Di ponsel itu juga ditemukan percakapan satu arah yang masuk. Percakapan tersebut berisi kata-kata negatif. Namun polisi belum memberitahukan kata-kata seperti apa di ponsel tersebut. Mereka masih menunggu analisis dari ahli.