WOWKEREN

Evi Masamba Jelaskan Alasan Bayinya Sudah Pakai Emas Meski Baru Sebulan

Agaknya sejumlah netter meragukan keputusan Evi Masamba untuk memakaikan perhiasan kepada anak pertamanya. Hal itu pun langsung mendapat jawaban dari Evi Masamba.

20 jam15 menit Wowkeren

WOWKEREN

Ifan Seventeen Kepergok Jalan Bareng Cewek Belanja Furniture Usai Insiden Digerebek

Ifan Seventeen sebelumnya ramai diberitakan sedang berada di apartemen teman wanitanya yang masih berstatus sebagai istri orang. Namun, tuduhan zina telah terbantahkan.

20 jam15 menit Wowkeren

WOWKEREN

Begini Keyakinan Lee Jinhyuk Jika Kembali Berpartisipasi dalam Seri Lain 'Produce 101'

Lee Jinhyuk mengungkapkan bagaimana pemikirannya jika ia berpartisipasi dalam seri 'Produce 101' yang lain saat hadir sebagai MC spesial program acara JTBC 'Tell Me' yang tayang pada Selasa (10/9) kem

20 jam15 menit Wowkeren

WOWKEREN

Yoona SNSD dan Jo Jung Suk Duet Nari Seksi Rayakan 9 Juta Penonton 'E.X.I.T'

'E.X.I.T' menceritakan Jo Jung Suk dan Yoona yang menggunakan keterampilan memanjat tebing mereka untuk melarikan diri dari kota yang diselimuti gas beracun.

20 jam15 menit Wowkeren

Sekilas Bursa Efek Indonesia Dalam Krisis Pandemi Global Ini

Indonesia menjadi salah satu negara yang terdampak menyebarkan wabah pandemi Covid-19. Wabah yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 ini menjadi salah satu wabah terbesar dan terbesar yang pernah dimiliki masyarakat modern. Namun, dampak yang dihadirkannya bukan hanya soal kesehatan, sosial, tetapi juga ekonomi, baik makro maupun mikro, baca lebih lanjut di sini tentang Bullish dan Bearish Di Dunia Saham, Komoditas, dan Valas. Tak ayal, pasar bursa Indonesia pun menjadi salah satu sektor yang terdampak dari wabah ini.

Kondisi bursa efek Indonesia di saat pandemi Covid-19

Setelah mengamati pergerakan atau dinamika pasar selama beberapa waktu terakhir, terlebih ketika wabah corona dipastikan telah masuk ke Indonesia, berbagai peneliti, termasuk pihak dari Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan analisis terkait dampak wabah ini terhadap sektor pasar bursa nasional. 

Di salah satu wawancara dengan pihak media nasional, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Inarno Djajadi, bahkan mengakui bahwa berdasarkan pengamatannya wabah ini memberikan dampak terhadap kinerja pasar modal di Indonesia. Dampak ini bisa dilihat dari terjadinya penurunan aktivitas transaksi saham yang dilakukan oleh para investor di bursa. Berdasarkan pengamatannya, jika dibandingkan dengan posisi pada penutup perdagangan di tahun 2019, transaksi saham di Bursa Efek Indonesia telah mencatatkan penurunan rata-rata transaksi harian di kisaran 24%. 

Tercatat dalam waktu kurang lebih 4 bulan sejak penutupan perdagangan tahun lalu, IHSG telah mengalami penurunan sebanyak 26.43% hingga mencapai titik 4.635. Sementara itu, kapitalisasi pasar juga tercatat mengalami penurunan sekitar 26% dengan hanya berhasil mencatatkan peraihan Rp 5.368 triliun. 

Dari segi rata-rata transaksi yang dilakukan setiap hari, BEI juga mencatatkan penurunan sebanyak 1.49% dengan hanya membukukan 462.000 transaksi. Hal ini selaras dengan penurunan nilai rata-rata aktivitas transaksi harian yang hanya mencatat Rp 6,34 triliun. 

