Anak Pengusaha Besar Pakistan Dibekuk Polisi Usai Penggal Teman Perempuannya

Putra pengusaha kaya di Pakistan mendekam di penjara karena menewaskan seorang perempuan dengan cara memenggal kepalanya. Dia melakukan aksi kejahatan di rumahnya di Islamabad, Pakistan. Korban bernama Noor Mukadam adalah putri mantan diplomat Shaukat Mukadam, yang pernah menjabat sebagai duta besar Pakistan di Korea Selatan dan Kazakhstan.

Zahir Jaffer didakwa dengan tuduhan pembunuhan berencana setelah ditangkap Kepolisian Islamabad di lokasi TKP pada 20 Juli. Pembunuhan sadis ini menggegerkan kalangan berpengaruh yang terjalin erat di ibu kota.

Inspektur Senior Polisi (Investigasi) Ataur Rehman mengungkapkan dalam konferensi pers pada 22 Juli, “Setiap kali terjadi pembunuhan brutal, kita tidak boleh membeda-bedakan status pelaku, meski mereka adalah putra dari ayah yang sangat berpengaruh sekali pun.”

Pengacara dan aktivis hak perempuan Nighat Dad berujar, rakyat Pakistan mengikuti kasus ini dengan saksama. “Ada kekhawatiran terdakwa bebas dengan jaminan dan kabur ke luar negeri,” Nighat memberi tahu VICE World News. “Kalau sampai terdakwa bebas dari hukuman, itu sama saja semua perempuan di negeri ini telah mati. Ini akan mengungkapkan seperti apa sistem peradilan pidana kita sebenarnya.”

Dalam pernyataan yang diunggah ke Twitter, pihak kepolisian Islamabad menegaskan tim penyidik khusus tengah “melakukan penyelidikan berdasarkan fakta sesuai hukum.”

Ayah korban melapor ke polisi, pada 19 Juli, putrinya mengabarkan akan pergi ke Lahore bersama teman untuk mempersiapkan perayaan Idul Adha. Tapi keesokan harinya, Zahir, yang merupakan kenalan sang ayah, menelepon untuk memberi tahu Noor tidak bersamanya.

Pada pukul 10 malam, Shaukat mendapat telepon dari polisi yang mengatakan putrinya tewas terbunuh. Menurut laporan, Shaukat bergegas ke rumah Zahir dan menemukan Noor “dibunuh dan dipenggal secara brutal menggunakan senjata tajam.”

SSP Ataur membeberkan Zahir telah diikat tali saat polisi tiba di TKP. Pelaku diduga hendak menyerang orang lain setelah membunuh Noor. Kepolisian Islamabad memposting foto-foto di lokasi kejadian ke Twitter. Lantai dan perabotan rumah tampak bersimbah darah.

Polisi masih menginterogasi Zahir dan pesuruh yang ada di rumah ketika pembunuhan terjadi. Mereka juga merekam pernyataan ayah Zahir, yang mengaku sedang rapat di Karachi pada hari kejadian. Dua orang satpam turut memberi kesaksian. Sampel DNA telah dikirim untuk pemeriksaan forensik.

Kematian Noor yang mengenaskan memicu tagar #JusticeForNoor yang menjadi trending topik di Twitter pada 22 Juli. Teman dan kenalan Noor menuntut keadilan untuknya.

Iyla Hussain-Ansari, warga AS yang sudah 13 tahun berteman dengan Noor, mengenang sahabatnya sebagai orang yang baik hati dan berbakat. “Noor adalah seniman yang sering menjadi sukarelawan di Islamabad,” tuturnya.

Tidak diketahui ada hubungan apa di antara Noor dan Zahir, tapi Iyla menganggapnya “rumit”. Menurutnya, Noor telah menyadari ada yang tidak beres dengan sifat Zahir.

“Noor baik ke semua orang, dan sifat buruk Zahir membuatnya lengah,” Iyla melanjutkan. “Zahir tidak bersikap baik kepada Noor, padahal mereka sudah lama berteman.”

Jurnalis Elia Rathore sudah lama mengenal Noor. Dia menyebut Zahir memang dikenal sebagai “predator” di kalangan elit Islamabad yang “sangat erat”.

“Ada spekulasi Zahir menggunakan cara jahat untuk menyerang dan memanipulasi kebaikan Noor,” terangnya.

Sejumlah pengguna Twitter juga menceritakan pengalaman kurang menyenangkan saat berurusan dengan Zahir. 

