Jadi Sarana Bully, Aplikasi Pesan Anonim Masih Terus Digandrungi

Kenangan pahit semasa remaja masih begitu membekas dalam memori Emma. Setiap patah kata hinaan yang membanjiri kotak masuk Formspring-nya dulu mengubah dirinya menjadi sosok pemurung. Pesan-pesan anonim, seperti “Dasar lebay,” “Makan burger gih sana” (Emma mengaku badannya sangat kurus dulu) dan “Udah, deh, lo mending mati aja”, selalu menghantuinya bahkan hingga dewasa.

Komentar semacam itu mematahkan kepercayaan dirinya, serta akar dari segala rasa cemas dan kegelisahan yang dihadapi Emma. “Saya lulus 13 tahun lalu, tapi dampaknya bertahan lama,” ungkap perempuan yang saat ini berusia 31 tahun. Entah siapa yang mengirim pesan-pesan tersebut. Satu yang pasti, Emma mulai mempertanyakan pertemanannya dengan teman satu sekolah.

Formspring resmi ditutup pada 2013, setelah dituduh memicu lonjakan bunuh diri di kalangan penggunanya. Namun, seolah tak berkaca pada kasus yang telah lalu, platform pesan anonim bak jamur pada musim hujan. Kehadiran aplikasi macam AskFM dan Curious Cat kian menyuburkan aksi perundungan di dunia maya.  

Belakangan ini, kamu mungkin sering melihat fitur tanya jawab anonim yang menghiasi unggahan InstaStory teman-teman. Menggunakan aplikasi NGL, siapa saja bisa mengirim dan menerima pesan yang tidak diketahui sumbernya. Banyak pengguna lalu memamerkan pertanyaan dan pujian yang mereka terima ke akun Instagram. Namun, di tengah popularitasnya yang melejit, fitur itu sempat diblokir dari platform berbagi foto dan video. NGL telah menuai kontroversi lantaran pesan-pesannya diduga ciptaan bot.

Staf penulis The Atlantic, Kaitlyn Tiffany, berpendapat dalam artikelnya, “aplikasi berbagi rahasia” bisa bangkit kembali seiring bertambah besarnya kebutuhan menjaga anonimitas. “Sebagian besar generasi yang terhubung online sudah muak diawasi segala gerak-geriknya, dan malu jika dianggap cari perhatian,” tulisnya. “Menyembunyikan identitas sangat penting bagi pengguna di bawah usia 24 untuk menghindari situasi menakutkan yang mungkin terjadi di internet.”

Kebebasan anonim dapat disalahgunakan oleh pihak tak bertanggung jawab. Tapi pada saat yang sama, berkat anonimitas ini jugalah orang dapat mengekspresikan diri secara apa adanya, tanpa perlu khawatir akan dihakimi dan sebagainya. Riset telah membuktikan pengaburan identitas di dunia maya justru meningkatkan kejujuran, dan mendorong orang lebih terbuka tentang dirinya sendiri.

Ryan Broderick, penulis nawala Garbage Day, menyebut pengguna internet pada dasarnya tidak memiliki “memori budaya”, alias mereka kerap melupakan hal-hal buruk yang pernah terjadi di dunia maya. “Banyak kasus buruk [sebelumnya], [serta] kekacauan bukanlah bagian dari etos anak muda,” ujarnya, lalu menambahkan tren yang sama terus berulang dari generasi ke generasi.

“Generasi baru ini tak hanya bernostalgia dengan musik, seni dan fesyen. Mereka juga merindukan saat-saat menggunakan internet di masa lalu.”

Nostalgia ini mungkin menjadi alasan mengapa orang kembali menggunakan fitur pesan anonim meski mereka memiliki pengalaman buruk dengannya. Kayla, remaja 16 tahun dari Inggris, pernah dihina “jelek” dan dikirimi ancaman kematian saat menggunakan Tellonym — platform yang mengajak pengguna “memberi pendapat jujur secara rahasia kepada orang-orang yang berarti dalam hidupmu” — sekitar empat tahun lalu. Namun, dia tidak kapok dan iseng mengunduh NGL. Menurutnya, dia tertarik dengan “faktor tidak diketahui” yang ditawarkan aplikasi, dan “kesempatan mengetahui apa yang sebenarnya orang lain pikirkan tentangmu”. Dia juga mengaku lebih kebal terhadap komentar negatif dibandingkan dengan dirinya yang masih ABG dulu.

Namun, walaupun sejauh ini Kayla belum menerima pesan “kurang pantas” di NGL, kesalahan serupa tidak diragukan akan terulang kembali pada versi yang lebih baru. Maret lalu, Snapchat menghentikan layanan pesan anonim yang tersambung dari aplikasi lain menyusul adanya gugatan dari sejumlah keluarga yang anaknya bunuh diri usai menjadi korban perundungan online di LMK dan YOLO. Keterangan pada situs NGL mengklaim algoritme platform-nya dapat “menyaring pesan berbahasa kasar dan yang mengandung unsur perundungan”, tetapi hasil percobaan NBC News mengungkap masih ada frasa yang lolos dari pemeriksaan.

Sayangnya, kecaman publik yang berujung pada penghapusan platform tak serta-merta mencabut masalah hingga ke akarnya. Akan terus ada aplikasi pesan anonim baru yang bermunculan sebagai gantinya. Selain itu, menurut Ryan, “melarang aplikasi pesan anonim tidak ada gunanya — ini cuma kotak masuk biasa.”

Solusi terbaik membasmi perundungan online yaitu mengakhiri kebebasan anonim di internet sepenuhnya, tapi langkah ini akan mendatangkan konsekuensi buruk bagi banyak orang. “Anonimitas sangat penting dalam menyuarakan pendapat tentang politik,” terang Ryan. “Ini berguna untuk mengekspresikan jati diri, serta bagi kelompok terpinggirkan yang ingin berekspresi secara aman.” Dia memandang sebagian masalahnya bermuara pada kemudahan mengakses platform. Masuknya aplikasi pesan anonim ke platform medsos, seperti Instagram dan Snapchat, semakin membuat keberadaannya tak terhindarkan.

David Babbs, juru kampanye Clean Up the Internet, sepakat mengakhiri anonimitas online bukan pilihan tepat, tapi dia mengusulkan agar regulasi diperketat. “Komunikasi anonim adalah faktor risiko. Platform mana saja yang memungkinkan pesan anonim harus bisa menjawab pertanyaan ini: Apa langkah yang diambil untuk meminimalkan bahaya? Standarnya harus ditingkatkan untuk pengguna yang lebih muda dan rentan,” jelasnya. Dia berpandangan pengguna harus diberi kesempatan memverifikasi identitas mereka, dan dapat menyaring akun anonim dan akun yang belum diverifikasi.

“Pengguna yang berisiko sebaiknya diberi alat untuk membela diri, baik melalui pemblokiran IP, sarana untuk melapor maupun filter pesan-pesan negatif,” kata Ryan.

Sampai saat ini belum ada pengujian independen yang mengukur perlindungan yang disediakan melalui fitur-fitur platform anonim, seperti filter bahasa keluaran NGL dan kebijakan nol toleransi Yik Yak yang disebut-sebut “tidak ada kata ampun” bagi perundungan.

Terlepas dari semua risikonya, anonimitas menawarkan suatu kebebasan mengungkapkan diri seutuhnya di internet, terutama bagi kelompok minoritas. Namun, selama platform anonim lebih mementingkan keuntungan daripada kesejahteraan para penggunanya, kita akan selalu terjerumus dalam lingkaran setan.