Penurunan ini bisa dikaitkan dengan wabah corona yang terjadi di Indonesia karena waktu kejadiannya tidak jauh dari pengumuman pemerintah tentang kepastian dua kasus pertama Covid-19 di Indonesia. 

Harapan akan kebangkitan pasar modal Indonesia

Meski wabah corona telah menghampiri Indonesia dan memberikan dampak negatif terhadap pasar modal Tanah Air, namun bukan berarti fenomena ini tercatat sebagai penurunan terparah yang pernah dihadapi oleh pasar modal Tanah Air. Ternyata, kita dahulu pernah mengalami penurunan yang lebih parah hingga mencapai angka 50.6%. Peristiwa ini terjadi sebagai dampak krisis keuangan yang melanda seluruh dunia pada tahun 2008 silam. Penyebabnya dipercaya tidak jauh dari fenomena Subprime Mortgage yang terjadi di daratan negeri Paman Sam. 

Terjadinya penurunan memang sangat disayangkan karena berdampak negatif bagi perekonomian negeri kita, namun setidaknya pasar modal masih mencatatkan adanya transaksi berjalan. Dengan nilai transaksi Rp 7.9 per hari di Maret 2020, setidaknya masih terjadi peningkatan jika dibandingkan dengan dua bulan sebelumnya. 

Meski demikian, pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan harus mengawasi dinamika pasar modal di tengah krisis pandemi global ini. Salah satunya adalah efek penurunan yang juga terjadi di sektor industri. PT Astra Internasional Tbk dengan kode emiten ASII, misalnya, mencatatkan penurunan harga saham kurang lebih 40% jika dibandingkan dengan sebelum pandemi terjadi. 

Di samping itu, sektor keuangan juga tidak terlepas dari wabah ini dengan mencatatkan penurunan nilai kapitalisasi pasar sebesar kurang lebih Rp 700 triliun. Aktivitas net sell juga tidak luput mewarnai dinamika pasar modal Indonesia ketika terjadi wabah ini dengan angka transaksi di kisaran Rp 14 triliun. Selama 2 bulan terakhir, Bursa Efek Indonesia bahkan mencatat terjadinya penarikan dana asing yang cukup besar. Kondisi ini seharusnya mengisyaratkan perlunya pengawasan yang ketat terhadap pasar modal Indonesia agar tidak mengalami penurunan lebih mendalam, seperti yang terjadi di berbagai negara. 

Dengan besarnya kecenderungan investor untuk melakukan aksi jual, kondisi ini bisa memancing penurunan yang lebih besar pada pasar modal nasional. Oleh karenanya, pemerintah perlu memastikan penanganan wabah ini dilakukan dengan tepat dan efektif guna memitigasi seluruh risiko. 

WOWKEREN

Biasa Buka-bukaan 'Angkat Beban', Pamela Safitri Pakai Busana Tertutup Tuai Respon Tak Terduga

Melalui Instagram pribadinya baru-baru ini, personel Duo Serigala itu membagikan foto dengan baju yang tertutup. Foto tersebut mendapat respon tak terduga.

20 jam15 menit Wowkeren

GOinggris - Bahasa Inggris Online

WOWKEREN

Sering Dikaitkan Dengan Mitos Gunung Hejo, Jasa Marga Jawab Isu Mistis KM 90 Tol Cipularang

General Manager PT Jasa Marga Cabang Purbaleunyi, Dwi Winarsa, menuturkan bahwa kecelakaan di ruas tol tersebut telah terjadi sebanyak 4 kali dalam tahun 2019 saja.

20 jam15 menit Wowkeren

WOWKEREN

Penulis 'Crazy Rich Asians 2' Mundur Gara-Gara Honor, Sutradara Beri Dukungan

Meski memberikan dukungan, namun sutradara Jon M. Chu juga mengatakan bahwa Warner Bros masih membuka pintu bagi penulis Adele Lim untuk kembali bergabung ke dalam 'Crazy Rich Asians 2'.

