Daftar Permintaan Paling Ajaib Para ‘Crazy Rich’ Saat Gelar Hajatan

Meski terkadang ada rasa malas menghadiri undangan, kebanyakan orang takkan melewatkan kesempatan datang ke hajatan. Ini momen sempurna reunian dengan kawan-kawan yang sudah lama tidak bertemu, atau bahkan sebatas menikmati hidangan lezat secara cuma-cuma. Kalau lagi beruntung, kita bisa berpapasan dengan orang terkenal yang masuk daftar tamu undangan.

Namun, di balik pesta yang meriah, ada proses panjang dan melelahkan untuk menciptakan momen yang tak terlupakan. Hampir mustahil bagi kita mempersiapkan segala sesuatunya sendiri tanpa bantuan event planner.

Selain bertanggung jawab atas kelancaran acara, mereka juga harus memastikan semua keinginan klien terpenuhi dari A sampai Z, tak peduli betapa sulit mewujudkannya. Yang punya hajat meminta daging Wagyu diblender supaya para tamu tidak kesusahan mengunyah? Cek. Tuan rumah ingin pamer hewan eksotis peliharaan mereka? Cek. Apa pun yang diminta klien wajib dituruti.

Harshad Chavan, direktur pelaksana perusahaan pemasaran Toast Events di India, bercerita pernah membantu klien yang tertarik mengadakan acara konferensi di pesawat. “Idenya memang unik, tapi secara logistik sulit diwujudkan. Tidak ada tempat yang bisa dijadikan panggung, juga tak ada tempat memasang layar LED buat presentasi di dalam kabin pesawat.”

Tapi balik lagi, event planner ada untuk memuaskan klien. Meski ide-idenya aneh dan tidak masuk akal, mereka akan memutar otak dan banting tulang untuk memberikan yang terbaik.

“Ada klien yang ingin acara lamarannya seolah-olah terjadi di Paris,” kenang Taral Jadhav, pendiri perusahaan EO Do It Up. “Mereka ingin kami membuat tiruan Menara Eiffel, lampu-lampu khas Paris sampai jalanan berbatunya. Biayanya jauh lebih murah kalau mereka lamaran di Paris langsung.”

Juhi, pengelola agen perjalanan mewah yang merahasiakan nama lengkapnya, pernah menangani permintaan serupa. Tapi dalam kasusnya, klien bermimpi melamar pasangan di Paris beneran. Butuh setengah tahun bagi Juhi untuk mempersiapkan perjalanan dan segala tetek bengeknya.

“Pewaris keluarga pengusaha berlian ingin melamar kekasihnya di Paris,” tutur Juhi. “Kami sering menerima permintaan serupa, tapi tak pernah seheboh yang satu ini. Dia ingin makanan khas Jain, tapi disiapkan oleh koki berbintang Michelin. Anjing peliharaan pacarnya harus ikut naik pesawat di kelas bisnis. Dia juga meminta kami menyalakan kembang api tepat saat pacar mengatakan ya.”

Akan tetapi, menurut Juhi, yang paling lucu yaitu saat klien memohon agar sommelier ‘menciptakan’ sampanye non-alkohol untuk keluarga besarnya. Alasannya karena dia ingin mempertahankan keaslian kota Paris. “Mereka membayar $30.000 (Rp430 juta) hanya untuk mewujudkan itu.

Jadhav mengutarakan, terkadang yang gila dari permintaan-permintaan itu bukanlah temanya, melainkan waktu yang diberikan untuk mewujudkannya. Belum lagi jika klien berubah pikiran menjelang acara.

“Klien ingin pesta pernikahannya dipenuhi mawar merah,” kata Jadhav. “Kami membeli 5.000 bunga mawar untuk acara ini, dan ada mobil khusus untuk mengangkut bunga-bunganya. Tapi saat kami sedang menata bunganya, klien tiba-tiba minta jumlahnya ditambah dua kali lipat supaya mereka bisa ‘tenggelam dalam mawar’. Berhubung toko bunga hanya menerima pesanan dari jauh-jauh hari, mau tak mau kami menelepon semua toko yang ada di kota itu untuk membeli ribuan mawar. Kami sampai memohon-mohon agar bunganya dikirim secepat mungkin.”

Sering kali, event planner akan menawarkan jalan tengah untuk mempermudah proses persiapan acara tanpa membuat klien kecewa. Walau harus diakui, akan selalu ada klien yang ngotot acara berjalan sesuai permintaan mereka.

“Kami pernah membantu klien mengadakan acara baby shower (tujuh bulanan) di lapangan terbang,” Jadhav membeberkan. “Tamunya cuma ada 20 orang, tapi klien menghabiskan 200.000 Rupee (Rp37,7 juta) untuk mengadakan acara ini. Calon orang tua naik helikopter pribadi, lalu mendarat di landasan pacu yang dihiasi parasut berukuran besar, balon udara dan boneka beruang raksasa. Itu mungkin acara paling heboh yang pernah kami tangani.”

Sementara yang lain mendambakan tema dan dekorasi unik, beberapa lebih mementingkan hidangan pesta.

Pengusaha katering di Mumbai pernah berurusan dengan klien yang ingin makanannya dikasih keju asli Prancis. Dia membujuk tuan rumah untuk menggantinya dengan keju lain yang mudah didapatkan di India, tapi mereka bersikeras mempertahankan permintaannya. “Mereka akhirnya menyuruh orang membawakan keju-kejunya langsung dari Prancis. Keju itu dikemas dalam wadah es kering agar tetap segar,” terangnya.

Di lain waktu, seseorang mencari cara untuk menyajikan kaviar dalam hajatannya tanpa bikin kantong jebol. “Mereka mencampur kaviar asli dan palsu, yang terbuat dari gelatin dan pewarna makanan, supaya tamu undangan tidak menyadarinya.”

Pengusaha katering yang mengurusi menu hajatan itu berpendapat, kalangan berduit tergiur menyajikan masakan eksperimental, tapi mereka tak sudi mengeluarkan banyak uang. Itulah sebabnya mereka kerap menambah gimmick untuk mengalihkan perhatian tamu dari makanan yang disajikan.

“Sebagian besar klien kami yang berdompet tebal tidak peduli dengan rasa makanannya. Mereka hanya tertarik menjadi yang paling beda dengan menyajikan gimmick es kering atau makanan yang sedang ngetren, seperti truffle. Tujuannya supaya tamu undangan sibuk meng-upload pestanya ke Instagram, dan lupa dengan rasa makanan. Orang mengusulkan ide-ide gila buat tampil beda, tapi akhirnya mereka sama saja seperti yang lain.”

Follow Shamani di Instagram dan Twitter.