Kalian Pernah Terpikir Ingin "Menghilang"? Begini Penjelasan Pakar

Barangkali pernah tebersit dalam benakmu keinginan “menghilang dari dunia” ketika hari-hari yang dilalui terasa begitu berat. Kamu merasakan dorongan kuat untuk meninggalkan segalanya dan menghindar dari situasi sulit.

“Sesekali membayangkan kabur dari kenyataan itu wajar,” psikolog klinis Therese Mascardo memberi tahu VICE. “Cara ini biasanya dilakukan untuk mengurangi tekanan batin yang kompleks.”

Ada empat jenis respons yang akan diaktifkan oleh otak kita saat menerima tanda ancaman. Dalam respons fight (melawan), tubuh akan bereaksi dengan menghadapi kondisi yang membuat kita stres. Ada juga orang yang akan membeku atau tak mampu melawan bahaya ketika yang diaktifkan adalah respons freeze. Selanjutnya ada respons fawn, di mana seseorang berusaha menyenangkan orang lain guna menghindari konflik. Sementara itu, dalam respons flight, hal pertama yang muncul dalam pikiran yaitu melarikan diri dari masalah. Dengan demikian, keinginan untuk kabur adalah reaksi alami yang muncul saat kita stres.

Mascardo berujar, jika melihat kondisi dunia saat ini, tidak mengherankan bila semakin banyak orang merasa ingin menghilang saja. “Banyak orang putus asa melihat masalah demi masalah tiada henti terjadi di sekitarnya, seperti kerusakan lingkungan, kekerasan, penyalahgunaan senjata, pandemi hingga ekonomi. Klien saya sering mengucapkan hal-hal seperti, ‘Apa gunanya hidup kalau bumi saja sudah rusak akibat pemanasan global?’” terangnya.

Keinginan ini juga bisa muncul saat orang merasa dirinya sedang tidak baik-baik saja, dan membutuhkan dukungan tulus untuk bertahan. Ketika mereka berkata “rasanya ingin menghilang”, mungkin yang dimaksud adalah: Saya sedang kesepian/sedih dan butuh sesuatu yang bisa menenangkan perasaan, saya sudah lelah dan butuh istirahat, atau saya sedang kehilangan arah dan butuh alasan untuk tetap hidup.

“Pada akhirnya, pikiranmu akan mengatakan semua masalah akan selesai kalau kamu kabur. Tentunya itu tidak benar, tapi bisa menenangkan hatimu sebentar,” ujar Mascardo.

Sayangnya, mustahil bagi kita lari dari kenyataan untuk waktu yang lama, dan masalah akan terus menumpuk apabila dibiarkan begitu saja. Coba lakukan beberapa langkah berikut untuk menenangkan diri saat kamu berada dalam situasi ini.

Segarkan pikiran

Kamu bisa meninggalkan sejenak kesibukanmu jika sudah mulai merasa stres. Cobalah berjalan kaki atau melakukan aktivitas kecil lain untuk beberapa saat. Selain menjernihkan pikiran, hal ini juga dapat mengurangi rasa kewalahan atau putus asa yang melanda.

Beristirahat

“Budaya hustle atau gila kerja mengajarkan, cuma orang lemah yang butuh istirahat, padahal diri kita hanya bisa berkembang jika sudah cukup istirahat,” tandas Mascardo, lalu menambahkan semua orang perlu istirahat dari tuntutan “siap sedia setiap saat”. Sebab rasanya sangat melelahkan harus selalu bertindak seolah-olah semuanya baik-baik saja. Semua orang butuh tidur, liburan dan waktu senggang.

Praktikkan ‘mindfulness’

Mascardo menyebut meditasi mindfulness telah terbukti dapat meningkatkan kesejahteraan orang yang mempraktikkannya. Cara paling mudah yaitu dengan mengatur dan menghitung pernapasan.

Bersenang-senang

“Hidup di dunia yang mendewakan produktivitas dan keuntungan, kita kerap lupa cara menikmati hidup,” tutur Mascardo. Ketika hatimu diliputi kegelisahan, kamu bisa melakukan hal-hal yang disukai untuk meredakannya. Baik itu bernyanyi, mengajak kucing bermain maupun sebatas mengobrol, kegiatan-kegiatan ini mampu memperbaiki suasana hati.

Banyak gerak

Banyak gerak tak hanya bermanfaat bagi kesehatan tubuh, tetapi juga bagus untuk mengurangi stres. Berjalan kaki atau joget, misalnya, bisa melepaskan ketegangan di otak.

Tapi balik lagi, keinginan untuk menghilang cenderung muncul karena kita tak siap menghadapi masalah. Pada akhirnya, kita mesti menyelesaikan masalah itu untuk bisa mengenyahkan pikiran-pikiran tersebut.

“Untuk mengusir dorongan lari dari masalah, hal paling ampuh yang bisa kamu lakukan yaitu menuntaskan penyebab kegelisahan hingga ke akarnya. Dengan kata lain, kamu perlu mengidentifikasi masalahnya dan mencari cara untuk memenuhi kebutuhan, baik itu dukungan, kasih sayang, kebaikan, kebahagiaan, istirahat maupun tujuan hidup.”

Follow Romano Santos di Instagram.