Ada yang mengklaim pelaku mengidap skizofrenia, tapi VICE World News tidak dapat mengonfirmasi kebenaran ini. Dalam konferensi pers, SSP Ataur mengatakan polisi berfokus pada kesehatan mental Zahir dan melihat dia “sepenuhnya sadar”. Dia juga membantah rumor pelaku berada di bawah pengaruh obat-obatan.

“Temuan awal menandakan tersangka menyadari tindakannya,” katanya.

“Kesehatan mental tidak bisa menjadi alasan atas tindakannya,” Elia menegaskan. “Saya diberi tahu teman-teman yang ada di kantor polisi kalau dia tertawa seolah-olah tidak waras.”

Zahir dikabarkan telah menerima sertifikasi dari pusat psikoterapi dan rehabilitasi kelas atas TherapyWorks. Dia memberikan sesi konseling untuk anak-anak di sana.

Pada 21 Juli, organisasi menyatakan tidak memiliki hubungan sama sekali dengan Zahir. Berdasarkan pernyataan resmi mereka, Zahir tidak menyelesaikan program studinya sehingga tidak diizinkan bertemu klien dan tidak terdaftar sebagai terapis resmi. Ibunya Zahir terdaftar sebagai terapis TherapyWorks.

Keluarga Zahir tidak menanggapi permintaan VICE World News untuk berkomentar. Belum ada pengacara atau perwakilan yang berbicara atas nama Zahir.

Pengacara Imaan Zainab Mazari-Hazir menjelaskan insiden ini menggemparkan karena kebrutalannya. “Terlebih lagi pembunuhan itu terjadi di kota tempat kami sering berhubungan dengan Zahir,” ujarnya. “Kita juga sering menyaksikan hukum yang meloloskan orang kaya dan berkuasa dari kejahatan. Dalam hal ini juga, orang kaya dan berkuasa terlibat.”

Keluarga Zahir mengelola banyak bisnis besar di bidang agrikultur, teknologi dan listrik. Menurut salah satu situs perusahaan, Zahir menjabat posisi Chief Brand Strategist. 

“Dia berasal dari salah satu keluarga paling berkuasa di Pakistan,” imbuh Elia. “Keluarga berpengaruh biasanya menunggu sampai amarah publik mereda, lalu menyogok pihak berwenang untuk mendapatkan keadilannya sendiri. Kami tidak akan membiarkan kematian Noor berlalu begitu saja.”

Pengacara Imaan menambahkan, insiden itu juga menyoroti bagaimana perempuan menjadi korban gaslight setiap kali menyuarakan tentang “predator, pembunuh dan pelaku KDRT.”

“Itu juga terjadi pada Zahir, tapi kami tidak boleh menghakiminya karena dia memiliki ‘masalah kesehatan mental,’” tandasnya.

Dinobatkan sebagai negara paling berbahaya keenam bagi perempuan di dunia, Pakistan memiliki tingkat hukuman untuk kasus pemerkosaan sebesar 0,3 persen, salah satu yang terendah secara global. Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan, bahkan sering menyalahkan perempuan dan pakaian mereka ketika terjadi kekerasan.

Awal bulan ini, RUU (Pencegahan dan Perlindungan) KDRT 2021 dikecam sejumlah pejabat karena “berlawanan” dengan ajaran Islam di Pakistan. Jika disahkan, RUU tersebut akan melindungi perempuan dari hubungan yang tidak sehat.

Kematian Noor merupakan kasus kekerasan terhadap perempuan ketiga yang dilaporkan selama sepekan terakhir dan memicu amarah publik. “Saya sudah muak dengan berita insiden baru-baru ini. Kami sangat tidak peka dengan lelaki agresif. Dan sekarang teman saya dibunuh,” Iyla mengeluh.

Imaan mengutarakan insiden tersebut memperdalam rasa ketidakberdayaan dan kemarahan kaum perempuan. “Ada epidemi kekerasan terhadap perempuan, dan ada impunitas yang berkelanjutan untuk itu,” tuturnya.

Imaan dan Nighat juga menyinggung tekanan yang besar bagi keluarga korban. “Banyak sekali yang dihadapi keluarga, sehingga penting bagi negara dan masyarakat sipil untuk mendukung keluarga korban,” kata Imaan. 

Orang terdekat Noor berharap mereka bisa mendapat keadilan. “Rasanya seperti cahaya (‘noor’ berarti cahaya dalam bahasa Arab) hidup saya direnggut,” ujar Iyla. “Peristiwa ini seharusnya menjadi pengingat penting bagi masyarakat.”

Rimal Farrukh berkontribusi dalam laporan ini  

Follow Pallavi Pundir di Twitter.