20 jam15 menit Wowkeren

WOWKEREN

Mutia Ayu Mulai Berani Umbar Kemesraan dengan Glenn Fredly Pasca Resmi Menikah

Sebelumnya, Mutia Ayu dan Glenn Fredly selalu menutup kolom komentarnya apabila mengunggah foto berdua. Namun, Mutia kini sudah mempersilakan netizen berkomentar.

20 jam15 menit Wowkeren

WOWKEREN

Lee Kwang Soo Respons Tegas Klaim Aneh-Aneh Soal Agama

Lee Kwang Soo terus diberondong klaim aneh-aneh soal agamanya ketika menjadi bintang tamu di program radio 'Cultwo Show' bersama Park Jung Kim dan Choi Yoo Hwa.

20 jam15 menit Wowkeren

WOWKEREN

Absen Dari Panggilan Polisi, Aktivis Sri Bintang Mengaku Tak Diberitahu

Aktivis Sri Bintang Pamungkas mengaku tak mendapatkan surat panggilan pemeriksaan dari Polda Metro Jaya terkait tuduhan ujaran kebencian yang diarahkan PITI kepadanya.

20 jam15 menit Wowkeren

GOinggris - Bahasa Inggris Online

WOWKEREN

Jantung Jang Ki Yong Berdebar Kencang di Lokasi Syuting 'Bad Guys: The Movie' Gara-Gara Sosok Ini

Dalam wawancara yang dilakukannya baru-baru ini, Jang Ki Yong membahas banyak hal menarik tentang film barunya yang berjudul 'Bad Guys: The Movie'. Mau tahu seperti apa lengkapnya? Simak beritanya ber

20 jam15 menit Wowkeren

WOWKEREN

Turunan Bule-Sunda, Kecantikan Bayi Aura Kasih Jadi Sorotan

Meski sempat 'pelit' membagikan foto sang buah hati, Aura Kasih baru-baru ini mengunggah sejumlah video sang anak. Paras baby Arabella pun sontak jadi sorotan.

20 jam15 menit Wowkeren

Viva.co

Rangkuman Serial The Morning Show Keluaran Apple TV+

The Morning Show sendiri dibintangi oleh beberapa artis Hollywood.

20 jam15 menit Viva

Viva.co

Pacar Terancam Diperkosa Begal, Pelajar Ini Rela Duel Sampai Mati

Akhirnya begal yang akan memperkosa sang kekasih tewas.

20 jam16 menit Viva

Sekilas Bursa Efek Indonesia Dalam Krisis Pandemi Global Ini

Indonesia menjadi salah satu negara yang terdampak menyebarkan wabah pandemi Covid-19. Wabah yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 ini menjadi salah satu wabah terbesar dan terbesar yang pernah dimiliki masyarakat modern. Namun, dampak yang dihadirkannya bukan hanya soal kesehatan, sosial, tetapi juga ekonomi, baik makro maupun mikro, baca lebih lanjut di sini tentang Bullish dan Bearish Di Dunia Saham, Komoditas, dan Valas. Tak ayal, pasar bursa Indonesia pun menjadi salah satu sektor yang terdampak dari wabah ini.

Kondisi bursa efek Indonesia di saat pandemi Covid-19

Setelah mengamati pergerakan atau dinamika pasar selama beberapa waktu terakhir, terlebih ketika wabah corona dipastikan telah masuk ke Indonesia, berbagai peneliti, termasuk pihak dari Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan analisis terkait dampak wabah ini terhadap sektor pasar bursa nasional. 

