Ini Daftar Alasan Banyak Perempuan Ogah Menurunkan Sifat Ibu Mereka

Sering kali tanpa disadari, kebiasaan perempuan akan berubah seiring bertambahnya usia. Mereka mungkin menjadi lebih cerewet dalam urusan rumah, seperti ngomel-ngomel kalau ada yang kurang bersih mencuci piring atau menaruh barang tidak pada tempatnya. Bisa juga mereka mulai gemar mengumpulkan benda-benda yang tidak estetik, seperti tempat makan plastik atau sepatu rajut.

Mereka mungkin akan bergidik ngeri begitu menyadari perubahan-perubahan kecil tersebut. “Astaga, gue kok jadi kayak nyokap?” batinnya. Meski ibu dianggap sosok berjasa dalam hidup kebanyakan orang, para anak—khususnya perempuan—pasti tidak sudi menjadi fotokopi orang tua mereka.

Lalu ada juga perempuan yang sampai mengubah drastis hidupnya karena takut menurunkan sifat ibu mereka. “Saya ogah menjadi seperti ibuku,” tutur Julie*. “Dan ini sangat memengaruhi cara saya membesarkan anak. Contohnya, saya tidak mau anak-anak saling bersaing, seperti yang dilakukan ibu padaku dulu.”

VICE menghubungi Dr. Lisa Ferrari, psikolog di Kanada yang sering menangani klien anak-anak dan keluarga. Kami bertanya kepadanya mengapa perempuan cenderung tidak mau meniru perilaku ibunya, serta kenapa sulit sekali bagi mereka untuk menjadi sosok yang berbeda.

VICE: Dari pengalamanmu, seberapa besar rasa takut menurunkan sifat ibu?

Dr. Lisa Ferrari: Orang cukup sering menyinggungnya. Perempuan cenderung teringat sifat ibu yang tidak mereka sukai saat menyadari kalau mereka juga memiliki kebiasaan itu. Saya melihat perempuan tidak suka menjadi seperti ibunya, bahkan saat ibunya penyayang sekali pun.

Alasannya kenapa?

Saya rasa, kita sebagai masyarakat terbiasa memfilter hal positif dan terlalu fokus pada hal-hal negatif. Meski ibu penyayang, kita cenderung lebih mengingat aspek kepribadiannya yang menyebalkan. Itu sifat alami manusia.

Yang menarik adalah kita tetap mengikuti kebiasaan ibu, padahal sebetulnya kita tidak menyukainya. Kenapa ini bisa terjadi?

Tanpa kita sadari, akan lebih mudah bagi kita terjerumus pada perilaku yang menyebalkan jika kita terlalu mengkhawatirkannya. Kemungkinan menurunkan sifat negatif ibu jauh lebih besar.

Bagaimana dengan orang-orang yang takut menurunkan perilaku toksik ibunya? Misal ibu mereka kasar atau sering melukai perasaan anaknya. Apa cara terbaik mengatasi ketakutan itu?

Saat ada klien bercerita, seperti ‘Ibu sering memukulku’ atau ‘Ibu selalu marah-marah, makanya sekarang saya tidak suka berteriak di depan pasangan, teman atau anak’, saya merasa orang cenderung berhati-hati dalam bersikap karena sudah terbiasa dengan hal-hal yang tidak mereka sukai—bisa perilaku, sifat, kepribadian dan lain-lain. Tapi untuk benar-benar bisa mengakhiri kebiasaan itu, kita harus fokus memikirkan bagaimana kita akan mewujudkannya. Tanpa merencanakan baik-baik apa yang ingin dilakukan dan apa pengaruhnya bagi masa depan dan hubungan kita dengan orang lain, kita takkan memiliki gambaran yang jelas seperti apa perbedaan yang diinginkan. Pada akhirnya, kita kembali pada kebiasaan yang telah kita ketahui dan tiru dari ibu.

Maksudnya penetapan tujuan, atau bahkan visualisasi yang konkret?

Betul sekali. Tapi menurut saya, keengganan menurunkan kepribadian ibu tak melulu bersifat negatif. Perempuan zaman sekarang memprioritaskan pertumbuhan, baik itu melalui gaya hidup sehat, pengalaman baru maupun pendidikan yang lebih tinggi. Ada keterbukaan untuk menerima segalanya, serta pola pikir yang berorientasi pada masa depan yang lebih baik. Tak seperti kehidupan orang tua kita dulu, sekarang kita bisa mengakses lebih banyak sumber daya, data dan informasi. Perempuan mungkin ingin diakui sebagai sosok yang unik dan tak sekadar meniru ibunya saja—bahwa dia punya kelebihannya sendiri.

Perlukah kita membicarakan ketakutan ini dengan ibu?

Ini rumit secara emosional, meski bisa juga menjadi pembicaraan yang menarik jika orang tua bersedia diajak mengobrol dan hubungan kalian penuh kasih sayang. Dari sini, kamu bisa saja menemukan ketakutan-ketakutan yang dirasakan ibu — kebiasaan apa yang tidak ibu disukai dari orang tuanya. Kamu dan ibu mungkin bisa menemukan kesamaan dan menjadi saling mengerti. Tapi balik lagi, semua tergantung pada seberapa dekat hubungan kalian.

Sifat apa yang paling tidak disukai anak perempuan, dan tidak ingin diturunkan dari ibunya?

Tidak diragukan lagi, kebiasaan mengontrol orang.

Mengapa sifat itu tidak disukai? Menurutmu, kenapa perempuan tidak mau terlihat suka mengontrol seperti ibunya?

Saya menduga dampak dari kebiasaan mengontrol itu sangat menyesakkan bagi sebagian orang. Mereka merasa tidak bisa mandiri atau terkekang karenanya.

Follow Mica di Twitter.