Di Majalengka, Korban Rentenir Bersatu Bikin Grup Musik ‘Mother Bank’

Semringah terpancar dari raut Diyah Mardiyah, Engkus Kusnirah, dan Mimin Darmini saat Inul Daratista mulai menyanyikan hit klasiknya, “Goyang Inul”, di Pestapora 2023. Akhirnya mereka bisa sing along langsung dipandu Ratu Ngebor, yang biasanya cuma mereka tonton di TV. 

Tapi tujuan mereka datang ke Pestapora bukan untuk nonton pedangdut idolanya. Mereka diundang untuk tampil juga pada besok malamnya, Minggu, 24 September. Untung, jadwal mereka sebelum insiden nasi Padang di Green Room.

Diyah dkk. adalah awak grup musik anyar Mother Bank yang berasal dari kampung Wates, Desa Jatisura, Kecamatan Jatiwangi, Majalengka. Grup ini didirikan oleh pasangan Ismal Muntaha dan Bunga Siagian, pegiat kelompok penelitian seni Badan Kajian Pertanahan dan Jatiwangi art Factory (JaF).

Dua belas anggota Mother Bank adalah tetangga Ismal dan Bunga. Usia mereka antara 50-60 tahun, bahkan ada yang sudah punya cicit. Diyah berumur 60 tahun, Engkus 53, dan Mimin 57. 

Saat pandemi dimulai pada 2020, tetangga di sekitar Ismal dan Bunga bermukim ikut terpukul. Mayoritas berprofesi sebagai buruh pabrik, pengrajin gerabah tanah liat, petani, pedagang, dan ibu rumah tangga. Ekonomi begitu sulit sampai di satu titik, para ibu terpaksa berutang ke bank Emok alias rentenir keliling dalam bahasa Sunda.

Saat itu Ismal harusnya menjalani residensi seni di London, tapi terhalang wabah. Melihat situasi sekitar, ia dan Bunga lantas punya ide membuat lembaga kredit tandingan. Bedanya, peminjam tidak dikenai bunga. Modal awal yang digunakan Ismal berasal dari dana residensinya yang tidak jadi terpakai. Lembaga kredit ini dinamai Mother Bank.

Pestapora, panggung ke-13 Mother Bank selama eksis sekaligus yang terbesar, akan dihelat jam 7 malam. Menjelang tampil, personelnya sudah berdandan on point dalam busana kontemporer rancangan Dila Martina Ayulia. Badan mereka dibungkus jubah merah magenta, sebuah songkok menjulang bertengger di kepala ibu-ibu.

“Ibuk, semangat!”
“Ibuk, keren banget!” 
“Ibuk, sehat terus!” 
“Ibuk, i love you!” sorak penonton sembari salim tangan ke tiap personel Mother Bank saat mereka konvoi menuju panggung Yes No Klub.

Mereka membawakan materi EP “Tanggung Renteng”, artinya ditanggung bersama. Berisi enam lagu, EP ini diedarkan gratis oleh label Yes No Wave Music sejak 19 Juni silam.

Mother Bank melantunkan lirik campuran bahasa Sunda dan Indonesia. Musiknya berkarakter kasidahan dipadukan dengan tarling. Suasana makin semarak berkat iringan pemusik Konsorsium Musik Keramik (Kosmik) JaF yang menggunakan instrumen tanah liat.

Lagu-lagu Mother Bank berkisah tentang kehidupan perempuan di kampung Wates. Lagunya sangat personal, merekam kisah dan keresahan sehari-hari mereka.

Suasana heboh di panggung Yes No Klub Pestapora 2023 menyambut penampilan Mother Bank.

Semua personel Mother Bank telah siap di posisi instrumennya masing-masing. Penonton tumpah di depan panggung. Lagu pertama adalah “Mukadimah”, disusul dengan lagu berjudul “Menanam”.

Singkong ditanam
Direndam biar subur
Singkong ditanam
Dijemur sampai Dzuhur
Ditumbuk
Biar lebur
Jadi tepung
Jadi makmur

Lagu ini adalah cerita tahun pertama para ibu Mother Bank menjadi kreditur Mother Bank. Sebagai syarat menerima kredit, ibu-ibu ini diminta bercocok tanam singkong di halaman rumah. Hasil panennya lalu diolah menjadi tepung mocaf.

Mother Bank segera beralih ke lagu ketiga yang judulnya memakai bahasa Jepang, “Wakare”, berarti selamat tinggal. Lagu dengan lirik berbahasa Sunda ini adalah lagu rakyat di Jatiwangi. Bercerita tentang tahun 1942 ketika tentara Jepang menginvasi tanah desa-desa di Jatiwangi untuk dibangun lapangan udara militer. Warga lantas mengungsi karena takut. Terpaksa mengucap selamat tinggal pada tanah mereka.

