Dalam Ekonomi Seperti Sekarang, Orang Tak Bisa Lagi Setia Pada Satu Pekerjaan

Belakangan ini, persaingan di dunia kerja semakin sengit, sehingga akhirnya memaksa kita bekerja lebih keras agar bisa bertahan hidup di tengah situasi yang tidak stabil. Bahkan banyak di antara kita yang mengorbankan waktu istirahatnya demi mencari penghasilan tambahan.

Sunaina, 25 tahun, menghadapi kenyataan ia bisa kehilangan pekerjaan kapan saja setelah kantornya mem-PHK lebih dari setengah karyawan untuk alasan restrukturisasi. Meski beruntung tidak dipecat, konten kreator satu ini mulai merasa tidak aman jika hanya mengandalkan sumber pendapatan utamanya. “Gaji yang saya terima selama dua bulan pertama sangat kecil. Tak sampai Rs 2.000 (Rp3,7 juta),” tuturnya. Bagi Sunaina, gaji segitu tidak cukup untuk memenuhi segala kebutuhan hingga akhir bulan, terlebih harga sewa kos di Mumbai selangit. “Tanggung jawabku di kantor juga tidak jelas. Kadang-kadang saya disuruh menulis, bikin video, atau mengurus akun medsos kantor.”

Dia pun memanfaatkan waktu luang di akhir pekan untuk menulis artikel buat media lain. Sunaina menggunakan nama samaran supaya tidak ketahuan bos. Sekarang dia tak perlu lagi pusing memikirkan soal uang, tapi pekerjaan sambilan ini menyita sebagian besar waktunya. Dia jadi jarang keluar rumah dan seluruh perhatiannya terpaku pada layar laptop.

“Moonlighting” adalah istilah keren untuk menggambarkan orang yang bekerja sambilan, atau menjalani lebih dari satu pekerjaan tanpa sepengetahuan atasan di kantor resminya. Selama pandemi dua tahun terakhir, semakin banyak orang yang membutuhkan pendapatan sampingan sebagai jaga-jaga menghadapi kemungkinan terburuk di tempat kerja, baik itu pengurangan karyawan maupun pemotongan gaji.

“Saya awalnya kerja sambilan untuk membiayai hidup,” ungkap Sunaina. “Tapi kemudian saya terpikir hasilnya bisa dijadikan pegangan kalau-kalau kantor mem-PHK saya.”

Dia mengaku takut akan ketahuan atasan suatu saat nanti, tapi untungnya dia aman-aman saja bekerja untuk media lain. Sunaina memutuskan resign setelah menemukan pekerjaan yang lebih baik.

Sebagian besar perusahaan tidak mengizinkan karyawan memiliki pekerjaan sampingan karena dikhawatirkan akan mengganggu produktivitas mereka di kantor. Karyawan juga dilarang bekerja di perusahaan kompetitor. Tapi kenyataannya, praktik moonlighting sudah menjadi rahasia umum di kalangan pegawai kantoran.

Dalam kasus Sunaina, ada risiko besar yang mengintainya, sebab India telah mengeluarkan sejumlah aturan yang melarang individu bekerja untuk dua perusahaan atau lebih. Karyawan terancam dipecat jika ketahuan melanggar kontrak kerja. Bukan tidak mungkin mereka akan terseret masalah hukum apabila tindakannya merugikan kantor.

Sementara itu, di Indonesia, hanya pegawai negeri sipil yang dilarang keras bekerja untuk negara atau lembaga lain tanpa izin dari instansi tempatnya bekerja. Mereka juga tidak boleh menjadi karyawan perusahaan asing. Kalaupun ingin mencari penghasilan tambahan—misalnya membuka usaha kecil-kecilan atau mendaftar sebagai ojol—ada sejumlah ketentuan yang wajib dipatuhi.

Namun, kebutuhan finansial bukan satu-satunya alasan orang bekerja sambilan. Ada juga yang menekuni bidang lain untuk memperluas peluang karier, atau sebatas untuk kepuasan pribadi. Contohnya seperti yang dialami Aastha, dosen hukum di Bengaluru.

Profesi yang Aastha jalani selama dua tahun terakhir sangat menjanjikan. Gajinya sebagai dosen bahkan lebih dari cukup. Namun, perempuan 29 tahun ini merasa belum puas jika hanya mengajar “mahasiswa-mahasiswa rese yang tidak tahu diri”.

“Saya selalu merasa gelisah setiap berangkat kerja, padahal saya sangat bersemangat mengajar mata kuliah ini. Profesi mengajar seharusnya dapat memperluas wawasan semua pihak yang terlibat, tapi kenyataannya tidak begini di dalam kelas,” terang Aastha.

Dia lalu bergabung dengan sebuah organisasi hukum dan memberi bantuan advokasi kepada warga lanjut usia yang menjadi korban ketamakan anak-anaknya. Walau bayarannya tidak seberapa, Aastha dengan senang hati menjalani tugasnya.

“Lama-lama saya jadi tidak peduli kalau ketahuan pihak kampus,” tuturnya.

Akan tetapi, masalah keuangan tetap menjadi faktor utama yang mendorong seseorang bekerja sambilan. Ashish Chopra, pegawai HRD di perusahaan teknologi multinasional yang berbasis di Amerika Serikat, mencari penghasilan tambahan di sektor pesan antar makanan karena gaji resmi dari perusahaan tidak memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Sayang sekali, bosnya ingin dia bekerja sembilan jam sehari di kantor.

“Saat atasan mengeluh saya tidak hadir di kantor, saya membeberkan kalau selama ini saya bisa menyelesaikan pekerjaan tepat waktu dan semua pemangku kepentingan puas dengan kinerja saya. Jadi untuk apa saya duduk di kantor sembilan jam sehari kalau saya bisa menyelesaikan pekerjaan di tempat lain?”

Chopra kemudian pindah ke perusahaan yang mengizinkan karyawan memakai 20 persen waktunya untuk proyek sampingan. Dia pun memanfaatkan ini untuk berjualan pakaian.

Terlepas ada tidaknya peraturan yang melarang karyawan kerja dobel, kamu harus mempertimbangkan baik-baik keputusan sebelum mengambil pekerjaan sampingan. Kamu perlu memastikan organisasi atau lembaga yang akan kamu pilih menjamin kerahasiaan karyawannya, serta memberikan gaji yang pantas dan waktu istirahat yang cukup. Jangan sampai kamu berakhir seperti Sunaina, yang sepanjang waktunya dipakai untuk bekerja.

“Saya sering melihat orang sampai lupa waktu gara-gara bekerja sambilan. Mereka tidak ingat makan dan tidur,” kata Chopra.

Follow Arman di Twitter dan Instagram.