Di salah satu wawancara dengan pihak media nasional, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Inarno Djajadi, bahkan mengakui bahwa berdasarkan pengamatannya wabah ini memberikan dampak terhadap kinerja pasar modal di Indonesia. Dampak ini bisa dilihat dari terjadinya penurunan aktivitas transaksi saham yang dilakukan oleh para investor di bursa. Berdasarkan pengamatannya, jika dibandingkan dengan posisi pada penutup perdagangan di tahun 2019, transaksi saham di Bursa Efek Indonesia telah mencatatkan penurunan rata-rata transaksi harian di kisaran 24%. 

Tercatat dalam waktu kurang lebih 4 bulan sejak penutupan perdagangan tahun lalu, IHSG telah mengalami penurunan sebanyak 26.43% hingga mencapai titik 4.635. Sementara itu, kapitalisasi pasar juga tercatat mengalami penurunan sekitar 26% dengan hanya berhasil mencatatkan peraihan Rp 5.368 triliun. 

Dari segi rata-rata transaksi yang dilakukan setiap hari, BEI juga mencatatkan penurunan sebanyak 1.49% dengan hanya membukukan 462.000 transaksi. Hal ini selaras dengan penurunan nilai rata-rata aktivitas transaksi harian yang hanya mencatat Rp 6,34 triliun. 

Penurunan ini bisa dikaitkan dengan wabah corona yang terjadi di Indonesia karena waktu kejadiannya tidak jauh dari pengumuman pemerintah tentang kepastian dua kasus pertama Covid-19 di Indonesia. 

Harapan akan kebangkitan pasar modal Indonesia

Meski wabah corona telah menghampiri Indonesia dan memberikan dampak negatif terhadap pasar modal Tanah Air, namun bukan berarti fenomena ini tercatat sebagai penurunan terparah yang pernah dihadapi oleh pasar modal Tanah Air. Ternyata, kita dahulu pernah mengalami penurunan yang lebih parah hingga mencapai angka 50.6%. Peristiwa ini terjadi sebagai dampak krisis keuangan yang melanda seluruh dunia pada tahun 2008 silam. Penyebabnya dipercaya tidak jauh dari fenomena Subprime Mortgage yang terjadi di daratan negeri Paman Sam. 

Terjadinya penurunan memang sangat disayangkan karena berdampak negatif bagi perekonomian negeri kita, namun setidaknya pasar modal masih mencatatkan adanya transaksi berjalan. Dengan nilai transaksi Rp 7.9 per hari di Maret 2020, setidaknya masih terjadi peningkatan jika dibandingkan dengan dua bulan sebelumnya. 

Meski demikian, pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan harus mengawasi dinamika pasar modal di tengah krisis pandemi global ini. Salah satunya adalah efek penurunan yang juga terjadi di sektor industri. PT Astra Internasional Tbk dengan kode emiten ASII, misalnya, mencatatkan penurunan harga saham kurang lebih 40% jika dibandingkan dengan sebelum pandemi terjadi. 

Di samping itu, sektor keuangan juga tidak terlepas dari wabah ini dengan mencatatkan penurunan nilai kapitalisasi pasar sebesar kurang lebih Rp 700 triliun. Aktivitas net sell juga tidak luput mewarnai dinamika pasar modal Indonesia ketika terjadi wabah ini dengan angka transaksi di kisaran Rp 14 triliun. Selama 2 bulan terakhir, Bursa Efek Indonesia bahkan mencatat terjadinya penarikan dana asing yang cukup besar. Kondisi ini seharusnya mengisyaratkan perlunya pengawasan yang ketat terhadap pasar modal Indonesia agar tidak mengalami penurunan lebih mendalam, seperti yang terjadi di berbagai negara. 

Dengan besarnya kecenderungan investor untuk melakukan aksi jual, kondisi ini bisa memancing penurunan yang lebih besar pada pasar modal nasional. Oleh karenanya, pemerintah perlu memastikan penanganan wabah ini dilakukan dengan tepat dan efektif guna memitigasi seluruh risiko.