Namun usai Jepang angkat kaki dan warga hendak kembali ke kampung mereka, tanah itu gantian diduduki Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI, kini TNI AU). Inilah akar konflik agraria yang masih membelit warga Jatiwangi hingga hari ini. Lapangan udara bekas Jepang itu sekarang menjadi Lanud Sugiri Sukani.

Lagu selanjutnya berkaitan dengan isu kerja domestik para perempuan di tengah perkembangan pesat industri manufaktur. “//Mengolah tanah/ menghidupi budaya//” demikian bunyi sepenggal liriknya. “Bubaran Sunrise”, judul lagu ini, dibuat Mother Bank usai bertemu para perempuan pengrajin keramik saat residensi di Borobudur, Magelang.

Tanggapan dari lieur-nya hidup diwakili oleh satu larik dalam lagu “Jor Bae”: sabodo teuing! (bodo amat). Lagu ini adalah curhatan warga Kampung Wates yang capek menghadapi masalah demi masalah. Seperti adanya lintah darat berwujud bank emok yang menjerat mereka, bengkaknya bunga yang mencapai 25 persen itu menambah pusing saja.

Lagu berikutnya yang dijuduli “Jalan-jalan” lebih jelas lagi merincikan angsuran yang harus dibayar tiap hari.

Senin, PNPM
Selasa, BTPN
Rabu, Komida
Kamis, MBK
Jumat, Sabtu, bank keliling
Hari Minggu, tak ada libur

Membagikan pengalaman nasabah bank emok yang bertahan hidup dengan “Gali lubang tutup lubang”, Mother Bank menutupnya dengan semangat keluar dari utang, “//Marilah kita maju bersama/ makmurkan desa/ bukan bayar bunga//” Serempak penonton melantunkan reff dari lagu “Jalan-jalan”, sampai kendil yang dimainkan Nia Mardiyani, salah satu personel Mother Bank, potek akibat dipukul terlalu semangat.

Nia Mardiyani di balik perkusinya.

“Pabrik” jadi track penutup berisi keluhan tentang kendaraan operasional pabrik yang mulai mengganggu bahkan mengancam keselamatan warga Kampung Wates. “Itu pabrik Shoetown, yang produksi sepatu buat brand Nike, itu dekat banget sama Kampung Wates,” kata Andzar Agung Fauzan, gitaris sekaligus pemandu musik Mother Bank yang dipanggil Kang Aaf (band Aaf, Hanyaterra, pernah diulas VICE enam tahun lalu).

Kakek-nenek ngasuh incu
Ayah-ibunya bekerja
Pergi pagi, pulang Magrib
Untuk beli Rocket Chicken

Sebuah potret yang tidak muluk dari keseharian keluarga buruh pabrik di Kampung Wates. Upah kerja hanya cukup untuk menghadiahi diri sendiri dan orang terkasih dengan jajan ayam krispi dari restoran cepat saji yang memang populer di kalangan orang berduit cekak.

“Apa itu Blackpink? Mother Bank nih, Bosss!” jerit penonton.
In Majalengka we trust!
“Gemes pol! Kayak nonton ibu sendiri manggung.”

Penonton minta tanda di kertas song list ke salah satu personel Mother Bank.

Syarat menjadi nasabah Mother Bank di tahun pertama (2020) adalah menanam singkong, tahun kedua (2021) membentuk kelompok musik, dan tahun ketiga (2022) merancang perlawanan kultural dengan menyelenggarakan pasar kuliner tiap hari Minggu, bernama Pasar Wakare. Syarat tahun keempat (2023) adalah merilis enam lagu.

“Saya ikut grup musik ini karena bisa ngilangin jenuh dari utang. Senang ada kegiatan selain di rumah terus,” ujar Nia yang tadi motekin kendilnya sendiri. Sejauh ini 6 dari 12 personel Mother Bank berhasil keluar dari jeratan bank emok, dan akan terus bertambah.

“Ibu-ibu pengennya nanti 12 lagu, alasannya sih karena jumlah personelnya 12. Ya udah, oke aja kita kalau sama ibu. Sibuk bikin lagu terus. Kita kolektif lirik, kayak sambung lirik gitu,” kata Kang Aaf, yang juga main di grup musik Lair.

“Iya, lagunya kudu ada 12. Biar keren!” imbuh Bu Yanti, dan spontan semuanya tertawa.

Hegemoni yang dibalas dengan proyek artistik, bertujuan menjaga hak ruang hidup warganya dari pendudukan. Berawal dari bikin tandingan bank emok lalu bermetamorfosa jadi kelompok musik, kiwari mereka sah menyandang atribusi musisi.

Mother Bank adalah ibu-ibu yang berkuasa di dapur rumah dan dapur rekaman.